Jujurlah Wahai Penyeru Pergaulan Bebas


Di antara hakikat yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan, dibuktikan oleh eksperimen, dan disimpulkan oleh para ahli di seluruh penjuru dunia, adalah bahwa hasrat seksual bukanlah sebuah tuntutan seperti yang digambarkan oleh para penyeru pemikiran modern dan penyebar kekejian. Seseorang bisa saja mengendalikan hasrat dan kecenderungan seksualnya, bukan dengan cara mengekangnya, namun dengan cara meluruskan dan mengatur hingga tidak menzhalimi sifat-sifat jiwa manusia lainnya.

Peta jiwa manusia itu sangat beragam. Satu bagian tidak boleh menzhalimi bagian yang lain. Justru ketertiban dan keserasian di antara bagian-bagian itu adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan kehidupan jiwa yang aman dan stabil. Di antara hal yang baik bagi manusia adalah tetap menstabilkan perasaan dan gejolaknya sampai dia menyalurkannya di tempat yang benar dan menikmatinya bersama orang yang benar.

Sementara itu, para penyeru kebebasan, orang-orang yang mengaku berbudaya modern, dan para penjual kenikmatan, hanya memetingkan pemuasan hasrat seksual dan melupakan bagian-bagian jiwa manusia yang lain. Inilah yang menjatuhkan nilai manusia lebih rendah daripada binatang yang tidak sibuk dengan seks sepanjang hidupnya. Bahkan ilmu hewan menegaskan bahwa ada beberapa hewan, diantaranya beberapa jenis burung, yang hanya kawin di musim dan waktu tertentu, sedangkan selain musim dan waktu itu mereka tidak peduli dengan seks.

Para ahli seksologi sepakat bahwa tidak melakukan hubungan intim dalam waktu yang lama tidak akan mempengaruhi kesehatan, baik fisik maupun mental. Akan tetapi, harus dibedakan antara tidak melakukan hubungan intim karena terpaksa dan tidak melakukannya karena keinginan dan rencana yang disusun seseorang dalam hidupnya.

Tidak melakukan hubungan intim karena alasan pertama dapat mengakibatkan hal-hal yang merugikan, seperti mengidap penyakit dan penyimpangan kejiwaan yang sangat berbahaya. Adapun tidak melakukannya karena alasan kedua, atau karena menjaga diri, maka ini tidak akan mengakibatkan bahaya sedikit pun.

Sejarah kehidupan Nabi SAW membuktikan hakikat itu. Kehidupan beliau -sampai usia dua puluh lima tahun- adalah kehidupan seorang pemuda bujangan yang tenang, suci, lagi jauh dari wanita. Beliau hanya memfokuskan diri pada pekerjaan menggembala kambing di padang sahara dan menenggelamkan diri dalam renungan. Selama itu, tidak ada sedikit pun tempat bagi kesenangan dan wanita dalam pikiran dan perhatian beliau. Menjaga diri secara total adalah sifat beliau saat itu, yakni saat sebagian besar pemuda lainnya hidup bersama khayalan mendapatkan wanita cantik.

Pemuda yang dijanjikan dengan tugas besar ini (Muhammad SAW) hidup bersama mimpi agung yang ditunggu-tunggu. Siapa yang tahu apa yang memenuhi kepala pemuda Muhammad di usia itu? Akan tetapi, segala sesuatu menunjukkan bahwa nikah tidak sedikit pun terlintas dalam benak beliau. Istri dan wanita tidak pernah terpikirkan oleh beliau pada waktu itu.

Beliau hanya berjalan di jalur perenungan batin dan mimpi yang agung. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada pemuda mulia ini, seandainya bukan Khadijah ra yang pertama menawarkan diri untuk menikah dengan beliau?

Sesungguhnya saya percaya dengan sebuah hakikat bahwa cinta itu seperti penyakit cacar air yang suatu hari pasti akan menjangkiti Anda, atau sekarang sedang mengincar Anda. Siapa yang mengaku bahwa hatinya tidak memiliki cinta dan tidak senang dengan perasaan itu, maka sungguh dia telah berbohong. Akan tetapi, hal ini tergantung cara yang akan Anda pergunakan dalam berinteraksi dengan cinta, sesuai kemampuan Anda untuk belajar, begitu juga jenis budaya dan wawasan Anda.

Sesungguhnya pendidikan jiwa dapat menundukkan dan melatih hasrat seksual yang sama-sama dimiliki manusia dan binatang. Tidak ada yang berbeda antara manusia dan binatang, kecuali kemampuan manusia untuk melepaskan diri ikatan dan gejolaknya atau membiasakan diri meletakkan hasrat seksual di bawah pengaturan pikiran dan pengawasan akal. Dia juga dapat menggambarkan akibat buruk hasrat seksual yang liar terhadap masa depannya sebagai seorang individu dan masa depan masyarakat yang dia hidup di dalamnya.

Bila seorang manusia dapat meletakkan hasrat seksual ini di lingkaran yang logis dan menundukkannya di bawah pengawasan akal dan sanubari, hingga hasrat itu patuh kepada keinginannya, maka sejak itulah dia menjadi seorang manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: