Archive for the Sahabat Category

Maafkanlah Aku, Kawan…

Posted in Sahabat on Maret 1, 2009 by riy4nti

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang menampar temannya, orang yang kena tampar merasa sakit hati, tapi tanpa berkata, dia menulis di atas pasir “HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU”. Mereka terus berjalan sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis disebuah batu “HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU”. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya : “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir dan sekarang kamu menulis di atas batu?” Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin hangat datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut, dan bila sesuatu luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di batu hati kita, agar selalu abadi”.

Cerita ini bagaimana pun juga tentu saja lebih mudah dibaca dibandingkan diterapkan. Begitu mudahnya kita menghancurkan hubungan persahabatan hanya karena sakit hati atas sebuah perbuatan yang tidak begitu keterlaluan. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibandingkan begitu banyak kebaikan. Untuk menjaga kebaikan, seseorang pernah memberi tahu saya, ketika kita sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu, bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit hati yang sama seperti yang dia rasakan, bisa juga karena salah menafsirkan perkataan teman kita dan bisa jadi kita tersinggung oleh gurauan teman kita. Namun demikian, orang-orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk selalu memaafkan kesalahan saudaranya yang lain, beliau mengajari kami untuk ‘menyerahkan’ sakit hati itu kepada Allah dengan membaca do’a “Ya, Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami, Ya Allah ampuni kesalahan-kesalahan saudara kami yang pernah menyakiti hati kami.” Bukankah Rasulullah pernah bersabda, “Tiga hal dari akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi orang yang berbuat kikir kepadamu dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.” Karena itu saudara-saudaraku mungkin aku telah menyakiti hatimu apapun itu alasannya, namun dengan izin-Nya aku berusaha memaafkanmu, tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkanku. Sungguh, dosa-dosaku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku. Jika kalian tidak sanggup mendo’akan aku agar ‘ada’ dihadapan-Nya, maka ikhlaskanlah segala kesalahanku, tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.

Arti Pentingnya Sahabat

Posted in Sahabat on Februari 28, 2009 by riy4nti

Pepatah mengatakan, “seribu orang sahabat masih kurang, sementara seorang musuh adalah terlalu banyak”. Dari pepatah ini mungkin kita akan mengatakan ternyata kita masih perlu mencari teman. Sehingga dalam syair Arab dikatakan “Jika kita ingin mengetahui seseorang jangan tanyakan langsung pada orangnya atau kita langsung melihat orangnya, tapi sebaliknya kamu lihat temannya, karena dapat dipastikan temannya itu akan membentuk perilaku seseorang tersebut”.

Sungguh senang dan bahagianya bila kita punya teman yang mampu mendorong dan memotivasi kita, memberikan arahan kepada kita dan selalu menasehati kita. Kita tidak mungkin hidup dan bertindak sendiri, kita butuh seseorang atau lebih teman.

Setiap kali kita menemukan seorang teman seperti itu, mungkin sehari-hari kita akan selalu didekatnya dan tindak ingin terpisah dari dia. Sehari saja tanpa bertukar pikiran dengan dia terasa hidup ini bagaikan tanpa arah. Tetapi pepatah mengatakan bahwa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, cepat atau lambat. Karena kita terlahir dan hidup di dunia ini diibaratkan sedang melakukan perjalanan dan pastinya kita akan pulang, yaitu menuju alam akhirat yang kekal. Kita boleh bersedih dan meneteskan air mata ketika kehilangan teman, namun tidak boleh berlarut-larut. Kita harus menjalankan segala pesan yang disampaikannya untuk selalu semangat dan tidak boleh putus asa.

Memilih Sahabat

Posted in Sahabat on Oktober 15, 2008 by riy4nti

Yang tak kalah penting untuk menghindari “nasib” seperti ini adalah, tentu saja, dengan memilih jenis orang yang Anda jadikan sahabat.

Islam sudah memberikan batasan-batasan yang jelas dalam hal pertemanan ini. Mengapa?? Karena teman memiliki pengaruh yang besar sekali. Rasulullah bersabda, “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Maka Rasulullah mengingatkan agar kita hati-hati dalam memilih teman. Terutama harus mengenali kualitas agama dan akhlak teman. Bertemanlah dengan mereka yang berjalan dengan tuntunan Allah, misalnya, teman yang memelihara kehormatan dan auratnya, yang amanah, yang berkata baik.

Rasulullah SAW bersabda, “Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. AHmad dihasankan oleh al-Albani).

Termasuk larangan berteman dengan orang yang berbuat dosa-dosa besar dan ahli maksiat, dan jangan pula mendekati teman yang kafir dan munafik.

Namun tentu bukan berarti ANda tidak boleh bergaul dalam kegiatan yang sifatnya umum seperti bertetangga dan jual beli. Maka hukumnya termasuk dalam hukum muamalah, artinya, boleh bermuamalah dengan siapa saja, Muslim maupun non-Muslim.

Cinta Karena Allah

Persahabatan yang menjamin dunia dan akhirat adalah persahabatan yang dijalin semata-mata karena Allah. Jadi bukan semata-mata untuk mendapatkan materi, jabatan ataupun kenikmatan dunia lainnya. INgatlah, bahwa pershabatan yang dijalin semata-mata untuk kepentingan dunia, sifatnya hanya sementara. BIla masing-masing sudah tidak bisa mendapatkan keuntungan dunia lagi, dapat dipastikan putuslah hubungan persahabatan itu.

Berbeda bila persahabatan dijalin dengan tujuan hanya untuk mendapat ridho Allah. Maka persahabatan seperti ini akan mendapatkan akhirat sekaligus keuntungan dunia. Dan persahabatan semacam ini pula yang kelak pada Hari Kiamat akan mendapat janji Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku.'” (HR. Muslim)

Dari Mu’adz bin Jabalzia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan saling berkunjung karena Aku dan saling berkorban karena Aku.'” (HR. Ahmad)

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits Abu HUrairah ra, diceritakan, “Dahulu ada seorang laki-laki yang berkunjung kepada saudara (temannya) di desa lain. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Kemana Anda hendak pergi?? Saya akan mengunjungi teman saya di desa ini’ jawabnya, ‘Adakah suatu kenikmatan yang Anda harap darinya??’ ‘Tidak ada, selain bahwa saya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla’, jawabnya. Maka orang yang bertanya ini mengaku, “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu karena Dia.””

Ungkapkan Cinta Karena Allah

Anas ra. meriwayatkan, “Ada seorang laki-laki di sisi Nabi SAW. Tiba-tiba ada sahabat lain yang berlalu. Laki-laki tersebut lalu berkata, “Ya Rasulullah, sungguh saya mencintai orang itu (karena Allah)””. Maka Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?” “Belum”, jawab laki-laki itu. Nabi bersabda, “Maka bangkit dan beritahukanlah padanya, niscaya akan mengokohkan kasih sayang diantara kalian.” Lalu ia bangkit dan memberitahukan, “Sungguh saya mencintai Anda karena Allah.” Maka orang ini berkata, “Semoga Allah mencintaimu, yang engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).

Bagi persahabatan yang semata-mata mencari ridha Allah, maka yang harus diperhatikan adalah hal yang harus diperhatikan oleh orang yang saling mencintai karena Allah adalah terus melakukan evaluasi diri dari waktu ke waktu. Cobalah cermati, apakah persahabatan ini sudah dikotori oleh kecintaan kepada hal-hal yang bersifat duniawi??

Lemah Lembut, Bermuka Manis dan Saling Memberi Hadiah

Tersenyumlah, Anda tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tersenyum. Tapi tahukah Anda, dengan tersenyum dengan setulus hati saja, berarti Anda sudah mendapatkan pahala. Maka, meski tidak mampu memberikan apapun secara materi, hati sahabat akan merasa tentram melihat wajah Anda yang penuh senyum.

Rasulullah SAW bersabda, “Jangan sepelekan kebaikan sekecil apapun, meski hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Dalam sebuah hadits riwayat Aisyah RA disebutkan, bahwasanya “Allah mencintai kelemah-lembutan dalam segala sesuatu.” (HR. Al-Bukhari). Dalam hadits lain riwayat Muslim disebutkan “Bahwa Allah itu Maha Lemah-Lembut, senang kepada kelembutan. Ia memberikan kepada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada kekerasan, juga tidak diberikan kepada selainnya.” Hal lain yang mampu melanggengkan kasih sayang diantara sahabat adalah saling memberi hadiah. Jangan lihat nilai dari hadiah tersebut, yang penting keikhlasan Anda memberikan hadiah tersebut, yang dapat terlihat dari wajah Anda yang berseri-seri saat bertemu dengan sahabat. Rasulullah SAW bersabda, “Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang kedengkian. Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai dan hilang (dari kalian) kebencian.” (HR. Imam Malik).

Saling Memberi Nasihat

Prinsip tolong menolong dalam Islam bukan berdasarkan permintaan dan keinginan hawa nafsu. Melainkan berdasarkan niat untuk menunjukkan dan memberi kebaikan, menjelaskan kebenaran dan tidak pernah menipu serta berbasa-basi dengan mereka dalam urusan agama Allah. Termasuk di dalamnya adalah amar ma’ruf nahi munkar, meskipun bertentangan dengan keinginan teman. Jangan terkecoh oleh keinginan untuk mengikuti saja keinginan teman/sahabat berdasarkan alasan solidaritas atau basa basi atas nama persahabatan. Tujuannya supaya persahabatan tidak putus atau Anda ditinggalkan oleh teman/sahabat. Yang seperti itu bukanlah persahabatan gaya Islam.

Berlapang Dada dan Berbaik Sangka

Lapang dada menjadi salah satu sifat utama persahabatan untuk menciptakan perdamaian dan menciptakan ikatan persaudaraan. Orang yang berlapang dada adalah orang yang pandai memahami berbagai keadaan dan sikap orang lain, baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan. Ia tidak membalas kejahatan dan kedzaliman dengan kejahatan dan kedzaliman yang sejenis, juga tidak iri dan dengki kepada orang lain. Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin itu tidak punya siasat untuk kejahatan dan selalu (berakhlak) mulia, sedang orang yang fajir (tukang maksiat) adalah orang yang bersiasat untuk kejahatan dan buruk akhlaknya.” (HR. Tirmidzi, Al-Albani berkata “hasan”) Karena itu Nabi mengajarkan kita berdo’a : “Dan lucutilah kedengkian dalam hatiku.” (HR. Abu Daud, Al-Albani berkata “sahih”).

Maka belajarlah bersikap berbaik sangka kepada sesama teman. Sikap ini akan mengharmoniskan persahabatan dan menjauhi kemungkinan permusuhan. Yaitu, selaluu berfikir positif dan memaknai setiap sikap dan ucapan orang lain dengan persepsi dan gambaran yang baik, tidak ditafsirkan negatif. Nabi SAW bersabda, “Jauhilah oleh kalian berburuk sangka, karena buruk sangka adalah pembicaraan yang paling dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud berburuk sangka adalah dugaan yang tanpa dasar.

Menjaga Rahasia

Setiap orang tentu punya rahasia. Namanya juga rahasia, berarti bukan konsumsi publik alias jangan diceritakan kembali kepada khalayak ramai sehingga menjadi rahasia umum. Umumnya, rahasia akan diceritakan hanya kepada teman terdekat saja atau teman yang dipercayai. Anas ra. pernah diberi tahu tentang suatu rahasia oleh Nabi SAW. Anas ra. berkata, “Nabi SAW merahasiakan kepadaku suatu rahasia. Saya tidak menceritakan tentang rahasia itu kepada seorang pun setelah beliau (wafat). Ummu Sulaim pernah menanyakannya, tetapi aku tidak memberitahukannya.” (HR. Al-Bukhari).

Nah, teman dan saudara sejati adalah teman yang pandai menjaga rahasia temannya. Sebaliknya orang yang mudah saja membuka rahasia orang lain aalagi sahabatnya sendiri, berarti dia sudah berkhianat karena tidka mampu menjaga amanah yang diberikan kepadanya. Tidak bisa menjadi menjaga amanah adalah salah satu sifat orang munafik.

Ingatlah persahabatan yang dijalin semata-mata bertujuan untuk mendapatkan ridho Allah akan langgeng sepanjang masa. Karena mereka akan menjadi saudara yang saling mengasihi, saling membantu dan saling mengingatkan. Persahabatan itupun akan berlanjut hingga akhirat kelak. BUkanlah Allah berfirman, artinya : “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67).

Sahabat Kok Berkhianat???

Posted in Sahabat on September 21, 2008 by riy4nti

Kata orang, “kalau punya teman seperti itu, aku tidak perlu musuh!” Kalimat yang menggambarkan keperihan hati ini biasa dilontarkan orang yang pernah disakiti oleh orang terdekat. Misalnya, seseorang yang selama ini kita anggap sahabat, tempat kita mencurahkan isi hati.

Anda tidak perlu membaca tabloid atau menonton acara televisi infotainment dan kriminalitas untuk melihat betapa pengkhianatan dihadapi begitu banyak orang di sekitar kita. Jenis pnegkhianatan pun beragam – mulai dari urusan janji yang tak tepat hingga perusakan rumah tangga.

Agar tak terus menderita

Bila Anda menghadapi situasi pengkhianatan seperti ini, na’udzu billahi min dzalik, maka salah satu cara menghadapinya adalah dengan menyadari bahwa semuanya adalah musibah. Kehilangan orang yang kita cintai, harta, tempat tinggal…Semua ujian yang harus dilalui dengan tabah dan tetap bergantung kepada pertolongan Allah SWT.

Kalau menurut seorang Kyai terkenal dari Jawa Barat, “siapa pun yang sekolah pasti akan diuji. Maka beruntunglah orang-orang. Maka beruntunglah orang-orang yang diuji oleh Allah dan mereka mampu melewati ujian tersebut dengan baik.”

Bagi orang taat, beragam kesulitan hidup, bencana alam, kelaparan dan sebagainya adalah ujian untuk menaikkan derajat sekaligus penggugur dosa-dosanya. Dari Abu Hurairah, Rasululloh SAW bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka diujinya ia dengan musibah”. Dalam hadits lain disabdakan pula, “Tiada sesuatu yang mengenai seorang Mukmin berupa penderitaan atau kelelahan (penat) atau risau hati dan pikiran, melainkan kesemuanya itu akan menjadi penebus dosanya” (HR. Bukhari Muslim).

Lain halnya bagi orang yang taat tetapi berlaku maksiat, musibah adalah peringatan agar ia kembali kepada Allah. Sedangkan bagi ahli maksiat, musibah adalah awal dari bencana yang lebih besar lagi (khususnya di akhirat).

Ada beberapa tips yang diberikan sejumlah orang bila dikhianati sahabat :

  • Tidak usah bersahabat lagi. Tinggalkan saja dan cari sahabat baru yang lebih baik. Berdo’alah kepada Allah untuk meminta hati yang baru, yang lebih cinta kepada Allah sehingga disakiti manusia bisa berkurang gigitannya.
  • Berdo’alah kepada Allah untuk meminta hati yang baru, yang lebih cinta kepada Allah sehingga disakiti manusia bisa berkurang gigitannya.
  • Jadikanlah Al-Qur’an penawar derita Anda. Dengan membacanya Anda bukan saja mendapatkan mendapatkan pahala, tetapi juga ketenangan dan kejernihan berpikir sehingga insya Allah bisa bertindak dengan efektif dalam menyikapi situasi ini.
  • Mintalah nasehat dan bantuan orang lain yang Anda percaya untuk mencari jalan keluar.