Arsip untuk November, 2008

BAB HAIDL

Posted in Metode Praktis Memahami Permasalahan Wanita on November 22, 2008 by riy4nti

I. PENGERTIAN

Haidl adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita yang sudah mencapai usia 9 tahun Hijriyah kurang sedikit (16 hari tidak genap), tidak disebabkan penyakit atau sebab melahirkan. Selain syarat-syarat di atas, darah dihukumi haidl apabila :

a. Mencapai 24 jam.

b. Tidak lebih dari 15 hari 15 malam.

c. Sesuai dengan warna dan sifat darah haidl.

d. Keluar pada waktu yang memungkinkan untuk dihukumi haidl (selain masa suci).

Oleh sebab itu, darah yang tidak sesuai dengan ketentuan di atas hukumnya adalah istihadloh. Sedangkan batas maksimal seseorang wanita tidak haidl itu tidak ada ketentuan. Pada masa monopause (masa bebas haidl), dimana umumnya wanita sudah tidak keluar darah haidl dan tidak produktif lagi itu hanya berdasar adat kebiasaan, bukan ketentuan syara’. Dengan demikian, jika pada masa monopause seorang wanita mengeluarkan darah yang sesuai dengan syarat-syaratnya darah haidl, tetap dihukumi haidl juga.

II. DASAR DAN HUKUM BELAJAR MASALAH HAIDL

Dalil yang menjadi dasar hukum dan hakikat dari haidl atau nifas adalah Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 222 dan Al-Hadits riwayat Bukhori Muslim.

Sedangkan hukum mempelajari ilmu yang membahas tentang haidl, nifas dan sekitarnya adalah :

a. Fardlu Kifayah bagi laki-laki.

b. Fardlu ‘Ain bagi kaum wanita.

Maksudnya, wajib bagi setiap wanita untuk belajar dan mengerti masalah-masalah haidl, nifas dst. Sehingga walaupun sudah bersuami, apabila tidak mengerti dan suaminya juga tidak dapat memberi penjelasan tentang haidl, nifas dst, maka wajib bagi perempuan tersebut untuk belajar, meskipun harus keluar dari rumah. Dan bagi suaminya tidak boleh (haram) melarang istrinya yang keluar rumah guna belajar masalah haidl, nifas dst.

III. BATASAN DARAH HAIDL

Haidl selalu ditandai dengan adanya (wujudnya) darah, namun tidak berarti setiap darah itu haidl. Sebab darah yang dikeluarkan oleh wanita itu adakalanya darah haidl, nifas atau istihadloh.

Darah yang keluar dari wanita, bisa dihukumi haidl apabila wanta tersebut telah mencapai usia 9 tahun hijriyah kurang 16 hari tidak genap. Maksud dari 16 hari tidak genap adalah waktu yang tidak mencukupi digunakan untuk minimal haidl (=1 hari 1 malam) dan minimal suci (=15 hari 15 malam).

Apabila wanita yang mengeluarkan darah belum mencapai usia dimaksud, maka darah tersebut hukumnya adalah istihadloh secara mutlak. Dan jika sebagian di luar usia dan sebagian lagi dalam usia wanita yang haidl, maka darah yang berada di luar usia hukumnya darah istihadloh, sedangkan darah yang keluar saat sudah mencapai usia wanita yang haidl adalah haidl (dengan syarat masa keluarnya mencapai 24 jam).

Contoh :

Seorang wanita berusia 9 tahun hijriyah kurang 20 hari, mengeluarkan darah selama 10 hari, maka :

= 4 hari lebih sedikit yang awal hukumnya istihadloh. Sebab saat keluar darah belum mencapai usia wanita yang mengalami haidl.

= 6 hari kurang sedikit yang selanjutnya hukumnya haidl. Sebab saat keluar darah, usia wanita tersebut telah mencapai usia wanita yang mengalami haidl dna jumlahnya mencapai 24 jam.

Paling sedikit haidl 24 jam, baik keluarnya terus-menerus atau terputus-putus dalam masa 15 hari 15 malam. Maksimalnya masa haidl itu 15 hari 15 malam. Sedangkan umumnya haidl itu 6 atau 7 hari (malam).

Darah yang masa keluarnya tidak mencapai 24 jam atau mencapai 24 jam namun ditempuh dalam waktu lebih dari 15 hari 15 malam, hukumnya adalah darah istihadloh. Sedangkan jika masa keluarnya darah diragukan, mungkin mencapai 24 jam dan mungkin tidak, makanya hukumnya khilaf.

  • Menurut Ibnu Hajar, hukumnya adalah darah istihadloh.
  • Menurut Imam Romli, hukumnya adalah darah haidl.

Bagi wanita yang mengalami haidl secara normal, yaitu masa keluarnya darah mencapai 24 jam dan tidak melebihi 15 hari 15 malam, maka semuanya dihukumi haidl. Walaupun warna dan sifatnya berbeda-beda. Dan dia tidak dibenarkan menggunakan standart adat (kebiasaan) atau sifat kuat sebagai ukuran haidlnya.

Begitu juga dihukumi haidl adalah masa suci (putus darah) yang berada diantara darah haidl.

Contoh :

Seorang wanita (sudah pernah haidl maupun belum pernah) mengeluarkan darah sbb :

Darah merah …………………………………………………..= 3 hari

Suci …………………………………………………………………..= 3 hari

Darah hitam ……………………………………………………= 3 hari

Darah kuning ………………………………………………….= 3 hari

——————————————–

= Haidlnya adalah 12 hari

IV. BATASAN SUCI HAIDL

Batas minimal suci yang memisahkan haidl satu dengan haidl yang lain adalah 15 hari 15 malam. Umumnya suci haidl itu 23 atau 24 hari, tergantung kebiasaan haidlnya. Sedangkan maksimalnya suci haidl itu tidak ada batasan tertentu.

Apabila suci haidl tidak mencapai 15 hari 15 malam, artinya sebelum masa suci mencapai 15 hari 15 malam sudah keluar darah lagi, (dengan warna dan sifat sama) maka berarti wanita tersebut mengalami istihadloh. Sedangkan metode untuk menetapkan berapa haidl dan berapa istihadlohnya, maka diperinci sbb :

a. JIka masa keluarnya darah yang pertama ditambah masa suci jumlahnya mencapai 15 hari atau lebih, dan masa keluarnya darah kedua ditambah masa suci jumlahnya genap 15 hari atau kurang 15 hari, maka hukumnya adalah,

Darah yang pertama (sebelum masa suci) = HAIDL

Darah yang kedua (setelah masa suci)……..= ISTIHADLOH

Contoh :

Seorang wanita (pernah haidl maupun belum pernah) mengeluarkan darah sbb :

Darah merah ……………………………………………= 10 hari

Suci …………………………………………………………..= 10 hari

Darah merah …………………………………………..= 5 hari

——————————————

= 10 hari pertama hukumnya haidl

10 hari selanjutnya hukumnya suci

5 hari terakhir hukumnya istihadloh

b. Jika masa keluarnya darah yang pertama ditambah masa suci jumlahnya mencapai 15 hari atau lebih, dan masa keluarnya darah kedua ditambah masa suci jumlahnya lebih dari 15 hari, maka hukumnya adalah,

Darah yang pertama (sebelum masa suci) ……..= HAIDL

Darah yang kedua yang menjadi

penyempurna genapnya suci 15 hari ……………..= ISTIHADLOH

Sedangkan darah kedua selain yang menjadi penyempurna hukumnya adalah,

Jika mencapai 24 jam ……………………………………….= HAIDL

JIka kurang dari 24 jam ……………………………………= ISTIHADLOH

Contoh :

Seorang wanita (pernah haidl maupun belum pernah) mengeluarkan darah sbb :

1. Darah merah ………………………………………………….= 10 hari

Suci ………………………………………………………………….= 10 hari

Darah merah …………………………………………………..= 10 hari

———————————————

= 10 hari pertama hukumnya haidl

10 hari selanjutnya hukumnya suci

5 hari selanjutnya hukumnya istihadloh

5 hari selanjutnya hukumnya haidl

2. Darah hitam ……………………………………………………..= 10 hari

Suci ……………………………………………………………………= 10 hari

Darah hitam ……………………………………………………..= 5 hari.20 jam

—————————————————

= 10 hari pertama hukumnya haidl

10 hari selanjutnya hukumnya suci

5 hari selanjutnya hukumnya istihadloh

20 jam selanjutnya hukumnya istihadloh

Jika sisa darah kedua (selain yang menjadi penyempurna suci 15 hari) jumlahnya lebih dari 15 hari, maka haidl dan sucinya (sisa darah kedua) disamakan dengan standart adat haidl dan suci (apabila sudah mempunyai adat).

Contoh :

Seorang wanita yang mempunyai adat haidl 5 hari dan suci 15 hari, mengeluarkan darah sbb :

Darah hitam ……………………………………………………..= 5 hari

Suci ……………………………………………………………………= 14 hari

Darah hitam …………………………………………………….= 21 hari

———————————————-

= 5 hari pertama hukumnya haidl

14 hari selanjutnya hukumnya suci

1 hari selanjutnya hukumnya istihadloh

5 hari selanjutnya hukumnya haidl (disamakan adat)

15 hari selanjutnya hukumnya suci

c. Jika masa keluarnya darah yang pertama ditambah masa suci jumlahnya tidak mencapai 15 hari, maka apabila belum pernah haidl dan suci hukumnya adalah,

1 hari 1 malam pertama …………………………………………………….= HAIDL

29 hari selanjutnya ………………………………………………………………= SUCI

Contoh :

Seorang wanita yang belum pernah haidl mengeluarkan darah sbb :

Darah hitam …………………………………………….= 4 hari

Suci …………………………………………………………..= 10 hari

Darah hitam …………………………………………….= 16 hari

——————————————

= Sehari semalam pertama hukumnya haidl, sedangkan sisanya suci.

d. Jika masa keluarnya darah yang pertama ditambah masa suci jumlahnya tidak mencapai 15 hari, maka apabila sudah pernah haidl dan suci, maka hukumnya disamakan dengan adat (haidl dan suci) tersebut.

Contoh :

Seorang wanita yang mempunyai adat haidl 5 hari dan suci 25 hari, mengeluarkan darah sbb :

Darah merah ………………………………………………………= 7 hari

Suci ………………………………………………………………………= 7 hari

Darah merah ………………………………………………………= 16 hari

———————————————-

= 5 hari 5 malam pertama hukumnya haidl, sedangkan sisanya suci.

Keterangan :

1. Jika dalam masalah di atas darah bisa dibedakan antara kuat dan lemah, maka yang dihukumi haidl adalah darah kuat (jika menetapi syarat).

Contoh :

Seorang wanita (pernah haidl maupun belum) mengeluarkan darah sbb :

Darah merah ……………………………………..= 7 hari

Suci …………………………………………………….= 7 hari

Darah hitam ………………………………………= 7 hari

————————————-

= 7 hari pertama hukumnya istihadloh

7 hari selanjutnya hukumnya suci

7 hari selanjutnya hukumnya haidl

2. Adat haidl bisa dijadikan standart hukum apabila bertepatan dengan masa keluar darah.

Jika mustahadhoh mengeluarkan darah terputus-putus dan akhirnya masa adat haidl bertepatan waktu tidak keluar darah, maka yang dihukumi haidl adalah masa keluar darah (sebelumnya).

Contoh :

Seorang wanita yang sudah pernah haidl mengeluarka darah sbb :

Darah merah ……………………………………….= 5 hari

Suci ………………………………………………………= 8 hari

Darah merah ………………………………………= 8 hari

————————————-

Jika adat haidlnya 3 hari, maka haidlnya 3 hari

Jika adat haidlnya 5 hari, maka haidlnya 5 hari

Jika adat haidlnya 7 hari, maka haidlnya 5 hari

Jika adat haidlnya 10 hari, maka haidlnya 5 hari

Jika adat haidlnya 14 hari, maka haidlnya 14 hari

Jika adat haidlnya 15 hari, maka haidlnya 15 hari

(………berlanjut di halaman berikutnya)

Iklan

MENCARI KEBAHAGIAAN

Posted in Motivation on November 19, 2008 by riy4nti

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti. Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia dicintai.Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.

Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati, berusaha meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada. Manusia buta karena egois dan hanya memikirkan diri, tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.

Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri. Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati. Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan. Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan nomor satu dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain, dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.

Kebahagiaan bersumber dari dalam diri kita sendiri. Jikalau berharap dari orang lain, maka bersiaplah untuk ditinggalkan, bersiaplah untuk dikhianati. Kita akan bahagia bila kita bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri,mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain.

Percayalah kepada Allah, dan bersyukurlah kepada-Nya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati. Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari. Berusaha dan bahagialah karena kita dicintai begitu banyak orang.

Ber-Qurban

Posted in Fiqih on November 18, 2008 by riy4nti

Kurban adalah binatang yang disembelih guna ibadat kepada Allah pada hari raya haji dan tiga hari tasyrik setelahnya (11, 12, 13 Dzulhijjah). Adapun hukum berkurban menurut sebagian ulama bahwa kurban itu adalah wajib, sebagian yang lain mengatakan kurban itu sunnah.

Alasan yang berpendapat wajib adalah :

Firman Allah yang artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberi engkau (ya Muhammad) akan kebajikan yang banyak. Sebab itu sholatlah (pada hari raya haji) karena Allah dan sembelihlah kurban.” (QS. Al- Kautsar : 1-2).

Sabda Nabi MUhammad SAW yang artinya : Dari ABu HUrairah : ‘Rasulullah telah bersabda : “Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat sholat kami.”” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Alasan yang berpendapat sunnah adalah :

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : Saya disuruh menyembelih kurban dan kurban itu sunnah bagi kamu. (HR. Tirmidzi).

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : Diwajibkan kepadaku berkurban, dan tidak wajib atas kamu.

Binatang yang sah untuk kurban adalah yang tidak cacat, seperti pincang, sangat kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya, dan telah berumur sebagai berikut :

1. Domba yang telah berumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya.

2. Kambing yang telah berumur dua tahun lebih.

3. Unta yang telah berumur lima tahun lebih.

4. Sapi. kerbau, yang telah berumur dua tahun lebih.

Sabda Nabi Muhammad SAW :

Dari Barra’ bin ‘Azib : “Rasulullah SAW telah bersabda : ‘EMpat macam binatang yang tidak sah dijadikan kurban : rusak matanya, sakit, pincang, kurus yang tidak bergajih lagi'”. (HR. AHmad).

Waktu Penyembelihan Kurban

Waktu menyembelih kurban mulai dari matahari setinggi tombak pada Hari Raya Hajji sampai terbenam matahari tanggal 13 bulan Dzulhijjah.

Sabda Nabi Muhammad SAW :

“Barang siapa menyembelih kurban sebelum sholat Hari Raya Hajji, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barang siapa menyembelih kurban sesudah sholat Hari Raya dan dua khutbahnya, sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya dan ia telah menjalani aturan Islam” (HR. Muslim).

Yang dimaksud sholat Hari Raya dalam hadits tersebut adalah waktunya, bukan sholatnya karena mengerjakan sholat tidak menjadi syarat menyembelih kurban.

Sunnah Menyembelih

Di saat penyembelihan berlangsung maka disunnahkan beberapa hal, yaitu :

1. Membaca Bismillah.

2. Membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW.

3. Membaca takbir.

4. Berdo’a supaya kurban diterima oleh Allah.

5. Binatang yang disembelih itu hendaklah dihadapkan ke kiblat.

6. Memotong dua urat yang ada dikiri kanan leher supaya cepat mati.

7. Binatang yang panjang lehernya, sunnah disembelih dipangkal lehernya.

8. Binatang yang disembelih itu hendaknya digulingkan ke sebelah rusuknya yang kiri, supaya mudah disembelih.

9. DIhadapkan ke kiblat.

Sebagaimana Ulama berpendapat bahwa membaca Bismillah itu wajib dengan alasan FIrman Allah : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala, dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bahwasanya haram memakan binatang yang disembelih dengan nama selain nama Allah, namun Ulama yang mengatakan ‘bismillah’ itu sunnah, menyatakan bahwa ayat itu tidak menunjukkan wajibnya membaca ‘bismillah’, tetapi ayat itu hanya mengharamkan menyembelih dengan nama selain nama Allah, berarti dengan diam tidak menyebut sesuatu nama apapun tidak ada halangan.

Adapun rukun menyembelih adalah penyembelih hendaklah orang Islam atau ahli KItab yang disembelih adalah binatang yang halal, dan dengan menggunakan alat pemotong.

Krisis Moral

Posted in Motivation on November 2, 2008 by riy4nti

Setiap generasi berlalu terjadilah kemerosotan moral pada generasi yang selanjutnya, sebagaimana Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik kurun atau masa dimana aku hidup kemudian masa setelah itu dan kemudian masa setelah itu.

Diriwayatkan, suatu ketika Nabi Sulaiman As. hendak berjalan mengelilingi. Beliau berkeinginan untuk menjumpai orang atau makhluk Allah SWT yang dapat menceritakan keadaan dunia dari dulu hingga sekarang. Apakah generasi penduduk dunia mengalami kebaikan atau tidak? Akhirnya beliau menemukan seekor burung gagak yang berusia sangat tua, burung itu bersemayam di sebuah goa. Lalu beliau mengutarakan keperluan kepada burung gagak tersebut. Si burung gagak itu berkata menuturkan pengalaman yang telah ia alami, Wahai Nabiyullah, dengarkan ceritaku ini! Kemudian burung gagak itu bercerita. Suatu saat di musim dingin, si gagak sangat kelaparan. Ia telah mencari makanan kesana kemari, namun ia tidak menemukan apapun. Ia terbang dari ufuk barat hingga ufuk timur, tapi tetap saja perutnya kosong. Akhirnya burung gagak tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanannya mencari makanan karena cuaca semakin buruk dan badannya semakin lemah. Si burung gagak hinggap di menara masjid berharap ada yang mengasihinya. DI atas menara itu burung gagak melihat ada yang sholat dalam masjid. DIbarisan pertama terdiri orang-orang tua yang berjenggot putih. Barisan kedua terdiri dari orang-orang yang berjenggot hitam, dibarisan ketiga terdiri dari anak-anak muda yang masih belum berjenggot. Setelah selesai sholat, ada yang berteriak, Hai lihatlah! Ada seekor burung gagak di atas menara, kelihatannya ia sangat kelaparan, marilah kita sembelihkan seekor sapi untuknya. Mereka pun menyembelih sapi untuk burung gagak itu. Pada musim dingin tahun berikutnya, terulang kejadian yang sama, perut si gagak kembali kelaparan dan ia hinggap di menara masjid yang sama. Sehingga salah seorang berseru pada yang lainnya. Dan mereka pun sepakat untuk menyembelih seekor kambing untuk diberikan pada si burung gagak. Waktu berlalu, musim dingin pun kembali tiba, perut gagak kembali kelaparan, dan ia hinggap di menara masjis yang sama. Lagi-lagi ia berharap ada yang mengasihi. Akan tetapi terjadi keanehan, dimana orang-orang sholat dibaris pertama anak-anak muda belum berjenggot, baris kedua orang tua berjenggot hitam, baris ketiga- orang tua berjenggot putih. Setelah mereka melihat si burung gagak, mereka berteriak, terlihat ada yang membawa senapan, mereka pun menembaki si burung gagak, tapi untungnya si burung gagak dapat kabur menjauh dan akhirnya selamat.

Dengan kejadian yang telah dialami burung gagak itu, maka Nabi SUlaiman As. berkesimpulan bahwa penduduk dunia semakin menurun, tidak malah jadi baik. Setiap kurun dan generasi berikutnya tidak lebih baik dari generasi sebelumnya, begitupun seterusnya. hal itu terbukti apa yang telah dialami burung gagak tersebut, dari mulai ia dihadiahi sapi, kemudian dikurun berikutnya ia dihadiahi sembelihan kambing (sudah mulai menurun). Dan dikurun berikutnya si burung gagak tidak mendapatkan hadiah sembelihan, malah akan dibunuh oleh generasi tersebut, tidak seperti generasi sebelumnya yang memberikan hadiah sembelihan kepada burung gagak itu.