Pelajarilah Cinta…


Di antara hal yang mengherankan bahwa kita bersedia mengorbankan tenaga dan harta dalam mempelajari ilmu kedokteran, teknik atau komputer, sementara kita tidak pernah berusaha mempelajari cinta meski sekali dalam hidup kita. Bahkan ada sebagian orang yang tidak pernah sama sekali berpikir mencari cinta, apalagi mengenalnya. Cinta menurut mereka, bukan untuk dipikirkan, tetapi untuk diselami dengan mudah.

Seperti inilah setiap manusia menghidupkan cinta dengan caranya yang terbatas, bahkan terkadang merusak citra cinta. Dia tidak berusaha sedikitpun untuk mempelajari cinta. Dia hanya ingin hidup dalam cinta dan mencintai, tetapi tidak ingin mempelajari seni cinta. Begitulah seterusnya dia dalam bercinta dengan cara yang dia pelajari dan dia kenal, sekalipun tidak benar atau menyimpang. Dia hanya duduk menunggu mendapatkan cinta, buah yang nikmat itu, secara gratis.

Mungkin sebabnya adalah kemajuan ilmu pengetahuan, namun sebenarnya kemunduran, padahal manfaat cinta seluruhnya kembali kepada jiwa, yang kepentingannya tidak kalah dengan pentingnya kemajuan materi dan kekayaan, seperti yang menjadi pilar utama pemahaman budaya sekarang.

Riset terbaru dalam ilmu psikologi menegaskan bahwa cinta itu adalah seni, seni yang rumit, seperti seni bedah, musik, mengajar, atau menulis. Ia seperti seni-seni lainnya yang pertama-tama membutuhkan pengetahuan, lalu usaha, kemudian ketulusan.

Sebuah kekeliruan jika kita memandang cinta sebagai sesuatu yang kita tunggu terjadinya atau kita temukan begitu saja. Cinta adalah tugas kemanusiaan. Cinta adalah seni yang rumit seperti kehidupan itu sendiri, bahkan inti dan jiwa kehidupan, sebab hidup tidak akan ada maknanya tanpa cinta. Hidup seperti penjara yang tidak mungkin dapat dijalani, kecuali dengan cinta.

Agar kita dapat mempelajari cinta, maka kita harus mengikuti metode, seperti metode-metode mempelajari seni-seni lainnya, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang mahasiswa di fakultas kedokteran, misalnya. Pertama-tama, dia harus menguasai pengetahuan teori, kemudian melakukan latihan dan praktik, hingga datang suatu saat yang pengetahuan teori dan latihan tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak terpisah.

Seseorang mungkin menguasai sebuah seni, tetapi tidak menjadi tuan di bidang seni itu., kecuali apabila terpenuhi unsur ketiga, yakni konsentrasi mutlak dan perhatian besar terhadap seni tersebut. Tidak ada sesuatu pun di alam ini yang lebih penting baginya daripada mempelajari seni tersebut dan mempraktikkannya.

Jika Anda tidak puas dengan cara Anda dalam cinta dan Anda merasakan kekosongan, juga butuh akan cinta, maka Anda harus menghadapi kenyataan ini, tetapi Anda juga harus yakin dengan kemampuan Anda untuk melakukan sesuatu dalam menyikapinya. Seorang manusia bisa saja belajar kapan pun, atau belajar sekali lagi, atau bisa juga tidak belajar sampai mati. Dan perubahan adalah hasil akhir semua pelajaran. Perubahan itu tidak akan terjadi hanya dengan sekedar keinginan; dan keinginan tidak akan berubah menjadi kenyataan, kecuali dengan usaha nyata. Seorang manusia akan menjadi seorang manusia hakiki ketika sampai pada tingkat usaha nyata. Apabila seorang manusia ingin mencintai, maka dia harus bergerak menuju cinta.

Sebagaimana yang terjadi dalam mempelajari sesuatu, seorang pelajar harus selalu jaga, sabar, tekun dan tidak mudah patah semangat. Dia harus memiliki keinginan besar untuk membiasakan dirinya dalam kelenturan dan kelembutan, hingga dia sampai kepada cinta, cinta kepada manusia yang ada di sekitarnya dan cinta kepada segala sesuatu yang dilihat oleh matanya.

Sesungguhnya kita tidak akan dapat mempelajari bagaimana mencintai orang lain dengan hanya memperhatikan dan merenungkan orang-orang yang mencintai dan hidup bersama cinta. Kita akan dapat mempelajarinya, hanya apabila kita benar-benar bergabung dalam cinta.

Belajar pada dasarnya adalah proses yang rumit dan terus berlangsung sepanjang hidup. Agar Anda dapat belajar mencintai, Anda harus siap berubah, meluruskan diri, dan melakukan proses yang tiada akhir, karena kemampuan terpendam manusia untuk mencintai tidak terbatas.

2 Tanggapan to “Pelajarilah Cinta…”

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Saya musti sabar dalam belajar satu ini

  2. Sahuurrrrrrrrrrr….. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: