Archive for the Kisah Pahlawan Hebat Category

Abu Hurairah dan Syaitan

Posted in Kisah Pahlawan Hebat on Agustus 28, 2008 by riy4nti

Salah seorang sahabat Rasululloh, Abu Hurairah, diperintahkan untuk menjaga Baitulmal (Perbendaharaan Negara). Beberapa waktu kemudian, dia menangkap seorang pencuri yang habis mengambil sedikit makanan dari perbendaharaan itu.

Pencuri tersebut merayu Abu Hurairah supaya dilepaskan dengan alasan dia miskin dan mempunyai banyak anak. Lagi pula katanya, itu kesalahan pertamanya. Abu Hurairah pun merasa kasihan, lalu melepaskan pencuri tersebut sambil melarangnya melakukan kejahatan itu lagi.

Esok paginya, Abu Hurairah menghadap Rasululloh dan menceritakan peristiwa yang telah berlalu pada malam tadi. Rasululloh berkata, “Pencuri tersebut berbohong dan dia akan datang lagi pada malam esoknya.”

Pada malamnya Abu Hurairah meningkatkan penjagaan di sekitar Baitulmal. Ternyata si maling nekad datang lagi dan mencuri. Sekali lagi dia ditangkap. Kali ini Abu Hurairah beragak membawanya kepada Rasululloh. Sekali lagi si pencuri tersebut merayu agar dibebaskan karena katanya dia terpaksa mencuri karena miskin. Dia berjanji tidak akan melakukan lagi. Luluhlah hati Abu Hurairah dan dilepaskannya si pencuri.

Esoknya Abu Hurairah menceritakan sekali lagi kepada Rasululloh akan peristiwa itu. Rasululloh sekali lagi berkata bahwa pencuri tersebut juga berbohong dan akan datang lagi pada malam ini untuk mencuri.

Pada malamnya Abu Hurairah sekali lagi mengetatkan kawalan. Kali ini Abu Hurairah akan lebih berhati-hati. Setelah menunggu agak lama tampaklah bayang-bayang pencuri tersebut datang dan mencuri makanan dari Baitulmal. Abu Hurairah menangkapnya dan sekali lagi dia berusaha merayu agar dibebaskan.

Abu Hurairah berkata di dalam hatinya bahwa dia tidak akan memperdulikan rayuan pencuri tersebut serta menggenggam dengan kuat tangan pencuri tersebut. Menyadari keadaan ini pencuri tersebut berpikir keras, lalu katanya, “Maukah kamu aku ajari beberapa ayat yang sangat berguna??”

Kata Abu HUrairah, “Apakah ayat tersebut??”

Si Pencuri menjawab, “Bacalah Ayat KUrsi dari awal hingga akhir ayat sebelum kamu tidur niscaya kamu selamat dari gangguan syaitan sehingga pagi.”

Setelah mendengar kata-kata pencuri tadi, Abu Hurairah membebaskannya. Ketika keesokan paginya dia menceritakan kepada Rasululloh peristiwa itu, Rasululloh berkata, “Pencuri itu berkata benar walaupun ia adalah pendusta.”

Lalu kata Rasululloh, “Tahukah kamu siapa pencuri tersebut??? Itu adalah syaitan.”

Kisah Ali bin Abi Thalib dengan Orang Nasrani

Posted in Kisah Pahlawan Hebat on Agustus 27, 2008 by riy4nti

Suatu hari Ali tergesa-gesa untuk menunaikan sholat subuh berjama’ah dengan Rasululloh. Di tengah perjalanan ke masjid, SAidina Ali bertemu dengan orang tua bertongkat sedang berjalan dengan perlahan dan di tangannya memegang pelita untuk menerangi jalan yang gelap gulita.

Ali mengikuti saja langkah orang tua itu karena tidak ingin berjalan mendahului orang tua itu karena hormatnya. Setibanya di masjid, Ali bergegas masuk ke masjid dan menemukan Rasululloh sedang ruku’. Kali itu, ruku’ Rasululloh sungguh lama, tidak seperti biasa, seolah-olah menanti Ali turut serta sholat berjama’ah.

Setelah selesai sholat, Ali bertanya, “Ya Rasululloh, kenapakah engkau memanjangkan ruku’ pada kali ini, belum pernah engkau lakukan sebelum ini.”

Jawab Rasululloh : “Semasa aku ruku’, dan ketika aku hendak i’tidal, tiba-tiba datang Malaikat Jibril dan menekan belakangku. Setelah lama menekan barulah aku dapat i’tidal.”

Mendengar itu, Ali pun menceritakan apa yang terjadi semasa perjalanannya ke masjid tadi. Rupa-rupanya Allah telah mengisyaratkan kepada Rasululloh supaya menanti agar Ali dapat ikut serta berjama’ah. Ali dapat dapat sholat subuh berjama’ah bersama-sama Rasululloh karena sikapnya yang merendah diri dan menghormati orang tua Nasrani itu.

Khalifah Umar Bin Al-Khattab dengan Si Nenek

Posted in Kisah Pahlawan Hebat on Agustus 27, 2008 by riy4nti

Suatu hari, Khalifah Umar Al-Khattab berjalan-jalan meninjau kawasannya untuk melihat keadaan rakyat jelata dan mengetahui sendiri penderitaan mereka. Dia menuju sebuah pondok buruk yang didiami seorang nenek.

Umar menyamar sebagai orang biasa. Dia memberi salam dan berkata, “Adakah nenek mendengar apa-apa berita tntang Umar?”

Jawab nenek itu, “Kabarnya Umar baru saja pulang dengan selamar dari Suriah.”

Kata Khalifah lagi, “Apa pendapat Nenek tentang khalifah kita itu??”

“Semoga Allah tidak memberi ganjaran baik kepadanya.”

Umar terkejut. “Kenapa berkata begitu?”

Jawab Nenek, “Dia sangat jauh dari rakyatnya. Semenjak menjadi khalifah dia belum pernah menjenguk pondok aku ini apalagi memberi uang.”

Jawab Uma, “Bagaimana mungkin dia mengetahui keadaan nenek sedangkan tempat ini jauh terpencil.”

Nenek mengeluh dan berkata , “Subhanallah! Mana boleh seorang khalifah tidak mengetahui keadaan rakyatnya dimana pun mereka berada.”

Khalifah Umar tersentak lalu berkata di dalam hatinya “Celakalah aku karena semura orang dan nenek ini pun mengetahui perihal diriku.” Umar lalu meneteskan air mata, dan berkata kepada si nenek: “Kalau kedzaliman Umar ini bisa ditebus dengan uang, berapakah Nenek hendak menjualnya?? Saya kasihan kalau Umar mati nanti akan masuk neraka. Itu pun kalau nenek mau menjualnya.”

Ganti si Nenek yang tersentak, “Jangan bergurau dengan aku yang sudah tua ini.”

“Saya tidak bergurau. Saya akan menebus dosa Umar. Maukah Nenek menerima 25 dinar sebagai harga kedzalimannya terhadap Nenek??”

“Terima kasih nak, baik benar budimu”, jawab si Nenek sambil mengambil uang itu. Pada saat itulah Ali Abu Thalib bersama Abdullah bin Mas’ud lalu di kawasan itu. Mereka menyapa Umar, “Assalamu’alaikum ya Amirul Mukminin.”

Kini tahulah si Nenek bahwa tamunya adalah sang khalifah sendiri. “Masya Allah, maafkanlah kelancangan Nenek tadi ya Amirul Mukminin. Nenek telah memaki Khalifah Umar!”

“Tak apa Nek, mudah-mudahan Allah ridha kepada Nenek,” sahut Umar yang lalu membuka bajunya dan menuliskan keterangan berikut di atasnya :

“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan ini Umar telah menebus dosanya atas kedzalimannya terhadap seorang Nenek yang merasa dirinya didzalimi oleh Umar, semenjak menjadi khalifah sehingga ditebusnya dosa itu dengan 25 dinar. Dengan ini jika perempuan ini mendakwa Umar di hari Mahsyar, maka Umar sudah bebas dan tidak bersangkut paut lagi.”

Pernyataan tersebut ditandatanganioleh Ali bin Abu THalib dan disaksikan oleh Abdullah bin Mas’ud. Baju tersebut diserahkan kepada Abdullah bin Mas’ud seraya berkata, “Simpanlah baju ini dan jika aku mati masukkan kedalam kain kafanku untuk dibawa menghadap Allah SWT nanti.”

Abu Bakar As-Shidiq, Orang Paling Berani

Posted in Kisah Pahlawan Hebat on Agustus 27, 2008 by riy4nti

“Pada suatu hari salah seorang sahabat Rasululloh SAW yang utama, ALi bin Abi THalib, pernah berkhutbah di hadapan Kaum Muslimin. Dia bertanya, ‘Hai kaum Muslimin, menurut kalian, siapakah orang yang paling pemberani??'”

Jawab mereka, “Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin.”

Kata Ali, “Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami membuatkan Nabi pondok di medan Badar, kami tanyakan siapakah yang berani menemani Rasululloh SAW dalam pondok itu dan menjaganya dari serangan kaum musyrik?? Tiada seorang pun yang bersedia melainkan Abu Bakar sendiri. Beliau menghunus pedangnya dihadapan Nabi untuk membunuh siapa saja yang mendekati pondok Nabi. Itulah orang yang paling berani.”

“Suatu hari pernah aku menyaksikan Nabi berjalan kaki di kota Mekkah. Datanglah seorang musyrik menghalau dan menyakiti beliau seraya berkata, ‘Apakah kamu menjadikan beberapa Tuhan menjadi satu Tuhan?’ Tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul mereka sambil berkata, ‘Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah?'”

Kemudian Ali berkata, “Adakah orang yang beriman dari kaum Firaun yang lebih baik daripada ABu Bakar?”

Semua jama’ah diam saja tidak ada yang menjawab. Jawan Ali selanjutnya, “Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Firaun, karena orang yang beriman dari kaum Firaun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya.”

Khaitsamah Berebut Syurga dengan Anaknya

Posted in Kisah Pahlawan Hebat on Agustus 24, 2008 by riy4nti

Ketika Rasululloh SAW memanggil kaum Muslimin yang mampu berperang untuk terjun ke gelanggang perang Badar, terjadi dialog menarik antara Saad bin Khaitsamah dengan ayahnya Khaitsamah.

Dalam masa-masa itu panggilan seperti itu tidak terlalu mengherankan. Kaum Muslimin sudah tidak merasa asing bila dipanggil untuk membela agama Allah dan jihad fisabilillah. Sebab itu Khaitsamah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan keluar untuk berperang dan kau tinggal di rumah menjaga wanita dan anak-anak.”

Saad menolak, “Wahai ayahku, demi Allah janganlah berbuat seperti itu, karena keinginanku untuk memerangi mereka lebih besar daripada keinginanmu. Engkau lebih berkepentingan untuk tinggal di rumah, maka izinkanlah aku keluar dan tinggallah engkau di sini wahai ayahku.”

Khaitsamah pun marah dan berkata kepada anaknya, “Kau membangkang dan tidak mentaati perintahku.”

Saat menjawab, “Allah mewajibkan aku berjihad dan Rasululloh memanggilku untuk berangkat berperang. Sedangkan engkau meminta sesuatu yang lain padaku, sehingga bagaimana engkau rela melihat aku taat padamu tetapi aku menentang Allah dan Rasululloh.”

Maka Khaitsamah berkata, “Wahai anakku, apabila diantara kita harus ada yang berangkat satu orang entah kau ataupun aku, maka dahulukan aku untuk berangkat.”

Saad menjawab, “Demi Allah wahai ayahku, kalau bukan masalah syurga, maka aku akan mendahulukanmu.”

Khaitsamah tidak mau mengalah. Akhirnya mereka mengundi diri agar lebih adil. Hasilnya? Saad yang menang. Dia pergi ke medan Perang Badar, dan mati syahid.

Khaitsamah pun berangkat menuju medan pertempuran. Tetapi Rasululloh tidak mengizinkannya. Khaitsamah berkata sambil menangis, “Wahai Rasululloh, aku ingin sekali terjun dalam Perang Badar. Lantaran inginnya aku sampai harus mengadakan undian dengan anakku. Tetapin itu dimenangkannya sehingga dia yang mendapat mati syahid. Kemarin aku bermimpi bertemu dengan anakku. Dia berkata kepadaku ‘Engkau harus menemani kami di syurga, dan aku telah menerima janji Allah.’ Wahai Rasululloh, demi Allah aku rindu untuk menemaninya di syurga. Usiaku telah lanjut dan aku ingin berjumpa dengan Tuhanku.”

Setelah diizinkan Rasululloh, Khaitsamah bertempur hingga mati syahid dan berjumpa dengan anaknya di syurga.