Arsip untuk Juli, 2008

Perbedaan Laki-laki dan Perempuan Dalam Sholat

Posted in Fiqih on Juli 29, 2008 by riy4nti

Perbedaan laki-laki dan perempuan tidak hanya dalam tindakan sehari-hari saja, tapi dalam ibadah sholat pun tindakan kedua insan ini berbeda. Sehingga tindakan rukun sholat tidak seluruhnya sama antara laki-laki dan perempuan. Keadaan seperti ini tidak mengurangi pahala sholat antara keduanya.

Adapun ketentuan tindakan dalam sholat tersebut adalah :

  1. Ketentuan tindakan sholat bagi laki-laki

    Ketentuan tindakan sholat bagi laki-laki yang berbeda dengan tindakan sholat bagi perempuan terletak pada 4 hal, yaitu :

    – Bagi laki-laki dalam melaksanakan tindakan sholat yang berupa sujud itu memiliki ketentuan sehingga antara siku dan sisi tubuh itu tidak saling menempel.

    – Bagi laki-laki dalam melaksanakan sujud dan ruku’ diharapkan mengangkat perut di atas posisi pahanya. Dan didalam ruku’ juga laki-laki diharapkan untuk meratakan punggung dan lehernya dengan merenggangkan kedua tangannya dilutut seolah-olah jika ditaruh sebuah air dalam gelas, maka tidak akan tumpah. Dan betisnya pun diharapkan rata dan jangan sekali-kali mendongakkan kepala ketika melakukan sujud dan ruku’, karena hal itu sama halnya anjing.

    Sebagaimana dalam riwayat Siti ‘Aisyah :

    Bahwasanya Rasululloh SAW melakukan hal tersebut, adapun bagi perempuan hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Karena hal itu lebih dapat menutupi, sementara bagi laki-laki hendaknya menjauhkan (merenggangkan) kedua sikunya dari dua sisi tubuh ketika waktu sujud. Dalam Shohih Bukhori dan Muslim disebutkan bahwasanya Rasululloh ketika melakukan sujud merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih-putih kedua ketiaknya.”

    – Bagi laki-laki diharapkan untuk mengeraskan suaranya dalam setiap bacaan sholat yang memang dikeraskan (sholat maghrib, isya’, shubuh) baik ada dihadapan makmum perempuan maupun tidak.

    – Bagi laki-laki diharapkan untuk mengucapkan tasbih ketika imam melakukan kesalahan dalam sholat karena lupa sebagai bentuk peringatan, atau pemberitahuan kepada imam dengan niat berdzikir atau dengan niat berdzikir beserta memberitahu imam, tapi kalau hanya berniat memberitahu imam saja maka sholatnya bisa dianggap batal, karena mengucapkan lebih dari dua huruf. Sebagaimana dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim :

    Barang siapa yang melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca tasbih karena ketika seseorang itu bertasbih maka ia diingatkan, sementara bertepuk tangan adalah untuk perempuan. Dalam riwayat Bukhori disebutkan bahwa arang siapa melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca Subhanallah”

  2. Ketentuan tindakan sholat bagi perempuan

    Ketentuan tindakan sholat bagi perempuan yang berbeda dengan tindakan sholat laki-laki terletak pada 4 hal juga, yaitu :

    – Bagi perempuan dalam melaksanakan tindakan sholat yang berupa yang berupa sujud itu memiliki ketentuan bahwa siku kedua tangannya diharapkan dikumpulkan (nempel) dengan kedua sisi tubuh (lambung), sehingga antara siku dan sisi tubuh itu tidak saling merenggang dan menjauh.

    – Bagi perempuan dalam melaksanakan sujud dan ruku’ diharapkan tidak mengangkat perut di atas posisi pahanya. Dan didalam ruku’ juga perempuan diharapkan untuk meratakan punggung dan lehernya serta merapatkan kedua tangannya, kaki aak rapat. Dan betisnya pun diharapkan rata, dan jangan sekali-kali mendongakkan kepala ketika melakukan sujud dna ruku’ karena hal itu sama halnya anjing. Sebagaimana dalam riwayat Siti ‘Aisyah :

    Bahwasanya Rasululloh SAW melakukan hal tersebut, adapun bagi perempuan hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Karena hal itu lebih dapat menutupi, sementara bagi laki-laki hendaknya menjauhkan (merenggangkan) kedua sikunya dari dua sisi tubuh ketika waktu sujud. Dalam Shohih Bukhori dan Muslim disebutkan bahwasanya Rasululloh ketika melakukan sujud merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih-putih kedua ketiaknya.

    – Bagi perempuan diharapkan untuk tidak mengeraskan suaranya dalam setiap bacaan sholat yang memang dikeraskan (sholat maghrib, isya’, shubuh) dihadapan laki-laki lain, kalau misalkan sholat sendirian dan tidak ada laki-laki lain maka tidaklah mengapa untuk mengeraskan suaranya. Karena ada sebagian ulama’ yang mengatakan bahwa suara perempuan adlaah merupakan aurat.

    – Bagi perempuan diharapkan untuk bertepuk tangan dengan cara telapak tangan kanan memukul pada punggung tangan kiri (kalau tidak maka itu dianggap main-main dan dapat membatalkan sholat) ketika imam melakukan kesalahan dalam sholat karena lupa sebagai bentuk peringatan, atau pemberitahuan kepada imam. Sebagaimana dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim :

    Barang siapa yang melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca tasbih karena ketika seseorang itu bertasbih maka ia diingatkan, sementara bertepuk tangan adalah untuk perempuan. Dalam riwayat Bukhori disebutkan bahwa arang siapa melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca Subhanallah

Catatan :

Apabila seorang laki-laki melakukan tepuk tangan sedangkan perempuan mengucapkan tasbih maka tidaklah mengapa, akan tetapi hal ini menyalahi sunnah. Begitu juga bagi perempuan yang melakukan tepuk tangan dengan berkali-kali maka dianggap tidak mengapa dalam artian tidak sampai membatalkan sholat (Kalau mau bertepuk tangan maka harus sudah melakukan rukun).

Iklan

Kiblat Ka’bah atau Jihatnya?????????

Posted in Fiqih on Juli 22, 2008 by riy4nti

Tidaklah ada perbedaan paham antara kaum muslimin, bahwa menghadap kiblat itu wajib untuk sahnya sholat, hanya perbedaan paham tentang apakah yang wajib dihadapi itu. Ka’bah itu betul ataukah cukup menghadap jihat (arah yang menuju) ka’bah???

Cara Menghadap Kiblat :

  1. Orang yang berada di Mekkah dan mungkin baginya untuk menghadap ka’bah, wajib atasnya menghadap ka’bah sungguh.

  2. Orang yang berada di lingkungan Masjid Nabi di Madinah (Nabawi), wajib menurut pada mihrab (mimbar) masjid itu, sebab mihrab masjid itu ditentukan oleh wahyu, dengan sendiri tepat menghadap ka’bah.

  3. Orang yang jauh dari ka’bah, sah baginya menghadap ke jihat (arah menuju) ka’bah.

Adapun dalil yang menunjukkan hal tersebut (Arah kiblat menuju kab’ah)adalah :

a. Al-Qur’an Surat Al-Baqoroh ayat 144 :

Artinya : “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maa hadapkanlah wajahmu ke arah masjidil haram. Dan dimana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi itab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Alloh tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”

b. Hadits Ibnu Umar, yang artinya : dari Ibnu Umar, ketika orang banyak sholat shubuh di masjid Quba, tiba-tiba datang seseorang kepada mereka, kata orang itu, sesungguhnya telah diturunkan kepada Nabi pada malam ini Al-Qur’an dan Beliau disuruh menghadap kiblat, maka hendaklah kamu menghadapnya, ketika itu mereka menghadap ke Syam (kiblat lama), lantas mereka menghadap ke ka’bah.

c. Karena menghadap jihat itulah yang mungkin baginya dna dengan kemungkinan itulah terletak hukum wajib (harus yakin bahwa jihat itu menghadap ka’bah).

d. Mereka mengakui sah sholat orang-orang yang tersebut di bawah ini :

  1. Sholat orang yang barisannya panjang dan berlipat ganda dari lintang ka’bah (wilayah ka’bah).

  2. Sholat orang di atas bukit menghadap ke lapangan di atas ka’bah.

  3. Sholat orang di atas tanah yang rendah menghadap ke bawah dari ka’bah.

Boleh tidaknya menghadap kiblat (Alasan tidak menghadap kiblat) pada beberapa keadaan di bawah ini :

  1. Ketika sangat takut sehingga tak dapat tetap menghadap kiblat, umpamanya dalam peperangan. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Al-Baqoroh ayat 239 :

    Artinya : “Jika kamu takut, maka bolehlah kamu sholat berjalan kaki atau berkendaraan”.

    Contoh : sholat khouf

    Menurut tafsir Ibnu Umar yang dimaksud dengan berjalan kaki atau berkendaraan adalah menghadap kiblat atau tidak menghadap kiblat.

  2. Orang yang dalam perjalanan di atas kendaraan, apabila sholat sunnah di atas kendaraannya itu, boleh menghadap ke arah tujuan perjalanannya, walaupun tidak menghadap kiblat sekalipun. Hanya diwajibkan menghadap kiblat sewaktu takbiratul ihram.

  3. Bila kiblat tidak diketahui, maka sebagaimana hadits yang artinya : “dari ‘Amir bin Rabi’ah : adalah kami bersama-sama Rasululloh pad amalam gelap gulita, kami tidak mengetahui dimana kiblat. Kami seholat menurut pendapat masing-masing. Setelah waktu shubuh kami beritahukan hal yang demikian kepada Nabi, maka ketika itu turunlah ayat (kemana saja kamu menghadap, maka disitulah arah yang disukai Alloh).”