Archive for the Fiqih Category

Ber-Qurban

Posted in Fiqih on November 18, 2008 by riy4nti

Kurban adalah binatang yang disembelih guna ibadat kepada Allah pada hari raya haji dan tiga hari tasyrik setelahnya (11, 12, 13 Dzulhijjah). Adapun hukum berkurban menurut sebagian ulama bahwa kurban itu adalah wajib, sebagian yang lain mengatakan kurban itu sunnah.

Alasan yang berpendapat wajib adalah :

Firman Allah yang artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberi engkau (ya Muhammad) akan kebajikan yang banyak. Sebab itu sholatlah (pada hari raya haji) karena Allah dan sembelihlah kurban.” (QS. Al- Kautsar : 1-2).

Sabda Nabi MUhammad SAW yang artinya : Dari ABu HUrairah : ‘Rasulullah telah bersabda : “Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat sholat kami.”” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Alasan yang berpendapat sunnah adalah :

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : Saya disuruh menyembelih kurban dan kurban itu sunnah bagi kamu. (HR. Tirmidzi).

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : Diwajibkan kepadaku berkurban, dan tidak wajib atas kamu.

Binatang yang sah untuk kurban adalah yang tidak cacat, seperti pincang, sangat kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya, dan telah berumur sebagai berikut :

1. Domba yang telah berumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya.

2. Kambing yang telah berumur dua tahun lebih.

3. Unta yang telah berumur lima tahun lebih.

4. Sapi. kerbau, yang telah berumur dua tahun lebih.

Sabda Nabi Muhammad SAW :

Dari Barra’ bin ‘Azib : “Rasulullah SAW telah bersabda : ‘EMpat macam binatang yang tidak sah dijadikan kurban : rusak matanya, sakit, pincang, kurus yang tidak bergajih lagi'”. (HR. AHmad).

Waktu Penyembelihan Kurban

Waktu menyembelih kurban mulai dari matahari setinggi tombak pada Hari Raya Hajji sampai terbenam matahari tanggal 13 bulan Dzulhijjah.

Sabda Nabi Muhammad SAW :

“Barang siapa menyembelih kurban sebelum sholat Hari Raya Hajji, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barang siapa menyembelih kurban sesudah sholat Hari Raya dan dua khutbahnya, sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya dan ia telah menjalani aturan Islam” (HR. Muslim).

Yang dimaksud sholat Hari Raya dalam hadits tersebut adalah waktunya, bukan sholatnya karena mengerjakan sholat tidak menjadi syarat menyembelih kurban.

Sunnah Menyembelih

Di saat penyembelihan berlangsung maka disunnahkan beberapa hal, yaitu :

1. Membaca Bismillah.

2. Membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW.

3. Membaca takbir.

4. Berdo’a supaya kurban diterima oleh Allah.

5. Binatang yang disembelih itu hendaklah dihadapkan ke kiblat.

6. Memotong dua urat yang ada dikiri kanan leher supaya cepat mati.

7. Binatang yang panjang lehernya, sunnah disembelih dipangkal lehernya.

8. Binatang yang disembelih itu hendaknya digulingkan ke sebelah rusuknya yang kiri, supaya mudah disembelih.

9. DIhadapkan ke kiblat.

Sebagaimana Ulama berpendapat bahwa membaca Bismillah itu wajib dengan alasan FIrman Allah : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala, dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bahwasanya haram memakan binatang yang disembelih dengan nama selain nama Allah, namun Ulama yang mengatakan ‘bismillah’ itu sunnah, menyatakan bahwa ayat itu tidak menunjukkan wajibnya membaca ‘bismillah’, tetapi ayat itu hanya mengharamkan menyembelih dengan nama selain nama Allah, berarti dengan diam tidak menyebut sesuatu nama apapun tidak ada halangan.

Adapun rukun menyembelih adalah penyembelih hendaklah orang Islam atau ahli KItab yang disembelih adalah binatang yang halal, dan dengan menggunakan alat pemotong.

Iklan

Ukuran Tentang Kualitas Akhlaq

Posted in Fiqih on Oktober 28, 2008 by riy4nti

Apa sich yang menjadi ukuran tentang kualitas akhlaq ? Apakah dilihat dari sholatnya, atau sikap kesehariannya. Soalnya orang pernah bilang jangan melihat seseorang itu dari sholatnya saja sebab ada orang yang rajin sholat tapi masih juga menyakiti orang lain atau bahkan cuek dengan alam sekitar. Jadi, gimana donk ukurannya?

Syakhsiyah Islam atau kepribadian Islam itu bisa distandarisasi berdasar dua sisi utama, yaitu internal dan eksternal. Kedua sisi penilaian standarisari kepribadian Islam ini sifatnya terpadu dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Dia ibarat dua mata logam dimana yang satu selalu mengiringi yang lainnya.

1. Internal

Dari sisi internal yang menjadi standart penilaian kepribadian muslim adalah :

a. Pola pikir atau fikrah

Pola pikir adalah kontrol pertama dari seorang muslim dan inti dari aqidah Islam. Seorang muslim hendaknya memiliki konsep dan pandangan bahwa Islam adalah sebuah manhajul hayah atau pedoman hidup. Islam itu bersifat syamil mutakamil menyangkut semua sisi dan aspek kehidupan. Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan selain Islam itu batil. Islam adalah ukuran kebenaran setiap masalah baik pribadi, keluarga, masyarakat, ekonomi, politik, budaya, hukum dan lainnya.

b. Motivasi

Sosok pribadi muslim adalah orang yang setiap gerak gerik dan aktifitasnya berangkat dari motivasi ke-Islaman. Motivasi ini sedemikian kuat sehingga mampu mengalahkan segala jenis halangan dan tantangan. Juga motivasi ini mampu membangun jiwa yang siap untuk berkurban baik pikiran, waktu, harta maupun jiwa sekalipun.

c. Selera

Sosok pribadi muslim selalu memiliki selera yang Islami yang datang dari cita rasa bentukan dari sistem Islam. Cita rasa ini terbentuk dari hasil pemahaman atas syariat Islam yang benar dan shahih. Sehingga semua bentuk aktifitasnya secara psikologis selalu menyesuaikan diri dengan garis-garis Islam dan tujuan-tujuannya. Dan sebaliknya, segala yang berbau non Islam secara psikologis akan termuntahkan dengan sendirinya, karena tidak cocok dengan jiwa ke-Islam-an yang telah terbentuk dengan baik.

d. Sikap

Sosok pribadi muslim memiliki sikap yang selalu bercermin kepada aplikasi syariat Islam.

e. Aktifitas

Aktifitas selalu sesuai dengan garis-garis besar Islam yang berasaskan kepada nilai-nilai Ilahiyah. Aktifitas seorang muslim tidak pernah melanggar ketentuan syar`i, tidak pernah mendzalimi, merugikan, merusak, mencelakakan orang lain. Dan sebaliknya selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

2. Eksternal

a. Penampilan

Seorang muslim tidak berhenti pada konsep diri secara internal, tapi juga mengejawantah dalam bentuk penampilan. Dari segi fisik, penampilannya selalu mengacu kepada aturan Islam. Pakaian yang memenui syarat Islam, tata busana dan make up yang sesuai dan selaras dengan nafas Islam. Tata rumah pun tidak melanggar garis syariah dengan tidak memasukkan hal-hal yang mungkar di dalamnya seperti patung, gambar buruk, benda-benda musyrik dan seterusnya.

b. Gaya Hidup

Gaya hidup / life syle yang dijalankan tidak menjadi budak konsumen pola orang-orang kafir yang permisif dan hedonis. Sosok pribadi muslim tidak mungkin bergaul bercampur baur dengan wanita non mahram, kencan atau zina. Juga tidak minum khamar, narkoba, berjudi, maling, membungakan uang (riba) dan memakan harta yang haram. Juga tidak terpengaruh dengan pergaulan (seks) bebas. Pribadi muslim selalu terikat dengan nilai moral dan nilai Islami, menghormati orang tua, menolong yang kecil dan berlaku adil.

Jadi tidak mungkin membuat standar penilaian hanya semata-mata melihat gerakan shalat seseorang, karena bisa saja seseorang memiliki gerakan shalat yang kelihatan menarik dan bagus, tapi ada sisi lain yang tidak tercover dengan baik.

Memang seharusnya kebagusan shalat seseorang merupakan cerminan dari kebaikan kualitas ke-Islam-an seseorang. Tapi kebagusan shalat tidak dilihat dari gerakan fisik sepintas saja.

Wallahu a`lam bis-shawab..

Perbedaan Laki-laki dan Perempuan Dalam Sholat

Posted in Fiqih on Juli 29, 2008 by riy4nti

Perbedaan laki-laki dan perempuan tidak hanya dalam tindakan sehari-hari saja, tapi dalam ibadah sholat pun tindakan kedua insan ini berbeda. Sehingga tindakan rukun sholat tidak seluruhnya sama antara laki-laki dan perempuan. Keadaan seperti ini tidak mengurangi pahala sholat antara keduanya.

Adapun ketentuan tindakan dalam sholat tersebut adalah :

  1. Ketentuan tindakan sholat bagi laki-laki

    Ketentuan tindakan sholat bagi laki-laki yang berbeda dengan tindakan sholat bagi perempuan terletak pada 4 hal, yaitu :

    – Bagi laki-laki dalam melaksanakan tindakan sholat yang berupa sujud itu memiliki ketentuan sehingga antara siku dan sisi tubuh itu tidak saling menempel.

    – Bagi laki-laki dalam melaksanakan sujud dan ruku’ diharapkan mengangkat perut di atas posisi pahanya. Dan didalam ruku’ juga laki-laki diharapkan untuk meratakan punggung dan lehernya dengan merenggangkan kedua tangannya dilutut seolah-olah jika ditaruh sebuah air dalam gelas, maka tidak akan tumpah. Dan betisnya pun diharapkan rata dan jangan sekali-kali mendongakkan kepala ketika melakukan sujud dan ruku’, karena hal itu sama halnya anjing.

    Sebagaimana dalam riwayat Siti ‘Aisyah :

    Bahwasanya Rasululloh SAW melakukan hal tersebut, adapun bagi perempuan hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Karena hal itu lebih dapat menutupi, sementara bagi laki-laki hendaknya menjauhkan (merenggangkan) kedua sikunya dari dua sisi tubuh ketika waktu sujud. Dalam Shohih Bukhori dan Muslim disebutkan bahwasanya Rasululloh ketika melakukan sujud merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih-putih kedua ketiaknya.”

    – Bagi laki-laki diharapkan untuk mengeraskan suaranya dalam setiap bacaan sholat yang memang dikeraskan (sholat maghrib, isya’, shubuh) baik ada dihadapan makmum perempuan maupun tidak.

    – Bagi laki-laki diharapkan untuk mengucapkan tasbih ketika imam melakukan kesalahan dalam sholat karena lupa sebagai bentuk peringatan, atau pemberitahuan kepada imam dengan niat berdzikir atau dengan niat berdzikir beserta memberitahu imam, tapi kalau hanya berniat memberitahu imam saja maka sholatnya bisa dianggap batal, karena mengucapkan lebih dari dua huruf. Sebagaimana dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim :

    Barang siapa yang melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca tasbih karena ketika seseorang itu bertasbih maka ia diingatkan, sementara bertepuk tangan adalah untuk perempuan. Dalam riwayat Bukhori disebutkan bahwa arang siapa melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca Subhanallah”

  2. Ketentuan tindakan sholat bagi perempuan

    Ketentuan tindakan sholat bagi perempuan yang berbeda dengan tindakan sholat laki-laki terletak pada 4 hal juga, yaitu :

    – Bagi perempuan dalam melaksanakan tindakan sholat yang berupa yang berupa sujud itu memiliki ketentuan bahwa siku kedua tangannya diharapkan dikumpulkan (nempel) dengan kedua sisi tubuh (lambung), sehingga antara siku dan sisi tubuh itu tidak saling merenggang dan menjauh.

    – Bagi perempuan dalam melaksanakan sujud dan ruku’ diharapkan tidak mengangkat perut di atas posisi pahanya. Dan didalam ruku’ juga perempuan diharapkan untuk meratakan punggung dan lehernya serta merapatkan kedua tangannya, kaki aak rapat. Dan betisnya pun diharapkan rata, dan jangan sekali-kali mendongakkan kepala ketika melakukan sujud dna ruku’ karena hal itu sama halnya anjing. Sebagaimana dalam riwayat Siti ‘Aisyah :

    Bahwasanya Rasululloh SAW melakukan hal tersebut, adapun bagi perempuan hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Karena hal itu lebih dapat menutupi, sementara bagi laki-laki hendaknya menjauhkan (merenggangkan) kedua sikunya dari dua sisi tubuh ketika waktu sujud. Dalam Shohih Bukhori dan Muslim disebutkan bahwasanya Rasululloh ketika melakukan sujud merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih-putih kedua ketiaknya.

    – Bagi perempuan diharapkan untuk tidak mengeraskan suaranya dalam setiap bacaan sholat yang memang dikeraskan (sholat maghrib, isya’, shubuh) dihadapan laki-laki lain, kalau misalkan sholat sendirian dan tidak ada laki-laki lain maka tidaklah mengapa untuk mengeraskan suaranya. Karena ada sebagian ulama’ yang mengatakan bahwa suara perempuan adlaah merupakan aurat.

    – Bagi perempuan diharapkan untuk bertepuk tangan dengan cara telapak tangan kanan memukul pada punggung tangan kiri (kalau tidak maka itu dianggap main-main dan dapat membatalkan sholat) ketika imam melakukan kesalahan dalam sholat karena lupa sebagai bentuk peringatan, atau pemberitahuan kepada imam. Sebagaimana dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim :

    Barang siapa yang melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca tasbih karena ketika seseorang itu bertasbih maka ia diingatkan, sementara bertepuk tangan adalah untuk perempuan. Dalam riwayat Bukhori disebutkan bahwa arang siapa melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca Subhanallah

Catatan :

Apabila seorang laki-laki melakukan tepuk tangan sedangkan perempuan mengucapkan tasbih maka tidaklah mengapa, akan tetapi hal ini menyalahi sunnah. Begitu juga bagi perempuan yang melakukan tepuk tangan dengan berkali-kali maka dianggap tidak mengapa dalam artian tidak sampai membatalkan sholat (Kalau mau bertepuk tangan maka harus sudah melakukan rukun).

Kiblat Ka’bah atau Jihatnya?????????

Posted in Fiqih on Juli 22, 2008 by riy4nti

Tidaklah ada perbedaan paham antara kaum muslimin, bahwa menghadap kiblat itu wajib untuk sahnya sholat, hanya perbedaan paham tentang apakah yang wajib dihadapi itu. Ka’bah itu betul ataukah cukup menghadap jihat (arah yang menuju) ka’bah???

Cara Menghadap Kiblat :

  1. Orang yang berada di Mekkah dan mungkin baginya untuk menghadap ka’bah, wajib atasnya menghadap ka’bah sungguh.

  2. Orang yang berada di lingkungan Masjid Nabi di Madinah (Nabawi), wajib menurut pada mihrab (mimbar) masjid itu, sebab mihrab masjid itu ditentukan oleh wahyu, dengan sendiri tepat menghadap ka’bah.

  3. Orang yang jauh dari ka’bah, sah baginya menghadap ke jihat (arah menuju) ka’bah.

Adapun dalil yang menunjukkan hal tersebut (Arah kiblat menuju kab’ah)adalah :

a. Al-Qur’an Surat Al-Baqoroh ayat 144 :

Artinya : “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maa hadapkanlah wajahmu ke arah masjidil haram. Dan dimana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi itab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Alloh tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”

b. Hadits Ibnu Umar, yang artinya : dari Ibnu Umar, ketika orang banyak sholat shubuh di masjid Quba, tiba-tiba datang seseorang kepada mereka, kata orang itu, sesungguhnya telah diturunkan kepada Nabi pada malam ini Al-Qur’an dan Beliau disuruh menghadap kiblat, maka hendaklah kamu menghadapnya, ketika itu mereka menghadap ke Syam (kiblat lama), lantas mereka menghadap ke ka’bah.

c. Karena menghadap jihat itulah yang mungkin baginya dna dengan kemungkinan itulah terletak hukum wajib (harus yakin bahwa jihat itu menghadap ka’bah).

d. Mereka mengakui sah sholat orang-orang yang tersebut di bawah ini :

  1. Sholat orang yang barisannya panjang dan berlipat ganda dari lintang ka’bah (wilayah ka’bah).

  2. Sholat orang di atas bukit menghadap ke lapangan di atas ka’bah.

  3. Sholat orang di atas tanah yang rendah menghadap ke bawah dari ka’bah.

Boleh tidaknya menghadap kiblat (Alasan tidak menghadap kiblat) pada beberapa keadaan di bawah ini :

  1. Ketika sangat takut sehingga tak dapat tetap menghadap kiblat, umpamanya dalam peperangan. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Al-Baqoroh ayat 239 :

    Artinya : “Jika kamu takut, maka bolehlah kamu sholat berjalan kaki atau berkendaraan”.

    Contoh : sholat khouf

    Menurut tafsir Ibnu Umar yang dimaksud dengan berjalan kaki atau berkendaraan adalah menghadap kiblat atau tidak menghadap kiblat.

  2. Orang yang dalam perjalanan di atas kendaraan, apabila sholat sunnah di atas kendaraannya itu, boleh menghadap ke arah tujuan perjalanannya, walaupun tidak menghadap kiblat sekalipun. Hanya diwajibkan menghadap kiblat sewaktu takbiratul ihram.

  3. Bila kiblat tidak diketahui, maka sebagaimana hadits yang artinya : “dari ‘Amir bin Rabi’ah : adalah kami bersama-sama Rasululloh pad amalam gelap gulita, kami tidak mengetahui dimana kiblat. Kami seholat menurut pendapat masing-masing. Setelah waktu shubuh kami beritahukan hal yang demikian kepada Nabi, maka ketika itu turunlah ayat (kemana saja kamu menghadap, maka disitulah arah yang disukai Alloh).”

SHOLAT JUM’AT

Posted in Fiqih on Juni 20, 2008 by riy4nti

Sholat Jum’at adalah sholat dua roka’at sesudah khutbah pada waktu dhuhur di hari Jum’at. Adapun hukumnya adlaah fardhu ‘ain artinya wajib atas setiap laki-laki yang dewasa yang beragama Islam, merdeka dan tetap di dalam negeri (di tanah kelahiran), sehingga tidak wajib Jum’at bagi perempuan, anak-anak, hamba sahaya, dan orang yang sedang dalam perjalanan.

Firman Alloh : Q.S. Surat Al-Jumu’ah : 9

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk sholat (mendengar adzan) pada hari Jum’at, maka hendaklah kamu segera mengingat Alloh (sholat Jum’at), dan tinggalkanlah jual beli”

Yang dimaksud jual beli adalah segala pekerjaan yang selain dari pada sholat.

Sabda Nabi Muhammad SAW :

Rasululloh Saw bersabda : Jum’at itu hak yang wajib dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam dengan berjama’ah, kecuali empat macam orang : hamba sahaya, perempuan, anak-anak, orang sakit.” (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Rasululloh bersabda : Hendaklah beberapa golongan berhenti dari meninggalkan Jum’at, kalau tidak, Alloh akan mencap hati mereka, kemudian mereka akan dimasukkan ke dalam golongan orang yang lalai.” (HR. Muslim).

Syarat-syarat Wajib Jum’at :

  1. Islam, tidak wajib Jum’at atas orang-orang yang bukan Islam.

  2. Baligh (dewasa), tidak wajib Jum’at atas anak-anak.

  3. Berakal, tidak wajib Jum’at atas orang gila.

  4. Sehat, tidak wajib Jum’at atas orang sakit atau berhalangan.

  5. Tetap di dalam negeri atau tanah kelahiran, tidak wajib Jum’at atas orang yang dalam perjalanan.

Syarat-syarat Mendirikan Jum’at :

  1. Hendaklah diadakan di dalam negeri yang tetap, yang telah dijadikan wathan, baik di kota-kota maupun di kampung-kampung, maka tidak sah mendirikan Jum’at di ladang, perkemahan yang penduduknya tinggal di sana untuk sementara waktu saja. Di masa Rosululloh Saw. dan di masa sahabat yang empat tidak pernah mendirikan Jum’at selain di negeri yang tetap.

  2. Berjama’ah, karena tidak pernah di masa Rosululloh sholat Jum’at dilakukan sendiri-sendiri. Sekurang-kurangnya bilangan jama’ahnya adlaah empat puluh orang laki-laki yang memiliki kriteria di atas dari penduduk negeri asli tempat diadakannya Jum’at. Namun ada pendapat sebagian Ulama’ yang mengatakan cukup dua orang saja. Karena sudah dianggap jama’ah. Namun yang masyhur adalah empat puluh jama’ah.

  3. Hendaklah dikerjakan diwaktu Dhuhur.

    Rosululloh Saw bersabda : “Sholat Jum’at ketika telah tergelincir matahari” (HR. Bukhori).

  4. Hendaklah sholat Jum’at itu didahului oleh dua khutbah.

    Dari Ibnu Umar : Rasululloh Saw berkhutbah dengan dua khutbah pada hari Jum’at sambil berdiri dna beliau duduk diantara dua khutbah itu. (HR. Bukhori dan Muslim).

Khutbah Jum’at :

Rukun dua khutbah Jum’at :

  1. Mengucapkan puji-pujian kepada Alloh (baca Hamdalah).

  2. Sholawat atas Rasululloh Saw, sebagian Ulama’ mengatakan tidak wajib.

  3. Mengucapkan syahadat (menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh).

    Rasululloh bersabda : “tiap-tiap khutbah yang tidak ada syahadatnya adalah seperti tangan yang terpotong” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

  4. Berwasiat (bernasihat) dengan taqwa dan mengajarkan apa-apa yang perlu kepada pendengar, sesuai dengan keadaan tempat dan waktu, baik urusan agama maupun urusan dunia, seperti ibadah, kesopanan, pergaulan, perekonomian, pertanian, siasat dan sebagainya serta bahasa yang dipahami oleh pendengarnya.

  5. Membaca ayat Al-Qur’an pada salah satu dari dua khutbah.

    Dari Jabir bin Samurah, katanya : Rasululloh Saw khutbah berdiri, beliau duduk diantara keduanya, lalu beliau membacakan beberapa ayat Al-Qur’an, memperingatkan dan menakuti atas siksa kepada manusia (HR. Muslim).

  6. Berdo’a untuk mukminin dan mukminat pada khutbah yang kedua, sebagian Ulama’ mengatakan tidak wajib.

Syarat-syarat Dua Khutbah :

  1. Hendaklah kedua khutbah itu dimulai sesudah tergelincirnya matahari.

  2. Sewaktu berkhutbah hendaklah berdiri jika mampu.

  3. Khotib hendaklah duduk diantara dua khutbah, sekurang-kurang berhenti sebentar sekedar waktu thuma’ninah dalam sholat.

  4. Hendaklah dengan suara yang keras, kira-kira terdengar oleh bilangan yang sah dalam jama’ah Jum’at karena tujuan khutbah adalah menasehati keempat puluh orang yang sah itu.

  5. Hendaklah berturut-turut, baik rukun, jarak kedua khutbah maupun antara keduanya dengan sholat.

  6. Khotib hendaklah suci dari hadats.

Sunnah yang bersangkutan dengan Khutbah :

  1. Hendaklah khutbah itu dilakukan di atas mimbar atau di tempat yang tinggi yang berada di sebelah kanan pengimaman.

  2. Khutbah itu diucapkan dengan kalimat yang fasih, terang, mudah dipahami, sederhana, tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek.

  3. Khotib hendaklah tetap saja menghadap kepada orang banyak, jangan berputar-putar.

  4. Membaca surat Al-Ikhlas sewaktu duduk diantara dua khutbah.

  5. Menertibkan tiga rukun khutbah. Yaitu dimulai dengan puji-pujian, kemudian sholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian berwasiat (bernasihat) selain itu tidak ada tertib.

  6. Pendengar hendaklah diam serta memperhatikan khutbah. Mayoritas Ulama’ mengatakan haram bercakap-cakap ketika mendengarkan khutbah.

    Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Saw telah bersabda : “apabila engkau katakan kepada temanmu pada hari Jum’at “diam” sewaktu imam berkhutbah, maka sesungguhnya telah binasalah Jum’atmu” (HR. Bukhori).

  7. Khotib hendaklah memberi salam.

  8. Khotib hendaklah duduk di atas mimbar sesudah salam. Dan sesudah duduk itulah adzan dilakukan.

Sunnah Jum’at :

  1. Disunnahkah mandi pada hari Jum’at bagi orang yang akan pergi ke masjid untuk sholat Jum’at.

  2. Berhias dengan memakai pakaian yang bagus dna lebih baik kain yang berwarna putih.

  3. Memakai harum-haruman.

    Barang siapa mandi pada hari Jum’at, memakai pakaian yang sebaiknya, memakai harum-haruman kalau ada, kemudian ia pergi mendatangi Jum’at dan di sana ia tidak melangkahi duduk manusia, kemudian ia sholat sunnah serta diam ketika imam keluar smapai selesai sholat, maka yang demikian itu akan menghapuskan dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at yang sebelumnya” (HR. Hibban dan Hakim).

  4. Bersegera pergi ke Jum’at dengan berjalan kaki.

  5. Memotong kuku, menggunting kumis.

    Rosululloh Saw memotong kuku dan menggunting kumisnya pada hari Jum’at sebelum beliau pergi sholat” (HR. Baihaqi dan Thabrani).

  6. Hendaklah ia membaca dzikir atau Al-Qur’an sebelum khutbah.

  7. Paling baik adalah membaca surat Kahfi.

    Barang siapa membaca surat Kahfi pada hari Jum’at, cahaya antara dua jum’at akan menyinarinya”. (HR. Hakim).

  8. Hendaklah memperbanyak do’a dan sholawat atas Nabi pada hari Jum’at dan pada malamnya.

    Hendaklah kamu memperbanyak membaca sholawat atasku pada malam dan hari jum’at, maka barang siapa yang membacakan satu sholawat atasku, Alloh akan memberinya berkah”. (HR. Baihaqi).

Udzur (Halangan) atau Alasan Dalam Jum’at :

Yang dimaksud adalah bahwa apabila ada beberapa udzur atau halangan dalam menjalankan jum’at maka ia tidak wajib sholat jum’at :

  1. Karena sakit.

  2. Karena hujan deras sehingga ia mendapat kesukaran untuk pergi ke jum’atan.

    Dari Ibnu Abbas, katanya kepada Muadzin pada hari penghujan : “apabila engkau berkata (dalam adzan), saya menyaksikan bahwa Muhammad Utusan Alloh”. Sesudah itu janganlah engkau katakan : “marilah sholat”. Maka katakan olehmu : sholatlah kamu di rumah kamu. “Kata Ibnu Abbas pula : seolah-olah orang banyak membantah yang demikian. Kemudian katanya pula : adakah kamu heran akan hal ini? Sesungguhnya hal ini telah diperbuat oleh orang yang lebih dari saya yaitu Nabi, sesungguhnya jum’at itu wajib, sedangkan saya tidak suka membiarkan kamu keluar jalan dilumpur dan tempat yang licin”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Adapun perempuan yang berniat ingin mengikuti jum’at maka dia dianggap sah sholatnya, namun perempuan tidak bisa menjadi makmum yang disyaratkan ada empat puluh itu, begitupun dengan pendatang dan anak-anak, mereka sah jum’atnya tapi tidak dapat memenuhi kriteria makmum yang dikehendaki.

SHOLAT QOSHOR DAN SHOLAT JAMA’

Posted in Fiqih on Juni 4, 2008 by riy4nti
  1. Sholat Qoshor

    Sholat Qoshor adalah sholat yang diringkas diantara sholat fardhu yang lima, yang mestinya dilakukan empat roka’at menjadi dua roka’at saja. Dengan demikian yang bisa diqoshor dari kelima sholat fardhu adalah hanya dhuhur, ashar dan isya’ sedangkan maghrib dan shubuh tidka bisa diqoshor, tetap dilakukan sempurna roka’atnya.

    Hukum sholat qoshor adalah boleh, bahkan lebih baik dilakukan bagi orang yang dalam perjalanan dengan memenuhi syarat-syaratnya. Sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 101 :

    Apabila kamu berjalan di muka bumi, maka tidak ada halangan bagi kamu mengqoshor (meringkas) sholat jika kamu takut dibinasakan oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kamu yang nyata”

    Dalam Hadits juga disebutkan :

    Telah bercerita Ya’la bin Umaiyah : “ saya telah berkata kepada Umar, Alloh berfirman “jika kamu takut”, sedangkan sekarang telah aman (tidka takut lagi), Umar menjawab, saya heran juga sebagai engkau, maka saya tanyakan kepada Rosululloh, dan Beliau menjawab : Sholat Qoshor itu sedekah yang diberikan Alloh kepada kamu, maka terimalah olehmu sedeah-Nya (pemberian-Nya)” (HR. Muslim)

    Dalam Hadits lain juga disebutkan :

    Dari Ibnu Mas’ud Ra berkata : Saya sholat bersama Nabi dua roka’at dua roka’at, sholat bersama Abu Bakar dua roka’at dua roka’at”.

    Ibnu Umar Ra berkata : Saya bepergian bersama Nabi, Abu Bakar, Umar. Mereka melaksanakan sholat dhuhur dan ashar dengan dua roka’at dua roka’at”.

    Syarat Sah Sholat Qoshor :

    a. Perjalanan yang dilakukan itu bukan maksiat (terlarang), adakalanya perjalanan wajib seperti pergi untuk melaksanakan haji atau perjalanan sunnah seperti pergi untuk bersilaturrahim, ziarah, atau juga perjalanan mubah seperti pergi untuk berdagang.

    b. Perjalanan itu berjarak jauh, yaitu terhitung kurang lebih sekitar 80,640 km atau lebih (perjalanan sehari semalam). Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa tidak disyaratkan perjalanan jauh, yang penting dalam perjalanan jauh ataupun dekat. Sebagaimana dalam hadits disebutkan :

    Dari Syu’bah, katanya : saya telah bertanya kepada Anas tentang mengqoshor sholat. Jawabannya : “Rosululloh SAW, apabila beliau berjalan tiga mil (80,640 km) atau tiga farsakh (kira-kira 25,92 km), beliau sholat dua roka’at” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)”.

    c. Sholat yang diqoshor adalah sholat yang adaan (tunai), bukan sholat qodho’. Adapun sholat yang ketinggalan diwaktu perjalanan boleh diqhosor kalau memang diqodho dalam perjalanan, tetapi sholat yang ketinggalan sewaktu mukim tidak boleh diqodho dengan qoshor sewaktu dalam perjalanan.

    d. Berniat qoshor ketika takbirotul ihram.

    e. Berniat sholat qoshor ketika berada di luar dari desanya.

  2. Sholat Jama’

    Hukum sholat jama’ ini diperkenankan bagi orang yang dalam perjalanan dengan syarat-syarat yang tersebut pada sholat qoshor.

    Sholat yang boleh dijama’ hanya antara dhuhur dengan ashar dan antara maghrib dengan isya’, adapun sholat shubuh tetap wajib dikerjakan pada waktu dan tanpa dikumpulkan dengan sholat yang lain.

    Sholat jama’ artinya sholat yang dikumpulkan. Yang dimaksudkan adalah dua sholat fardhu yang lima itu dikerjakan dalam satu waktu, umpamanya sholat dhuhur dan ashar dikerjakan diwaktu dhuhur atau diwaktu ashar.

    Sholat Jama’ ini terbagi atas dua macam dilihat dari pelaksanaan pengumpulan sholat tersebut.

    a. Sholat Jama’ Taqdim

    Jama’ taqdim adalah mengumpulkan dalam satu antara sholat dhuhur dengan ashar dilakukan pada waktu dhuhur (waktu sholat yang pertama), dan mengumpulkan dalam satu waktu antara sholat maghrib dan isya’ dilakukan pada waktu maghrib (waktu sholat yang pertama). Sebagaimana hadits Nabi :

    Dari Mu’adz bin Jabal Ra berkata : kami keluar bersama Nabi SAW dalam perang Ghozwah (perang yang dihadiri oleh Nabi), maka ketika itu Nabi SAW mengumpulkan sholat dhuhur dengan sholat ashar serta sholat maghrib dengan sholat isya’…”

    Adapun syarat jama’ taqdim ada 3 macam, yaitu :

    1. Diharuskan untuk mengerjakan sholat yang pertama, yaitu seperti mengumpulkan sholat dhuhur dan ashar dilakukan pada diwaktu dhuhur dengan cara mendahulukan sholat dhuhur daripada sholat ashar. Karena waktu tersebut adalah milik sholat yang pertama.

    2. Berniat jama’ pada takbirotul ihram sholat yang pertama atau ditengah-tengah sholat pertama (menurut qoul Adzhar). Jadi tidak diperkenankan berniat jama’ setelah salam sholat yang pertama.

    3. Kedua sholat yang dikumpulkan tersebut harus terus menerus (tidak dipisah), seolah-olah satu rangkaian sholat. Jadi begitu selesai selesai melakukan sholat yang pertama segera melakukan sholat yang kedua. Kalau sampai terpisah yang dianggap lama maka bisa dianggap tidak sah sholat jama’nya.

    b. Sholat Jama’ Ta’khir

    Jama’ Ta’khir adalah mengumpulkan dalam satu antara sholat dhuhur dengan ashar dilakukan pada waktu ashar (waktu sholat yang kedua), dan mengumpulkan dalam satu waktu antara sholat maghrib dan isya’ dilakukan pada waktu isya’ (waktu sholat yang kedua). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

    Dari Anas, ia berkata : “Rosululloh SAW apabila berangkat dalam perjalanan sebelum tergelincir matahari, maka beliau ta’khirkan sholat dhuhur ke waktu ashar, kemudian beliau turun (berhenti) untuk menjama’ keduanya (dhuhur dan ashar). Jika telah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, maka beliau sholat dhuhur dahulu kemudian baru beliau naik kendaraan” (HR. Bukhori dan Muslim)

    Dari Mu’adz : “bahwasanya Nabi SAW dalam peperangan tabuk, apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau ta’khirkan dhuhur hingga beliau sholat untuk keduanya (dhuhur dan ashar diwaktu ashar) dan apabila beliau berangkat sesudah tergelincir matahari, beliau kerjakan sholat dhuhur dan ashar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Apabila beliau berjalan sebelum maghrib, beliau ta’khirkan maghrib hingga beliau lakukan sholat maghrib beserta isya’, dan apabila beliau berangkat sesudah waktu maghrib beliau segerakan isya’, dan beliau sholatnya isya’ beserta maghrib” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

    Adapun Syarat Jama’ Ta’khir :

    1. Berniat di waktu sholat yang pertama bahwa ia akan melaksanakan sholat yang pertama itu diwaktu sholat yang kedua, supaya ada maksud yang keras akan melaksanakan sholat yang pertama itu di waktu yang kedua dan tidak ditinggalkan begitu saja.

    2. Tidak disyaratkan dalam pelaksanaan harus berurutan, dalam artian misalkan yang dijama’ ta’khir itu adalah sholat dhuhur dan ashar, maka bebas melaksanakannya apakah yang didahulukan sholat ashar ataukah sholat dhuhur dulu (dalam waktu luang), kalau waktunya mendekati pergantian sholat maka yang didahulukan adalah sholat yang mempunyai waktu itu.

    3. Menurut qoul tidak usah niat jama’ ketika dalam melaksanakan sholat karena sudah diniati.

    4. Tidak wajib untuk berturut-turut atau menyambung, jadi setelah melaksanakan satu sholat tidak disyaratkan untuk melaksanakan sholat kedua.

    Boleh pula melaksanakan sholat jama’ bagi orang yang menetap (tidak dalam perjalanan) dikarenakan hujan yang amat deras dengan beberapa syarat yang berlaku sama dengan syarat jama’ dalam waktu perjalanan. Namun ada beberapa syarat tambahan yang harus dipenuhi, yaitu :

    1. Disyaratkan hujannya berada diwaktu sholat yang pertama dan diawal sholat yang kedua.

    2. Sholat yang kedua itu berjamaah ditempat yang jauh dari rumahnya, serta ia mendapatkan kesukaran untuk pergi ke tempet itu karena hujan. (Bagi orang yang terbiasa sholat berjama’ah).

    3. Kondisi hujan dianggap deras ketika melakukan salam sholat yang pertama menurut qoul shohih. (Sholat jama’ taqdim).

    4. Disyaratkan hujan tersebut dapat membuat pakaiannya basah kuyup begitu juga sandalnya.

    Dan perlu diketahui pula bahwa sholat dhuhur pada hari jum’at diganti dengan sholat jum’at, maka dari itu hukum yang berlaku bagi sholat dhuhur yaitu boleh dijama’ baik taqdim ataupun ta’khir, berlaku pula bagi sholat jum’at. Dengan demikian sholat jum’at boleh dijama’ beserta sholat ashar.

SUJUD SAHWI

Posted in Fiqih on Mei 21, 2008 by riy4nti

SUJUD SAHWI

Sujud sahwi merupakan ibadah yang disyari’atkan untuk menyempurnakan hasil ibadah sholat. Baik itu sholat fardhu maupun sholat sunnah, adapun faktor yang menyebabkan dilakukannya sujud sahwi adalah diantaranya melakukan hal yang memang dilarang dalam sholat, seperti : menambah berdiri ruku’, sujud, duduk atau lainnya atas dasar lupa. Atau meninggalkan hal yang seharusnya dilakukan dalam sholat, seperti : meninggalkan ruku’, sujud, berdiri, duduk atau meninggalkan bacaan yang seharusnya dibaca dalam sholat. Maka dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukan dalam sholat.

Apabila makmum lupa dalam melakukan yang seharusnya dilakukan atau meninggalkan yang seharusnya ditinggalkan (tidak dilakukan) maka ia tidak melakukan sujud sahwi. Jadi ketika imam melakukan salam, maka makmum pun mengikuti salamnya imam, karena lupanya makmum dalam kondisi mengikuti imam. Sedangkan apabila makmum dalam posisi tasyahud meyakinkan bahwa ia lupa melakukan ruku’ atau fatihah, maka ketika imam salam, si makmum wajib menambah roka’at dan tidak usah melakukan sujud sahwi.

Cara dalam Melakukan Sujud Sahwi

Perlu diketahui sujud sahwi dilakukan sebelum kita melakukan salam. Pelaksanaannya sama seperti kita melakukan sujud, cuman bedanya anjuran bacaan tasbihnya berbeda, yaitu dianjurkan membaca tasbih Subhana man laa yanaamu wa laa yashuu. Artinya : “Maha Suci Dzat yang tidak pernah tidur dan lupa”.

Dan perlu diingat pula bahwa sujud sahwi dilakukan setelah kita menyelesaikan bacaan tasyahud, baru setelah itu melakukan 2 kali sujudan, setelah melakukan sujud maka langsung kita salam. Duduk tasyahud akhirnya pun dengan cara yang sama dilakukan pada saat tasyahud awwal yaitu duduk iftirasy.

Hal-hal yang menjadi kesalahan dalam melakukan sholat, tidak terlepas dari 3 hal berikut :

  1. Fardhu

    Apabila fardhu sholat ditinggalkan maka tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi, tapi apabila ingat sementara waktu masih memungkinkan maka harus ditebus dengan melakukan fardhu yang ditinggalkan itu dengan menambahkan roka’at, kemudian sebelum salam maka ia melakukan sujud sahwi. Apabila ragu-ragu dalam bilangan roka’at maka teruskan dengan keyakinan yaitu diteruskan dengan bilangan roka’at yang paling sedikit, walaupun ia sudah melakukan roka’at yang diteruskan itu. Kemudian menjelang salam melakukan sujud sahwi.

  2. Sunnah (Ab’ad)

    Apabila sunnah ab’ad ditinggalkan, maka tidak diperkenankan untuk mengulanginya diroka’at yang lain, melainkan diganti dengan sujud sahwi. Bentuk sunnah ab’ad dalam sholat ada 6 macam yaitu :

    a. Tasyahud Awwal

    b. Duduk dalam Tasyahud Awwal

    c. Qunnut dalam sholat shubuh dan qunut dalam sholat witir separuh akhir bulan Romadhon

    d. Berdiri dalam qunut

    e. Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW pada Tasyahud Awwal.

    f. Membaca sholawat kepada keluarga Nabi Muhammad SAW pada Tasyahud Akhir.

    Sehingga apabila meninggalkan tasyahud awwal dan kemudian ia berdiri atau mirip dengan berdiri maka tidak diperkenankan kembali lagi duduk untuk melakukan tasyahud awwal, lanjutkan berdirinya dan diganti dengan sujud sahwi. Kalau sampai ia kembali duduk dan ia pun tahu tentang ketentuan hukumnya maka sholatnya batal. Karena ia menambah duduk. Tapi kalau kembalinya karena lupa maka sholatnya tidak batal dan ia pun wajib kembali berdiri setelah ia iangat, kemudian menjelang salam melakukan sujud sahwi, tetapi apabila kembali duduknya disengaja namun ia tidak mengerti akan ketentuan hukumnya, maka sama dengan orang kembali duduknya karena lupa, dalam artian bahwa nenti menjelang salam melakukan sujud sahwi. Dan perlu diketahui pula bahwa ketentuan ini berlaku hanya untuk sholat sendirian atau imam, sedangkan bagi makmum ketika melihat imam hampir dianggap berdiri, maka tidak diperkenankan ia condong untuk melakukan tasyahud awwal, apabila sampai dilakukan maka sholatnya langsung dianggap batal, apabila makmum sudah berdiri tegak bersama imam, lalu kemudian imam kembali duduk untuk melakukan tasyahud awwal, maka bagi makmum tidak diperkenankan untuk kembali bersama imam, kalau kembalinya imam secara disengaja maka sholatnya imam batal. Sekarang apabila makmum masih dalam keadaan duduk dan imam sudah berdiri tegak, kemudian imam kembali duduk, maka wajib bagi makmum untuk berdiri karena yang akan dihadapi makmum adalah berdiri. Tapi kalau imam duduk melakukan tasyahud awwal, tiba-tiba makmum berdiri dikarenakan lupa maka menurut qaul Shohih wajib kembali mengikuti imam dalam artian makmum duduk untuk melakukan tasyahud awwal bersama imam, sehingga kalau makmum tidak mau kembali maka sholatnya bisa dianggap batal. Ketentuan ini berlaku bagi yang sudah terlanjur berdiri tegak. Tapi kalau berdirinya belum tgeak maka ada 2 pendapat, ada yang mengatakan kembali dan ada yang mengatakan tidak usah kembali lagi tapi diganti dengan sujud sahwi.

  3. Sunnah (Hai’ad)

    Apabila sunnah hai’ad ditingalkan maka kita tidak diperkenankan untuk kembali melakukannya, jadi ketika ditinggalkan maka kita lanjutkan untuk melakukan rukun sholat yang lainnya. Entah ditinggalkan secara disengaja maupun tidak disengaja. Karena sunnah hai’ad adalah bukan asal maka kita tidak diperkenankan untuk menyamakannya dengan asal (rukun), berbeda dengan sunnah ab’ad, kalau ab’ad boleh kita samakan dengan asal (rukun), dalam artian bahwa ketika ditinggalkan maka harus membayarnya dengan cara menggantinya sama sujud sahwi.

    Adapun macam-macam sunnah hai’ad yaitu :

    a. Mengangkat kedua tangan ketika takbirotul ihram, ketika ruku’, bangun dari ruku’ dan bangun dari tasyahud awwal, baik itu sholatnya dalam keadaan berdiri, duduk ataupun posisi tidur. Aturan mengangkat tangan yaitu dengan mengangkat ujung jari tangan lurus dengan bagian atas telinga, kedua jempol tangan menempel pada bagian bawah telinga, tapi dianggap cukup bila ujung jari lurus dengan pundak.

    b. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, yaitu dengan cara meletakkan telapak tangan kanan di atas tangan kiri serta menggenggam pergelangan tangan kiri dengan telapak tangan kanan, hal ini dilakukan dibawah dada di atas pusar.

    c. Membaca do’a iftitah.

    d. Membaca ta’awudz.

    e. Membaca keras bacaan pada sholat yang bacaannya keras, yaitu shubuh, isya’ dan maghrib, dan membaca pelan bacaan pada sholat dhuhur dan ashar, begitupun sunnah membaca keras bacaan “amin” baik oleh imam maupun makmum.

    f. Membaca surat setelah membaca surat Al-Fatihah, baik oleh imam maupun oleh orang yang sholat sendirian. Dalam pembacaan surat setelah surat Al-Fatihah dianjurkan roka’at yang pertama berupa surat yang panjang dan lebih jauh posisinya daripada roka’at yang kedua, seperti membaca surat As-Syams pada roka’at pertama dan membaca surat Ad-Dhuha pada roka’at yang kedua. (Posisinya dilihat dari Al-Qur’an bukan Juz ‘Amma).

    g. Melakukan takbir ketika turun atau bangun serta mengucapkan sami’allohu liman hamidah serta membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud.

    h. Meletakkan kedua tangan di atas paha dalam duduk dengan merenggangkan jari-jari tangan kiri dan menggenggam jari tangan kanan kecuali jempol, baik itu duduk tasyahud awwal ataupun tasyahud akhir.

    i. Melakukan duduk iftirasy pada seluruh duduk dan melakukan duduk tawaruk pada setiap tasyahud akhir, serta melakukan salam yang kedua. Hal ini berlaku bagi makmum muwafiq, sedangkan bagi makmum masbuq seluruhnya melakukan duduk iftirasy, karena ia akan melakukan berdiri untuk menambah roka’at yang tertinggal.

    Kesemuanya itu kalau ditinggalkan baik sengaja maupun tidak sengaja maka tidak dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi, akan tetapi rugi kalau sampai tidak sampai dilakukan karena setiap amalan sunnah akan senantiasa menambah kesempurnaan amalan wajib.