Arsip untuk Juni, 2008

SHOLAT JUM’AT

Posted in Fiqih on Juni 20, 2008 by riy4nti

Sholat Jum’at adalah sholat dua roka’at sesudah khutbah pada waktu dhuhur di hari Jum’at. Adapun hukumnya adlaah fardhu ‘ain artinya wajib atas setiap laki-laki yang dewasa yang beragama Islam, merdeka dan tetap di dalam negeri (di tanah kelahiran), sehingga tidak wajib Jum’at bagi perempuan, anak-anak, hamba sahaya, dan orang yang sedang dalam perjalanan.

Firman Alloh : Q.S. Surat Al-Jumu’ah : 9

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk sholat (mendengar adzan) pada hari Jum’at, maka hendaklah kamu segera mengingat Alloh (sholat Jum’at), dan tinggalkanlah jual beli”

Yang dimaksud jual beli adalah segala pekerjaan yang selain dari pada sholat.

Sabda Nabi Muhammad SAW :

Rasululloh Saw bersabda : Jum’at itu hak yang wajib dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam dengan berjama’ah, kecuali empat macam orang : hamba sahaya, perempuan, anak-anak, orang sakit.” (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Rasululloh bersabda : Hendaklah beberapa golongan berhenti dari meninggalkan Jum’at, kalau tidak, Alloh akan mencap hati mereka, kemudian mereka akan dimasukkan ke dalam golongan orang yang lalai.” (HR. Muslim).

Syarat-syarat Wajib Jum’at :

  1. Islam, tidak wajib Jum’at atas orang-orang yang bukan Islam.

  2. Baligh (dewasa), tidak wajib Jum’at atas anak-anak.

  3. Berakal, tidak wajib Jum’at atas orang gila.

  4. Sehat, tidak wajib Jum’at atas orang sakit atau berhalangan.

  5. Tetap di dalam negeri atau tanah kelahiran, tidak wajib Jum’at atas orang yang dalam perjalanan.

Syarat-syarat Mendirikan Jum’at :

  1. Hendaklah diadakan di dalam negeri yang tetap, yang telah dijadikan wathan, baik di kota-kota maupun di kampung-kampung, maka tidak sah mendirikan Jum’at di ladang, perkemahan yang penduduknya tinggal di sana untuk sementara waktu saja. Di masa Rosululloh Saw. dan di masa sahabat yang empat tidak pernah mendirikan Jum’at selain di negeri yang tetap.

  2. Berjama’ah, karena tidak pernah di masa Rosululloh sholat Jum’at dilakukan sendiri-sendiri. Sekurang-kurangnya bilangan jama’ahnya adlaah empat puluh orang laki-laki yang memiliki kriteria di atas dari penduduk negeri asli tempat diadakannya Jum’at. Namun ada pendapat sebagian Ulama’ yang mengatakan cukup dua orang saja. Karena sudah dianggap jama’ah. Namun yang masyhur adalah empat puluh jama’ah.

  3. Hendaklah dikerjakan diwaktu Dhuhur.

    Rosululloh Saw bersabda : “Sholat Jum’at ketika telah tergelincir matahari” (HR. Bukhori).

  4. Hendaklah sholat Jum’at itu didahului oleh dua khutbah.

    Dari Ibnu Umar : Rasululloh Saw berkhutbah dengan dua khutbah pada hari Jum’at sambil berdiri dna beliau duduk diantara dua khutbah itu. (HR. Bukhori dan Muslim).

Khutbah Jum’at :

Rukun dua khutbah Jum’at :

  1. Mengucapkan puji-pujian kepada Alloh (baca Hamdalah).

  2. Sholawat atas Rasululloh Saw, sebagian Ulama’ mengatakan tidak wajib.

  3. Mengucapkan syahadat (menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh).

    Rasululloh bersabda : “tiap-tiap khutbah yang tidak ada syahadatnya adalah seperti tangan yang terpotong” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

  4. Berwasiat (bernasihat) dengan taqwa dan mengajarkan apa-apa yang perlu kepada pendengar, sesuai dengan keadaan tempat dan waktu, baik urusan agama maupun urusan dunia, seperti ibadah, kesopanan, pergaulan, perekonomian, pertanian, siasat dan sebagainya serta bahasa yang dipahami oleh pendengarnya.

  5. Membaca ayat Al-Qur’an pada salah satu dari dua khutbah.

    Dari Jabir bin Samurah, katanya : Rasululloh Saw khutbah berdiri, beliau duduk diantara keduanya, lalu beliau membacakan beberapa ayat Al-Qur’an, memperingatkan dan menakuti atas siksa kepada manusia (HR. Muslim).

  6. Berdo’a untuk mukminin dan mukminat pada khutbah yang kedua, sebagian Ulama’ mengatakan tidak wajib.

Syarat-syarat Dua Khutbah :

  1. Hendaklah kedua khutbah itu dimulai sesudah tergelincirnya matahari.

  2. Sewaktu berkhutbah hendaklah berdiri jika mampu.

  3. Khotib hendaklah duduk diantara dua khutbah, sekurang-kurang berhenti sebentar sekedar waktu thuma’ninah dalam sholat.

  4. Hendaklah dengan suara yang keras, kira-kira terdengar oleh bilangan yang sah dalam jama’ah Jum’at karena tujuan khutbah adalah menasehati keempat puluh orang yang sah itu.

  5. Hendaklah berturut-turut, baik rukun, jarak kedua khutbah maupun antara keduanya dengan sholat.

  6. Khotib hendaklah suci dari hadats.

Sunnah yang bersangkutan dengan Khutbah :

  1. Hendaklah khutbah itu dilakukan di atas mimbar atau di tempat yang tinggi yang berada di sebelah kanan pengimaman.

  2. Khutbah itu diucapkan dengan kalimat yang fasih, terang, mudah dipahami, sederhana, tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek.

  3. Khotib hendaklah tetap saja menghadap kepada orang banyak, jangan berputar-putar.

  4. Membaca surat Al-Ikhlas sewaktu duduk diantara dua khutbah.

  5. Menertibkan tiga rukun khutbah. Yaitu dimulai dengan puji-pujian, kemudian sholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian berwasiat (bernasihat) selain itu tidak ada tertib.

  6. Pendengar hendaklah diam serta memperhatikan khutbah. Mayoritas Ulama’ mengatakan haram bercakap-cakap ketika mendengarkan khutbah.

    Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Saw telah bersabda : “apabila engkau katakan kepada temanmu pada hari Jum’at “diam” sewaktu imam berkhutbah, maka sesungguhnya telah binasalah Jum’atmu” (HR. Bukhori).

  7. Khotib hendaklah memberi salam.

  8. Khotib hendaklah duduk di atas mimbar sesudah salam. Dan sesudah duduk itulah adzan dilakukan.

Sunnah Jum’at :

  1. Disunnahkah mandi pada hari Jum’at bagi orang yang akan pergi ke masjid untuk sholat Jum’at.

  2. Berhias dengan memakai pakaian yang bagus dna lebih baik kain yang berwarna putih.

  3. Memakai harum-haruman.

    Barang siapa mandi pada hari Jum’at, memakai pakaian yang sebaiknya, memakai harum-haruman kalau ada, kemudian ia pergi mendatangi Jum’at dan di sana ia tidak melangkahi duduk manusia, kemudian ia sholat sunnah serta diam ketika imam keluar smapai selesai sholat, maka yang demikian itu akan menghapuskan dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at yang sebelumnya” (HR. Hibban dan Hakim).

  4. Bersegera pergi ke Jum’at dengan berjalan kaki.

  5. Memotong kuku, menggunting kumis.

    Rosululloh Saw memotong kuku dan menggunting kumisnya pada hari Jum’at sebelum beliau pergi sholat” (HR. Baihaqi dan Thabrani).

  6. Hendaklah ia membaca dzikir atau Al-Qur’an sebelum khutbah.

  7. Paling baik adalah membaca surat Kahfi.

    Barang siapa membaca surat Kahfi pada hari Jum’at, cahaya antara dua jum’at akan menyinarinya”. (HR. Hakim).

  8. Hendaklah memperbanyak do’a dan sholawat atas Nabi pada hari Jum’at dan pada malamnya.

    Hendaklah kamu memperbanyak membaca sholawat atasku pada malam dan hari jum’at, maka barang siapa yang membacakan satu sholawat atasku, Alloh akan memberinya berkah”. (HR. Baihaqi).

Udzur (Halangan) atau Alasan Dalam Jum’at :

Yang dimaksud adalah bahwa apabila ada beberapa udzur atau halangan dalam menjalankan jum’at maka ia tidak wajib sholat jum’at :

  1. Karena sakit.

  2. Karena hujan deras sehingga ia mendapat kesukaran untuk pergi ke jum’atan.

    Dari Ibnu Abbas, katanya kepada Muadzin pada hari penghujan : “apabila engkau berkata (dalam adzan), saya menyaksikan bahwa Muhammad Utusan Alloh”. Sesudah itu janganlah engkau katakan : “marilah sholat”. Maka katakan olehmu : sholatlah kamu di rumah kamu. “Kata Ibnu Abbas pula : seolah-olah orang banyak membantah yang demikian. Kemudian katanya pula : adakah kamu heran akan hal ini? Sesungguhnya hal ini telah diperbuat oleh orang yang lebih dari saya yaitu Nabi, sesungguhnya jum’at itu wajib, sedangkan saya tidak suka membiarkan kamu keluar jalan dilumpur dan tempat yang licin”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Adapun perempuan yang berniat ingin mengikuti jum’at maka dia dianggap sah sholatnya, namun perempuan tidak bisa menjadi makmum yang disyaratkan ada empat puluh itu, begitupun dengan pendatang dan anak-anak, mereka sah jum’atnya tapi tidak dapat memenuhi kriteria makmum yang dikehendaki.

SHOLAT QOSHOR DAN SHOLAT JAMA’

Posted in Fiqih on Juni 4, 2008 by riy4nti
  1. Sholat Qoshor

    Sholat Qoshor adalah sholat yang diringkas diantara sholat fardhu yang lima, yang mestinya dilakukan empat roka’at menjadi dua roka’at saja. Dengan demikian yang bisa diqoshor dari kelima sholat fardhu adalah hanya dhuhur, ashar dan isya’ sedangkan maghrib dan shubuh tidka bisa diqoshor, tetap dilakukan sempurna roka’atnya.

    Hukum sholat qoshor adalah boleh, bahkan lebih baik dilakukan bagi orang yang dalam perjalanan dengan memenuhi syarat-syaratnya. Sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 101 :

    Apabila kamu berjalan di muka bumi, maka tidak ada halangan bagi kamu mengqoshor (meringkas) sholat jika kamu takut dibinasakan oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kamu yang nyata”

    Dalam Hadits juga disebutkan :

    Telah bercerita Ya’la bin Umaiyah : “ saya telah berkata kepada Umar, Alloh berfirman “jika kamu takut”, sedangkan sekarang telah aman (tidka takut lagi), Umar menjawab, saya heran juga sebagai engkau, maka saya tanyakan kepada Rosululloh, dan Beliau menjawab : Sholat Qoshor itu sedekah yang diberikan Alloh kepada kamu, maka terimalah olehmu sedeah-Nya (pemberian-Nya)” (HR. Muslim)

    Dalam Hadits lain juga disebutkan :

    Dari Ibnu Mas’ud Ra berkata : Saya sholat bersama Nabi dua roka’at dua roka’at, sholat bersama Abu Bakar dua roka’at dua roka’at”.

    Ibnu Umar Ra berkata : Saya bepergian bersama Nabi, Abu Bakar, Umar. Mereka melaksanakan sholat dhuhur dan ashar dengan dua roka’at dua roka’at”.

    Syarat Sah Sholat Qoshor :

    a. Perjalanan yang dilakukan itu bukan maksiat (terlarang), adakalanya perjalanan wajib seperti pergi untuk melaksanakan haji atau perjalanan sunnah seperti pergi untuk bersilaturrahim, ziarah, atau juga perjalanan mubah seperti pergi untuk berdagang.

    b. Perjalanan itu berjarak jauh, yaitu terhitung kurang lebih sekitar 80,640 km atau lebih (perjalanan sehari semalam). Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa tidak disyaratkan perjalanan jauh, yang penting dalam perjalanan jauh ataupun dekat. Sebagaimana dalam hadits disebutkan :

    Dari Syu’bah, katanya : saya telah bertanya kepada Anas tentang mengqoshor sholat. Jawabannya : “Rosululloh SAW, apabila beliau berjalan tiga mil (80,640 km) atau tiga farsakh (kira-kira 25,92 km), beliau sholat dua roka’at” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)”.

    c. Sholat yang diqoshor adalah sholat yang adaan (tunai), bukan sholat qodho’. Adapun sholat yang ketinggalan diwaktu perjalanan boleh diqhosor kalau memang diqodho dalam perjalanan, tetapi sholat yang ketinggalan sewaktu mukim tidak boleh diqodho dengan qoshor sewaktu dalam perjalanan.

    d. Berniat qoshor ketika takbirotul ihram.

    e. Berniat sholat qoshor ketika berada di luar dari desanya.

  2. Sholat Jama’

    Hukum sholat jama’ ini diperkenankan bagi orang yang dalam perjalanan dengan syarat-syarat yang tersebut pada sholat qoshor.

    Sholat yang boleh dijama’ hanya antara dhuhur dengan ashar dan antara maghrib dengan isya’, adapun sholat shubuh tetap wajib dikerjakan pada waktu dan tanpa dikumpulkan dengan sholat yang lain.

    Sholat jama’ artinya sholat yang dikumpulkan. Yang dimaksudkan adalah dua sholat fardhu yang lima itu dikerjakan dalam satu waktu, umpamanya sholat dhuhur dan ashar dikerjakan diwaktu dhuhur atau diwaktu ashar.

    Sholat Jama’ ini terbagi atas dua macam dilihat dari pelaksanaan pengumpulan sholat tersebut.

    a. Sholat Jama’ Taqdim

    Jama’ taqdim adalah mengumpulkan dalam satu antara sholat dhuhur dengan ashar dilakukan pada waktu dhuhur (waktu sholat yang pertama), dan mengumpulkan dalam satu waktu antara sholat maghrib dan isya’ dilakukan pada waktu maghrib (waktu sholat yang pertama). Sebagaimana hadits Nabi :

    Dari Mu’adz bin Jabal Ra berkata : kami keluar bersama Nabi SAW dalam perang Ghozwah (perang yang dihadiri oleh Nabi), maka ketika itu Nabi SAW mengumpulkan sholat dhuhur dengan sholat ashar serta sholat maghrib dengan sholat isya’…”

    Adapun syarat jama’ taqdim ada 3 macam, yaitu :

    1. Diharuskan untuk mengerjakan sholat yang pertama, yaitu seperti mengumpulkan sholat dhuhur dan ashar dilakukan pada diwaktu dhuhur dengan cara mendahulukan sholat dhuhur daripada sholat ashar. Karena waktu tersebut adalah milik sholat yang pertama.

    2. Berniat jama’ pada takbirotul ihram sholat yang pertama atau ditengah-tengah sholat pertama (menurut qoul Adzhar). Jadi tidak diperkenankan berniat jama’ setelah salam sholat yang pertama.

    3. Kedua sholat yang dikumpulkan tersebut harus terus menerus (tidak dipisah), seolah-olah satu rangkaian sholat. Jadi begitu selesai selesai melakukan sholat yang pertama segera melakukan sholat yang kedua. Kalau sampai terpisah yang dianggap lama maka bisa dianggap tidak sah sholat jama’nya.

    b. Sholat Jama’ Ta’khir

    Jama’ Ta’khir adalah mengumpulkan dalam satu antara sholat dhuhur dengan ashar dilakukan pada waktu ashar (waktu sholat yang kedua), dan mengumpulkan dalam satu waktu antara sholat maghrib dan isya’ dilakukan pada waktu isya’ (waktu sholat yang kedua). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

    Dari Anas, ia berkata : “Rosululloh SAW apabila berangkat dalam perjalanan sebelum tergelincir matahari, maka beliau ta’khirkan sholat dhuhur ke waktu ashar, kemudian beliau turun (berhenti) untuk menjama’ keduanya (dhuhur dan ashar). Jika telah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, maka beliau sholat dhuhur dahulu kemudian baru beliau naik kendaraan” (HR. Bukhori dan Muslim)

    Dari Mu’adz : “bahwasanya Nabi SAW dalam peperangan tabuk, apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau ta’khirkan dhuhur hingga beliau sholat untuk keduanya (dhuhur dan ashar diwaktu ashar) dan apabila beliau berangkat sesudah tergelincir matahari, beliau kerjakan sholat dhuhur dan ashar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Apabila beliau berjalan sebelum maghrib, beliau ta’khirkan maghrib hingga beliau lakukan sholat maghrib beserta isya’, dan apabila beliau berangkat sesudah waktu maghrib beliau segerakan isya’, dan beliau sholatnya isya’ beserta maghrib” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

    Adapun Syarat Jama’ Ta’khir :

    1. Berniat di waktu sholat yang pertama bahwa ia akan melaksanakan sholat yang pertama itu diwaktu sholat yang kedua, supaya ada maksud yang keras akan melaksanakan sholat yang pertama itu di waktu yang kedua dan tidak ditinggalkan begitu saja.

    2. Tidak disyaratkan dalam pelaksanaan harus berurutan, dalam artian misalkan yang dijama’ ta’khir itu adalah sholat dhuhur dan ashar, maka bebas melaksanakannya apakah yang didahulukan sholat ashar ataukah sholat dhuhur dulu (dalam waktu luang), kalau waktunya mendekati pergantian sholat maka yang didahulukan adalah sholat yang mempunyai waktu itu.

    3. Menurut qoul tidak usah niat jama’ ketika dalam melaksanakan sholat karena sudah diniati.

    4. Tidak wajib untuk berturut-turut atau menyambung, jadi setelah melaksanakan satu sholat tidak disyaratkan untuk melaksanakan sholat kedua.

    Boleh pula melaksanakan sholat jama’ bagi orang yang menetap (tidak dalam perjalanan) dikarenakan hujan yang amat deras dengan beberapa syarat yang berlaku sama dengan syarat jama’ dalam waktu perjalanan. Namun ada beberapa syarat tambahan yang harus dipenuhi, yaitu :

    1. Disyaratkan hujannya berada diwaktu sholat yang pertama dan diawal sholat yang kedua.

    2. Sholat yang kedua itu berjamaah ditempat yang jauh dari rumahnya, serta ia mendapatkan kesukaran untuk pergi ke tempet itu karena hujan. (Bagi orang yang terbiasa sholat berjama’ah).

    3. Kondisi hujan dianggap deras ketika melakukan salam sholat yang pertama menurut qoul shohih. (Sholat jama’ taqdim).

    4. Disyaratkan hujan tersebut dapat membuat pakaiannya basah kuyup begitu juga sandalnya.

    Dan perlu diketahui pula bahwa sholat dhuhur pada hari jum’at diganti dengan sholat jum’at, maka dari itu hukum yang berlaku bagi sholat dhuhur yaitu boleh dijama’ baik taqdim ataupun ta’khir, berlaku pula bagi sholat jum’at. Dengan demikian sholat jum’at boleh dijama’ beserta sholat ashar.