Menangkal Virus Selingkuh dengan Iman, Akhlak dan ILmu


Memperkuat keimanan dan memperbaiki akhlak kita terhadap sesama manusia termasuk pada istri, cukup ampuh untuk menangkal virus selingkuh. Memperkuat iman, misalnya dengan kecerdasan spiritual kita mengerti bahwa surat An-Nisaa’ (19) jelas-jelas melarang kita mendzolimi istri baik secara fisik maupun hatinya. Perselingkuhan tentu akan menyakiti hati istri. Selain itu perlu pula menambah ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu sosial tentang hubungan antar manusia. Misalnya kita harus mengetahui tentang penyebab perselingkuhan, seperti sering berduaan dan pergi berduaan dengan bukan mahram di tempat kerja atau tempat lain. Saya pikir, mengistimewakan seseorang di luar keluarga juga harus dihindari untuk mencegah terjadinya perselingkuhan.

Penting pula tahu filosofi keluarga, suami istri dan keluarga pasangan. MIsalnya, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa istri adalah pakaian bagi suami, demikian sebaliknya.

Kenapa pakaian?? KIta lihat saja dari fungsi-fungsi pakaian, yakni sebagai perhiasan, penutup aurat, pelindung dari cuaca dan sebagai pembeda. Disebut perhiasan, karena perhiasan bisa menumbuhkan kebanggaan. Jadi, terhadap suami atau istri kita harus memperlihatkan sisi terbaik agar bisa membuat bangga pasangan. Sebagai penutup aurat, suami-istri harus saling menutupi aib masing-masing. Tidak boleh saling membeberkan kejelekan pasangan pada orang lain. Pakaian sebagai pelindung dari cuaca bermakna suami-istri harus saling melindungi diri dari godaan dan sebagainya. Sementara fungsi pakaian sebagai pembeda bermakna orang yang sudah menikah harus sadar diri bahwa ia berbeda dengan sebelum menikah. Bahwa saya tidak available lagi untuk “didekati”.

Pengetahuan-pengetahuan seperti itu harus disuntikkan ke dalam diri kita layaknya vaksin yang bisa membuat kita lebih kebal terhadap virus selingkuh. Semua memang terdengar seperti teori, tapi kalau coba dijalani kayaknya bisa-bisa saja sih.

Kalau ada yang bilang ketidakcocokan bisa mengakibatkan perselingkuhan, saya tidak setuju. Ketidakcocokan sifat, karakter, ataupun kebiasaan tidak bisa dijadikan alasan untuk selingkuh. Dalam perkawinan yang terpenting adalah empati. Empati itu adjustment, kalau tidak punya empati pada pasangan, apapun jadi nggak cocok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: