Kiat Membangun Cinta Anak Kepada Allah


Apa sih mencintai Allah?? Menjadikan Allah Maha Kuasa sebagai target cinta yang lebih dari mencintai diri sendiri, orang tua dan segala hal lainnya di dunia ini. Bagaimana caranya??

Apa perlunya mendidik anak mencintai Allah?? Karena Allah sendiri yang bersabda di dalam QS 3:31 “Katakanlah (hai Muhammad, kepada ummah manusia), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Karena Rasulullah SAW sendiri berkata, “Ya Allah, biarkanlah cintaMu menjadi sesuatu yang lebih kucintai daripada diriku sendiri, keluargaku, hartaku, anak-anakku dan air dingin ketika aku haus.”

Bagaimana cara menanamkan cinta kepada Allah??

  1. Mintalah pertolongan Allah.

  2. Sesuaikan upaya kita mendidik anak agar mencintai Allah dengan tahap-tahap perkembangan kita dan anak kita. Seperti dalam kisah di atas, mulailah dengan memilih pasangan yang shalih dan shalihah dan menjadikan Allah sebagai kecintaan utama mereka.

  3. Lanjutkan upaya membangun cinta anak kepada Allah saat anak masih dalam kandungan. Ibu-ibu yang sambil menyeka keringat karena kepayahan saat mengandung namun terus beribadah adalah pendidik-pendidik utama.

  4. Sejak lahir sampai usia 2 tahun. Mulailah dengan Asmaul Husna. Bacakan Al`Qur’an, lantunkan shalawat, dendangkan nasyid….bacakan bismillah dan alhamdulillah dalam setiap aktivitas. Biarkanlah nama Allah menjadi nama yang paling sering didengar si kecil, bahkan lebih sering daripada nama ayah ibunya.

  5. Sampai usia 3 tahun. Mulailah perkenalkan surah dan hadist pendek. Seorang ibu di Jawa Tengah membiasakan si kecil menghafal surah pendek di usia 3 tahun, dan dalam usia 6 tahun anak ini sudah menjadi penghafal Al-Qur’an.

  6. Usia 3 – 6 tahun. Inilah saat “ledakan intelektualita” berikutnya ketika anak sangat bersemangat belajar lewat cerita, dongeng dan segala macam alat belajar lainnya. Bacakan kisah-kisah dari Al-Qur`an dan sirah nabawiyah (sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW).

  7. Usia 7 – 10 tahun. Anak mulai mengembangkan sayapnya sendiri maka temanilah dan terbanglah bersamanya dalam petualangan belajar. Pancing keingintahuannya. Pancing dia berfikir tentang Allah dan semua penciptaanNya. “Kakak senang mendapat buku ini?? Terima kasih kembali, tapi yang lebih penting, ucapkan Alhamdulillah. Kenapa?? Karena …”

  8. Di atas 10 tahun, si Kecil sudah merasa besar dan ingin menjelajahi dunia luar, mencari “keluarga” di luar keluarga yang dimilikinya, maka dialog terbuka dan tulus adalah pegangan bagi para orang tua untuk terus memelihara hubungan anak dengan Allah. Usia praremaja dan remaja adalah saat genting ketika cinta anak kepada Allah diuji oleh lingkungannya – maka bekalilah dia sedini mungkin agar cintanya kepada Allah tak luntur dimakan waktu. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: