BAB HAIDL


(…….lanjutan halaman sebelumnya)

V. ISTIHADLOH HAIDL

Istihadloh adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita selain haidl dan nifas. Diantara tanda dari darah istihadloh haidl adalah,

a. Masa keluarnya tidak mencapai 24 jam.

b. Masa keluarnya lebih dari 15 hari 15 malam.

c. Darah yang keluar dari wanita yang belum mencapai batas usia.

d. Darah yang warna dan sifatnya tidak sesuai dengan warna dan sifatnya darah haidl.

e. Darah yang keluar pada masa suci.

f. Darah yang keluar saat akan melahirka atau bersamaan dengan kelahiran bayi, dengan syarat darah tsb tidak bersambung dengan haidl sebelumnya.

Selain sub b, hukumnya istihadloh secara mutlak (atau dihukumi seperti istihadloh). Sedangkan metode menetapkan haidl dan suci dari wanita yang mengalami istihadloh (darah lebih dari 15 hari 15 malam) adalah sbb :

1. WARNA DAN SIFAT DARAH BISA DIBEDAKAN

Apabila darah bisa dibedakan (antara kuat dan lemah) dan menetapi 4 syarat pokok yaitu,

– Darah kuat mencapai 24 jam.

– Darah kuat tidak lebih dari 15 hari 15 malam.

– Antara darah kuat dan darah lemah tidak silih berganti (selang-seling).

– Darah lemah tidak kurang dari 15 hari, jika darah lemah tsb terletak diantara darah kuat.

Maka hukumnya adalah, darah kuat = HAIDL dan darah lemah = ISTIHADLOH.

Contoh :

Seorang wanita (pernah haidl maupun belum pernah) mengeluarkan darah sbb :

Darah kuat ……………………………..= 10 hari

Darah lemah ……………………………= 20 hari

—————————————————-

= 10 hari pertama hukumnya haidl

20 hari selanjutnya hukumnya istihadloh

Keterangan :

1. Selama darah bisa dibedakan dan menetapi syarat-syarat di atas, maka yang dihukumi haidl adalah darah kuat. Baik mustahadloh sudah punya adat haidl maupun belum pernah haidl, kecuali jika antara adat haidl dan perbedaan darah (kuat) terpisah masa minimal 15 hari.

Jika jarak antara lamanya masa adat haidl dan darah kuat ada 15 hari, maka hukumnya adalah,

Masa sesuai adat haidl ……………………..= HAIDL

Darah kuat ………………………………………..= HAIDL

Masa diantaranya …………………………….= SUCI

Contoh :

Seorang wanita mempunyai adat haidl 3 hari, mengeluarkan darah sbb :

Darah lemah …………………………….= 19 hari

Darah kuat ………………………………= 3 hari

—————————————————

= 3 hari pertama hukumnya haidl (disamakan adat)

= 16 hari selanjutnya hukumnya suci (baca : istihadloh)

= 3 hari selanjutnya hukumnya haidl (darah kuat)

2. Berikut warna dan sifat darah haidl sesuai urutan yang paling kuat (no. 1 lebih kuat dari no. 2, 3 dst. Sifat a lebih kuat dari sifat b) :

Warnanya adalah :

1. Hitam

2. Merah

3. Merah kekuning-kuningan

4. Kuning

5. Keruh

Sedangkan sifat-sifatnya adalah :

a. Kental

b. Berbau

c. Cair

d. Tidak berbau

2. WARNA DAN SIFAT DARAH TIDAK BISA DIBEDAKAN

Apabila darah tidak bisa dibedakan (warna dan sifatnya sama) atau bisa dibedakan, namun tidak menetapi “4 syarat pokok” di atas, maka hukumnya diperinci sbb :

a. JIka belum pernah haidl, maka :

Sehari semalam pertama ………………….= HAIDL

29 hari selanjutnya …………………………….= SUCI

Contoh :

Seorang wanita yang belum pernah mengalami haidl mengeluarkan darah sbb :

Darah dengan warna dan sifat sama …………= 30 hari

—————————————————————

= Sehari semalam pertama hukumnya haidl dan 29 hari selanjutnya suci (baca : istihadloh).

b. Jika sudah pernah haidl dan suci haidl dan masih ingat mulai dan lamanya haidl yang menjadi adat, maka haidl dan suci saat istihadloh disamakan dengan adat (kebiasaan) sebelumnya.

Sedangkan cara menggunakan adat sebagai standart hukum adalah,

1. Apabila adat haidl dan adat suci tidak berubah-ubah (tetap), maka haidl dan sucinya saat istihadloh disamakan dengan adat tersebut secara tetap.

Contoh :

Seorang wanita mempunyai adat haidl 7 hari dan suci 23 hari, mengeluarkan darah sbb :

Darah dengan warna dan sifat sama ……..= 60 hari

————————————————————

= 7 hari pertama hukumnya haidl

23 hari selanjutnya hukumnya suci (baca : istihadloh)

7 hari selanjutnya hukumnya haidl

13 hari selanjutnya hukumnya suci

2. Apabila adat haidl dan adat suci berubah-ubah mencapai dua putaran secara tertib, maka haidl dan sucinya saat istihadloh di samakan dengan adat sebelumnya sesuai dengan urutan putaran.

Contoh :

Adat haidl bulan I = 5 hari, dan sucinya = 25 hari

Adat haidl bulan II = 6 hari, dan sucinya = 24 hari

Adat haidl bulan III = 5 hari, dan sucinya = 25 hari

Adat haidl bulan IV = 6 hari, dan sucinya = 24 hari

Kemudian keluar darah dengan warna dan sifat sama selama 90 hari, maka :

Haidlnya bulan V = 5 hari, dan sucinya 25 hari

Haidlnya bulan VI = 6 hari, dan sucinya 24 hari

Haidlnya bulan VII = 5 hari, dan sucinya 25 hari

3. Apabila adat haidl dan adat suci berubah-ubah mencapai dua putaran tidak tertib, maka haidl dan sucinya saat istihadloh disamakan dengan adatnya bulan tepat sebelum istihadloh.

Contoh:

Adat haidl bulan I = 5 hari, dan sucinya = 25

Adat haidl bulan II = 7 hari, dan sucinya = 23 hari

Adat haidl bulan III = 7 hari, dan sucinya = 23 hari

Adat haidl bulan IV = 5 hari, dan sucinya = 25 hari

Kemudian mengalami istihadloh selama berbulan-bulan dengan warna dan sifat darah sama, maka standart adat yang digunakan adalah, haidl = 5 hari dan suci = 25 hari.

4. Apabila adat haidl dan suci berubah-ubah tidak mencapai dua putaran, maka haidl dan sucinya saat istihadloh disamakan dengan adatnya bulan tepat sebelum istihadloh.

Contoh :

Adat haidl bulan I = 4 hari, dan sucinya = 26 hari.

Adat haidl bulan II = 5 hari, dan sucinya = 25 hari.

Adat haidl bulan III = 4 hari, dan sucinya = 6 hari.

Kemudian mengalami istihadloh selama berbulan-bulan dengan warna dan sifat darah sama, maka standart adat yang digunakan adalah, haidl = 4 hari dan suci = 26 hari.

Dan jika adat haidl dan adat suci berbeda-beda (mis. adat haidl tetap dan adat suci berubah-ubah) maka masing-masing diberlakukan sesuai dengan hukumnya sendiri-sendiri. Jadi apabila adat haidlnya tetap itu tidak berarti adat sucinya tetap, dan begitu sebaliknya. Oleh sebab itu,

– JIka adat haidl tetap namun adat suci berubah-ubah mencapai dua putaran tertib, maka haidl (saat istihadloh) disamakan dengan adat secara tetap. Dan sucinya disamakan dengan adat suci sesuai urutan putaran.

– Jika adat haidl berubah-ubah mencapai dua putaran tertib dan adat sucinya tetap, maka haidl (saat istihadloh) disamakan dengan adat haidl sesuai urutan putaran, dan sucinya disamakan dengan adat secara tetap.

– Dan begitu seterusnya.

c. Jika sudah pernah haidl dan suci, namun tidak ingat mulainya haidl atau lamanya haidl yang pernah dialami, maka mustahadloh akan kebingungan dalam menetapkan haidl dan sucinya (mutahayyiroh).

Diantara hal-hal yang bisa mengakibatkan mustahadloh menjadi mutahayyiroh adalah :

– Tidak ingat mulainya haidl yang penah dialami.

– Tidak ingat lamanya haidl yang pernah dialami.

– Tidak ingat mulai dan lamanya haidl yang pernah dialami.

– Tidak ingat atau ragu-ragu tentang lamanya suci yang menjadi standart.

VI. MASA MENANTI (TAROBBUSH)

Wanita yang sedang mengeluarkan darah yang memungkinkan untuk dihukumi haidl (selain pada waktu yang diyakini masa suci) wajib untuk menanti. Artinya wajib menjauhi dan tidak menjalankan hal-hal yang diharamkan bagi wanita yang sedang haidl. Baik pada akhirnya darah tsb dihukumi haidl atau darah istihadloj. Kemudian ibadah wajib (sholat) yang ditinggalkan pada masa menanti, selain yang dihukumi haidl wajib untuk diqodho’.

Bagi wanita yang mengalami istihadloh, untuk bulan pertama istihadloh jika warna dan sifatnya darah sama atau darah kuat keluar lebih dulu dan darah keluar terus-menerus maka mandi wajibnya menanti sampai 15 hari. Sebab darah yang keluar dalam 15 hari 15 malam itu berkemungkinan darah haidl. Dan jika setelah genap 15 hari darah masih keluar, maka darah tsb kemungkinan besar bukan darah haidl. Oleh sebab itu mustahadloh tetap diwajibkan melakukan ibadah-ibadah wajib sesuai metode ibadahnya wanita yang istihadloh.

Sedangkan untuk bulan kedua istihadloh (dan seterusnya), mustahadloh harus mandi wajib manakala telah genap masa yang dihukumi haidl (baik dengan standart adat atau kuat lemahnya darah). Dan jika darah kuat keluar di tengah atau di akhir, maka masa menantinya dimungkinkan lebih dari 15 hari.

Contoh 1 :

Seorang wanita yang belum pernah haidl mengeluarkan darah sbb :

Darah kuat ………………………….= 10 hari

Darah lemah ………………………..= 20 hari

————————————————-

Masa menantinya adalah 15 hari 15 malam yang awal.

Contoh 2 :

Seorang wanita yang mempunyai adat haidl 5 hari dan suci 2 hari, mengeluarkan darah istihadloh sbb :

Darah lemah …………………….= 10 hari

Darah kuat ………………………= 10 hari

Darah lemah …………………….= 10 hari

———————————————-

Masa menanitnya adalah 20 hari 20 malam, dan haidlnya adalah 10 hari (darah kuat).

Dan jika dalam 15 hari 15 malam yang awal keluarnya darah terputus-putus (kadang keluar kadang berhenti) maka jika saat putus darah masa keluarnya darah sudah mencapai 24 jam, maka wajib mandi. Dan jika belum mencapai 24 jam, maka cukup bersuci dan wudlu saja (tidak wajib mandi), karena melihat dlohirnya darah yang tidak mencapai 24 jam itu bukan darah haidl. Selanjutnya pada masa suci (putus darah), dia diwajibkan melakukan aktivitas ibadah sebagaimana layaknya wanita yang tidak haidl (wajib sholat, boleh baca qur’an, bersenggama, dll). Dan jika setelah itu keluar darah lagi, maka menanti (tarobbush) lagi. Begitu seterusnya sampai 15 hari.

Contoh 1 :

Seorang wanita mengeluarkan darah dengan terputus-putus sbb :

Darah hitam …………………..= 5 hari

Darah berhenti ……………….= 3 hari

Darah merah ………………….= 2 hari

Darah berhenti ……………….= 3 hari

Darah keruh …………………..= 2 hari

——————————————

Haidl ………………..= 15 hari

Mandi wajib ……….= 3 kali (setelah hari ke-5, 10 dan 15)

Suci (sementara)….= 6 hari

Contoh 2 :

Hari MInggu keluar darah ………………….= 5 jam

Hari Senin keluar darah …………………….= 5 jam

Hari Selasa keluar darah ……………………= 5 jam

Hari Rabu keluar darah ……………………..= 5 jam

Hari Kamis keluar darah ……………………= 5 jam

———————————————————

Haidl ……………………= 5 hari

Mandi wajib …………..= 1 kali (hari Kamis)

Catatan :

1. Darah masih dihukumi keluar (belum terputus), sekiranya kapas yang dimasukkan masih ada warnanya darah, walaupun hanya berwarna keruh. Dan jika kapas yang dimasukkan sudah tidak ada bercak darah, maka dihukumi suci (putus darah).

2. Haidl atau suci yang diusahakan dengan obat itu sah dan boleh sepanjang tidak membahayakan pada tubuh dan aqal.

3. Anggota tubuh (mis. rambut, kuku, dll) yang putus saat sedang hadats besar (haidl, nifas atau junub) itu tidak wajib dibasuh. Yang wajib dibasuh adalah sisa potongan yang masih melekat pada tubuh. Sedangkan sengaja memutuskan hal-hal di atas hukumnya makruh.

4. Metode ibadahnya wanita yang mengalami (mengeluarkan) keputihan itu sebagaimana wanita yang istihadloh, karena meskipun bukan termasuk darah istihadloh hukumnya najis (sebab keluar dari anggota bagian dalam).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: