Arsip untuk Januari, 2009

Sikap Terhadap Allah

Posted in Buletin Al-Hidayah on Januari 27, 2009 by riy4nti

Setiap Muslim harus bersyukur atas karunia yang tak terhitung yang telah Allah SWT berikan kepadanya. Nikmat yang diberikan-Nya mulai ia berasal dari setetes air dalam kandungan ibunya hingga kembali menghadap Tuhannya. Ia harus bersyukur dengan lidahnya, dengan menyembah-Nya dan mematuhi-Nya. Ia juga harus bersyukur atas pemberian kedua kaki dan tangannya sehingga ia bisa taat kepada-Nya. Begitulah cara ia bersyukur kepada Allah SWT. Jelaslah, bahwa pasti ada sikap yang lebih tepat untuk dilakukan terhadap Allah SWT atas semua karunia yang telah Dia berikan. Setiap manusia juga tidak boleh menolak segala kenikmatan dan karnia yang telah diberikan-Nya.

Seorang Muslim berpikir tentang ilmu Allah dan menyadari, bahwa Dia selalu mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya pada setiap keadaan. Hati si Muslim akan dipenuhi oleh perasaan kagum, hormat dan mensucikan Allah. Ia akan malu dan mematuhi-Nya. Begitulah cara ia berperilaku kepada Allah. Sesungguhnya, tidaklah pantas seorang hamba melawan Tuannya dengan cara menentang atau memperlakukan dengan jahat dan menghinanya, sementara Sang Tuan mengawasi dan menyaksikannya.

Seorang Muslim juga menyadari akan kekuasaan dan pengawasan Allah SWT atas dirinya. Dia tidak mungkin bisa lari dan menghindar dari-Nya. Tak ada tempat lain selain kembali kepada-Nya. Seorang Muslim juga menyadari kasih sayang dan kemurahan yang dilimpahkan Allah kepadanya dan kepada seluruh ciptaan-Nya. Seorang Muslim juga menyadari akan balasan dan hukuman dari Allah. Memperhitungkan diri hidup dan mati dalam ketaatan kepada-Nya.

Seorang Muslim juga harus berpikir seolah-olah hukuman dan sanksi Allah akan diterimanya saat dia sedang melanggar perintah-Nya dan sebaliknya juga akan menerima ganjaran dan pahala yang dijanjikan Allah yang disediakan untuknya ketika ia sedang melakukan perbuatan yang diridhoi-Nya.

Jadi kesimpulannya, seorang Muslim harus bersyukur atas segala pemberian Allah kepadanya. Dia seharusnya malu berbuat dosa. Dia harus kembali kepada-Nya dan hanya bergantung kepada-Nya semata. Penuh harap dengan segala kebaikan-Nya dan takut akan siksa-Nya. Dia harus meyakini Allah dengan penuh respek akan janji-janji-Nya. Dengan demikian, Allah akan menempatkannya pada derajat yang lebih baik. Allah SWT akan meridhoinya dan memasukkan ke dalam golongan hamba-Nya yang terpilih, memberkahinya dan melindunginya. Inilah harapan terbesar yang harus diraih oleh setiap Muslim sepanjang hayatnya.

“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang termasuk golongan hamba-Mu yang mencintai-Mu. Ya Allah, janganlah Engkau keluarkan kami dari golongan orang-orang yang Engkau lindungi. Ya Allah, jadikan pula kami termasuk orang-orang yang sangat dekat dengan-Mu. Ya Allah, Tuhan Semesta Alam.”

Fenomena Agama Dalam Kehidupan Manusia

Posted in Buletin Al-Hidayah on Januari 27, 2009 by riy4nti

Agama dan kehidupan beragama merupakan unsur yang tak terpisahkan dari kehidupan dan sistem budaya umat manusia. Sejak awal manusia berbudaya, agama dan kehidupan beragama tersebut telah menggejala dalam kehidupan, bahkan memberikan corak dan bentuk dari semua perilaku budayanya. Agama dan perilaku keagamaan tumbuh dan berkembang dari adanya rasa ketergantungan manusia terhadap kekuatan ghaib yang mereka rasakan sebagai sumber kehidupan mereka. Mereka harus berkomunikasi untuk memohon bantuan dan pertolongan kepada kekuatan ghaib tersebut, agar mendapatkan kehidupan yang aman, selamat dan sejahtera. Tetapi apa dan siapa kekuatan ghaib yang mereka rasakan sebagai sumber kehidupan tersebut, dan bagaimana cara berkomunikasi dan memohon perlindungan dan bantuan tersebut, mereka tidak tahu. Mereka merasakan adanya dan kebutuhan akan bantuan dan perlindungannya. Itulah awal rasa Agama, yang merupakan desakan dari dalam diri mereka, yang mendorong timbulnya perilaku keagamaan. Dengan demikian, rasa Agama dan perilaku keagamaan merupakan pembawaan dari kehidupan manusia, atau dengan istilah lain merupakan fitrah manusia.

Fitrah adalah kondisi sekaligus potensi bawaan yang berasal dari dan ditetapkan dalam proses penciptaan manusia. Di samping fitrah beragama, manusia memiliki fitrah untuk hidup bersama dengan manusia lainnya atau bermasyarakat. Dan fitrah pokok dari manusia adalah fitrah berakal budi, yang memungkinkan manusia berbudi daya untuk mempertahankan dan memenuhi kebutuhan hidup, mengatur dan mengembangkan kehidupan bersama. Serta menyusun sistem kehidupan dan budaya serta lingkungan hidup yang aman dan sejahtera. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dengan akal budinya berkemampuan untuk menjawab tantangan dan memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya baik yang bersumber dari rasa keagamaan maupun rasa kebersamaan (bermasyarakat), serta rasa untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup. Dan dengan akalnyalah manusia membentuk kehidupan budaya, termasuk di dalamnya kehidupan keagamaannya.

Selanjutnya, Agama dan kehidupan keagamaan yang terbentuk bersama dengan pertumbuhan dan perkembangan akal serta budi daya manusia disebut dengan Agama Akal atau Agama Budaya. Sementara itu sepanjang kehidupan manusia, Allah telah memberikan petunjuk melalui para Rasul tentang Agama dan kehidupan keagamaan yang benar. Para Rasul itu juga berfungsi untuk memberikan petunjuk guna meningkatkan daya akal budi manusia alam menghadapi dan menjawab tantangan serta memecahkan permasalahan kehidupan umat manusia yang terus berkembang sepanjang sejarahnya. Agama yang dibawa Rasul Allah itu bukan hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan semata, tetapi juga menyangkut kehidupan-kehidupan sosial budaya yang lainnya. Agama ini mendorong agar kehidupan keagamaan, kehidupan sosial dan kehidupan budaya lainnya dapat tumbuh berkembang bersama secara terpadu untuk mewujudkan suatu sistem budaya dan peradaban yang Islami.

Perasaan Dendam Meracuni Batin Manusia

Posted in Buletin Al-Hidayah on Januari 23, 2009 by riy4nti

Dendam merusak dan meracuni batin manusia. Kenyataan ini nampak dalam kehidupan kia sehari-hari. Betapa dendam dan amarah menguasai hati kita setiap hari. Dendam melahirkan kekerasan dan kekejaman. Dendam menciptakan permusuhan yang tidak habisnya. Betapa semenjak kita masih kecil, nafsu amarah dan dendam ini telah menguasai lubuk hati kita sepenuhnya. Kita akan marah-marah kalau kita diganggu, kalau keluarga kita diganggu, kalau negara kita diganggu, kalau bangsa kita diganggu, kalau milik kita lahir dan batin diganggu. Dan kita akan membalas! Membalas berlipat ganda! Sejak masih kanak-kanak sudah nampak nafsu dendam ini. Dipukul sekali baru akan puas kalau membalas dua kali! Hati yang marah baru akan puas kalau sudah menumpahkan kemarahannya berupa makian, balas menghina, memukul dan sebagainya lagi.

Betapa nampak kalau kita mau membuka mata memandang, bahwa satu diantara hal yang mendorong kita men-dendam adalah karena kita selalu ingin menang dari orang lain, tidak mau kalah dalam hal apa pun juga! Kalau orang melakukan kekerasan kepada kita, kita pun tidak mau kalah keras! Kita khawatir disangka takut, disangka pengecut, dianggap tidak berani! Inilah yang mendorong kita menyambut kekerasan orang dengan kekerasan yang lebih hebat lagi. Dan bagaimana kalau ada orang bersikap baik kepada kita? Kita pun tidak mau kalah, tidak mau kalah baik, ingin dianggap lebih baik lagi. Buktinya?? Kalau anda bermusuhan atau saling marah dan membenci dengan orang lain, cobalah anda mengubah diri dan bersikap manis dan baik. Akan nampak oleh anda betapa orang itu pun sebaliknya akan mengambil sikap yang lebih manis dan lebih baik pula daripada sikap anda. Sebaliknya, kalau dia bersikap keras dan congkak, anda akan bersikap lebih keras dan lebih congkak lagi!

Kemudian kita melihat bahwa kemarahan itu mengakibatkan hal-hal buruk sekali dalam kehidupan, menimbulkan permusuhan, pertentangan dan kesengsaraan, maka lalu munculah ajaran agar kita belajar sabar! Kita marah dan kita dianjurkan bersabar. Hal ini seperti terbukti dalam kehidupan kita sehari-hari, sama sekali tidak ada artinya, tidak ada gunanya! Dalam keadaan marah, kita lalu mengendalikan perasaan, menekan kemarahan, dan memaksa diri untuk menjadi sabar. Memang, pada saat itu dapat kita menekan kemarahan dan menjadi sabar, namun kesabaran seperti itu adalah kesabaran palsu, kemarahan itu tidak padam, hanya ditekan dan ditutupi belaka. Seperti api dalam sekam, kelihatannya saja tidak menyala namun sesungguhnya masih membara dan sewaktu-waktu akan berkobar lagi. Maka nampaklah dalam kehidupan kita betapa apabila belajar sabar itu sama sekali tidak ada gunanya karena kemarahan yang ditekan-tekan itu akan terus-menerus dan selalu muncul dan muncul lagi untuk ditekan dan dikendalikan lagi. Maka terjadilah perang batin, konflik batin antara kemarahan sebagai kenyataan dan sabar sebagai hal yang kita kehendaki.

Kita lupa bahwa kemarahan tidak mungkin dapat dilenyapkan dengan belajar sabar atau dengan keinginan untuk tidak marah! Kotoran tidak mungkin dapat dilenyapkan dengan belajar bersih! Yang penting adalah berani menghadapi kenyataan. Dan kenyataan pada diri kita adalah kemarahan. Itulah faktanya.Kita marah! Kita keras, kita pendendam, kita kejam. Inilah kenyataannya! Tidak perlu kita lari daripada kenyataan ini dan bersembunyi dibalik selimut kesabaran, kebaikan dan sebagainya. Semua itu hanya palsu dan munafik belaka. Lalu apakah kita harus membiarkan saja kenyataan bahwa kita pendendam dan pemarah? Sudah tentu tidak! Kita melihat dengan jelas bahwa harus terjadi perubahan pada diri kita, pada batin kita. Akan tetapi perubahan itu tak mungkin terjadi kalau hanya dengan jalan menantang kemarahan itu dan ingin menggantikan kedudukannya dengan kesabaran dan kebaikan. Kita HARUS berubah! Lalu bagaimana caranya untuk melenyapkan kemarahan??? Tidak ada cara-nya, karena kalau disebutkan suatu cara, itu pun palsu dan merupakan penipuan belaka, merupakan pelarian seperti belajar sabar dan mengendalikan perasaan tadi. Apakah kemarahan itu?? Siapa yang marah?? Berbedakah kita dengan kemarahan itu?? Kitalah yang marah. Kitalah kemarahan itu sendiri! Kemarahan tidak terpisah dari kita! Kitalah sumber kemarahan, kitalah pembuat kemarahan, kitalah biang keladinya.

Karena itu, kalau kemarahan tiba, tidak perlu kita lari, tidak perlu kita sembunyi, baliknya, kita hadapi kemarahan itu, kita pandang dengan penuh kewaspadaan, dengan penuh perhatian! Pernahkah anda melakukan hal ini?? Biasanya, kalau kita marah, kita menjadi mata gelap, kita kehilangan kesadaran, kita tidak ingat apa2 lagi, yang ada hanyalah nafsu ingin melampiaskan kemarahan. Bukankah demikian?? Pernahkah dan maukah kita mencoba untuk menghadapi kemarahan itu sebagai suatu fakta, kita perhatikan kemarahan kita itu penuh kewaspadaan dan ingin kita melihat apa yang terjadi kalau begitu! Karena kemarahan itu pada hakikatnya adalah kita sendiri, maka dengan pengamatan penuh kewaspadaan itu, dengan penuh perhatian itu, kemarahan pun tidak ada! Sebaiknya kita mencoba dalam kehidupan kita sehari-hari yang penuh coba dan kalau sudah tidak ada kemarahan lagi dalam batin kita, perlukah kita belajar sabar?? Kalau kita tidak marah, perlukah kita menekan dan mengendalikan perasaan?? Dan kalau tidak ada kemarahan, tidak ada benci, apa yang timbul dalam hati kita?? Mungkin mata batin kita baru akan melihat apa artinya CINTA KASIH itu.

Marilah kita membuka lembaran baru. Kita renungi apa saja yang telah kita lakukan di hari kemarin, agar kita mendapatkan bekal untuk bertindak dikemudian hari. Lalu kita tata kembali hati kita, batin kita dan kita bimbing mereka untuk senantiasa tegar dan pantang putus asa. Hilangkan rasa dendam dalam hati, karena itu hanyalah akan membuang kesempatan kita untuk melakukan perubahan yang selalu kita dambakan agar dikemudian hari kita bisa hidup damai, tentram. Maka mulailah itu semua dengan diri sendiri. Janganlah kita terlalu menuruti keinginan yang tiada artinya, apalagi sampai merugikan orang lain.

Tanda-tanda Bahaya Yang Umum Dari Ketidakmampuan Penyesuaian Diri Remaja

Posted in Motivation on Januari 23, 2009 by riy4nti

1. Tidak bertanggung jawab, tampak dalam perilakunya yang selalu mengabaikan pelajaran, misalnya untuk bersenang-senang dan tidak mau terikat dengan kegiatan apapun dan ingin bebas.

2. Sikap yang sangat agresif dan sangat yakin terhadap diri sendiri, yang kemudian mengakibatkan tindakan yang sembrono dan tidak mau tahu akan konsekuensi dari tindakannya tersebut.

3. Perasaan tidak aman, yang mengakibatkan remaja patuh mengikuti standar-standar kelompok, seperti dianggap tidak setia kawan, sehingga ia melakukan hal yang dianggap sebagai kesetiakawanan.

4. Merasa ingin pulang bila berada jauh dari lingkungan yang dikenal, sehingga mengakibatkan pengalaman yang kekanak-kanakan.

5. Perasaan menyerah ketika menghadapi pekerjaan yang gagal.

6. Terlalu banyak berkhayal untuk mengimbangi ketidakpuasan yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. Karena kondisinya yang tidak memuaskan tersebut, tentunya ia akan berkhayal akan suatu kepuasan yang dapat menjadikan remaja itu bahagia.

7. Mundur ketingkat perilaku yang sebelumnya agar disenangi dan diperhatikan. Sehingga terjadi romantisme dan terhanyut akan keberhasilan yang dulu.

Kiat Membangun Cinta Anak Kepada Allah

Posted in Ananda on Januari 7, 2009 by riy4nti

Apa sih mencintai Allah?? Menjadikan Allah Maha Kuasa sebagai target cinta yang lebih dari mencintai diri sendiri, orang tua dan segala hal lainnya di dunia ini. Bagaimana caranya??

Apa perlunya mendidik anak mencintai Allah?? Karena Allah sendiri yang bersabda di dalam QS 3:31 “Katakanlah (hai Muhammad, kepada ummah manusia), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Karena Rasulullah SAW sendiri berkata, “Ya Allah, biarkanlah cintaMu menjadi sesuatu yang lebih kucintai daripada diriku sendiri, keluargaku, hartaku, anak-anakku dan air dingin ketika aku haus.”

Bagaimana cara menanamkan cinta kepada Allah??

  1. Mintalah pertolongan Allah.

  2. Sesuaikan upaya kita mendidik anak agar mencintai Allah dengan tahap-tahap perkembangan kita dan anak kita. Seperti dalam kisah di atas, mulailah dengan memilih pasangan yang shalih dan shalihah dan menjadikan Allah sebagai kecintaan utama mereka.

  3. Lanjutkan upaya membangun cinta anak kepada Allah saat anak masih dalam kandungan. Ibu-ibu yang sambil menyeka keringat karena kepayahan saat mengandung namun terus beribadah adalah pendidik-pendidik utama.

  4. Sejak lahir sampai usia 2 tahun. Mulailah dengan Asmaul Husna. Bacakan Al`Qur’an, lantunkan shalawat, dendangkan nasyid….bacakan bismillah dan alhamdulillah dalam setiap aktivitas. Biarkanlah nama Allah menjadi nama yang paling sering didengar si kecil, bahkan lebih sering daripada nama ayah ibunya.

  5. Sampai usia 3 tahun. Mulailah perkenalkan surah dan hadist pendek. Seorang ibu di Jawa Tengah membiasakan si kecil menghafal surah pendek di usia 3 tahun, dan dalam usia 6 tahun anak ini sudah menjadi penghafal Al-Qur’an.

  6. Usia 3 – 6 tahun. Inilah saat “ledakan intelektualita” berikutnya ketika anak sangat bersemangat belajar lewat cerita, dongeng dan segala macam alat belajar lainnya. Bacakan kisah-kisah dari Al-Qur`an dan sirah nabawiyah (sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW).

  7. Usia 7 – 10 tahun. Anak mulai mengembangkan sayapnya sendiri maka temanilah dan terbanglah bersamanya dalam petualangan belajar. Pancing keingintahuannya. Pancing dia berfikir tentang Allah dan semua penciptaanNya. “Kakak senang mendapat buku ini?? Terima kasih kembali, tapi yang lebih penting, ucapkan Alhamdulillah. Kenapa?? Karena …”

  8. Di atas 10 tahun, si Kecil sudah merasa besar dan ingin menjelajahi dunia luar, mencari “keluarga” di luar keluarga yang dimilikinya, maka dialog terbuka dan tulus adalah pegangan bagi para orang tua untuk terus memelihara hubungan anak dengan Allah. Usia praremaja dan remaja adalah saat genting ketika cinta anak kepada Allah diuji oleh lingkungannya – maka bekalilah dia sedini mungkin agar cintanya kepada Allah tak luntur dimakan waktu. Insya Allah.