SUJUD SAHWI


SUJUD SAHWI

Sujud sahwi merupakan ibadah yang disyari’atkan untuk menyempurnakan hasil ibadah sholat. Baik itu sholat fardhu maupun sholat sunnah, adapun faktor yang menyebabkan dilakukannya sujud sahwi adalah diantaranya melakukan hal yang memang dilarang dalam sholat, seperti : menambah berdiri ruku’, sujud, duduk atau lainnya atas dasar lupa. Atau meninggalkan hal yang seharusnya dilakukan dalam sholat, seperti : meninggalkan ruku’, sujud, berdiri, duduk atau meninggalkan bacaan yang seharusnya dibaca dalam sholat. Maka dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukan dalam sholat.

Apabila makmum lupa dalam melakukan yang seharusnya dilakukan atau meninggalkan yang seharusnya ditinggalkan (tidak dilakukan) maka ia tidak melakukan sujud sahwi. Jadi ketika imam melakukan salam, maka makmum pun mengikuti salamnya imam, karena lupanya makmum dalam kondisi mengikuti imam. Sedangkan apabila makmum dalam posisi tasyahud meyakinkan bahwa ia lupa melakukan ruku’ atau fatihah, maka ketika imam salam, si makmum wajib menambah roka’at dan tidak usah melakukan sujud sahwi.

Cara dalam Melakukan Sujud Sahwi

Perlu diketahui sujud sahwi dilakukan sebelum kita melakukan salam. Pelaksanaannya sama seperti kita melakukan sujud, cuman bedanya anjuran bacaan tasbihnya berbeda, yaitu dianjurkan membaca tasbih Subhana man laa yanaamu wa laa yashuu. Artinya : “Maha Suci Dzat yang tidak pernah tidur dan lupa”.

Dan perlu diingat pula bahwa sujud sahwi dilakukan setelah kita menyelesaikan bacaan tasyahud, baru setelah itu melakukan 2 kali sujudan, setelah melakukan sujud maka langsung kita salam. Duduk tasyahud akhirnya pun dengan cara yang sama dilakukan pada saat tasyahud awwal yaitu duduk iftirasy.

Hal-hal yang menjadi kesalahan dalam melakukan sholat, tidak terlepas dari 3 hal berikut :

  1. Fardhu

    Apabila fardhu sholat ditinggalkan maka tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi, tapi apabila ingat sementara waktu masih memungkinkan maka harus ditebus dengan melakukan fardhu yang ditinggalkan itu dengan menambahkan roka’at, kemudian sebelum salam maka ia melakukan sujud sahwi. Apabila ragu-ragu dalam bilangan roka’at maka teruskan dengan keyakinan yaitu diteruskan dengan bilangan roka’at yang paling sedikit, walaupun ia sudah melakukan roka’at yang diteruskan itu. Kemudian menjelang salam melakukan sujud sahwi.

  2. Sunnah (Ab’ad)

    Apabila sunnah ab’ad ditinggalkan, maka tidak diperkenankan untuk mengulanginya diroka’at yang lain, melainkan diganti dengan sujud sahwi. Bentuk sunnah ab’ad dalam sholat ada 6 macam yaitu :

    a. Tasyahud Awwal

    b. Duduk dalam Tasyahud Awwal

    c. Qunnut dalam sholat shubuh dan qunut dalam sholat witir separuh akhir bulan Romadhon

    d. Berdiri dalam qunut

    e. Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW pada Tasyahud Awwal.

    f. Membaca sholawat kepada keluarga Nabi Muhammad SAW pada Tasyahud Akhir.

    Sehingga apabila meninggalkan tasyahud awwal dan kemudian ia berdiri atau mirip dengan berdiri maka tidak diperkenankan kembali lagi duduk untuk melakukan tasyahud awwal, lanjutkan berdirinya dan diganti dengan sujud sahwi. Kalau sampai ia kembali duduk dan ia pun tahu tentang ketentuan hukumnya maka sholatnya batal. Karena ia menambah duduk. Tapi kalau kembalinya karena lupa maka sholatnya tidak batal dan ia pun wajib kembali berdiri setelah ia iangat, kemudian menjelang salam melakukan sujud sahwi, tetapi apabila kembali duduknya disengaja namun ia tidak mengerti akan ketentuan hukumnya, maka sama dengan orang kembali duduknya karena lupa, dalam artian bahwa nenti menjelang salam melakukan sujud sahwi. Dan perlu diketahui pula bahwa ketentuan ini berlaku hanya untuk sholat sendirian atau imam, sedangkan bagi makmum ketika melihat imam hampir dianggap berdiri, maka tidak diperkenankan ia condong untuk melakukan tasyahud awwal, apabila sampai dilakukan maka sholatnya langsung dianggap batal, apabila makmum sudah berdiri tegak bersama imam, lalu kemudian imam kembali duduk untuk melakukan tasyahud awwal, maka bagi makmum tidak diperkenankan untuk kembali bersama imam, kalau kembalinya imam secara disengaja maka sholatnya imam batal. Sekarang apabila makmum masih dalam keadaan duduk dan imam sudah berdiri tegak, kemudian imam kembali duduk, maka wajib bagi makmum untuk berdiri karena yang akan dihadapi makmum adalah berdiri. Tapi kalau imam duduk melakukan tasyahud awwal, tiba-tiba makmum berdiri dikarenakan lupa maka menurut qaul Shohih wajib kembali mengikuti imam dalam artian makmum duduk untuk melakukan tasyahud awwal bersama imam, sehingga kalau makmum tidak mau kembali maka sholatnya bisa dianggap batal. Ketentuan ini berlaku bagi yang sudah terlanjur berdiri tegak. Tapi kalau berdirinya belum tgeak maka ada 2 pendapat, ada yang mengatakan kembali dan ada yang mengatakan tidak usah kembali lagi tapi diganti dengan sujud sahwi.

  3. Sunnah (Hai’ad)

    Apabila sunnah hai’ad ditingalkan maka kita tidak diperkenankan untuk kembali melakukannya, jadi ketika ditinggalkan maka kita lanjutkan untuk melakukan rukun sholat yang lainnya. Entah ditinggalkan secara disengaja maupun tidak disengaja. Karena sunnah hai’ad adalah bukan asal maka kita tidak diperkenankan untuk menyamakannya dengan asal (rukun), berbeda dengan sunnah ab’ad, kalau ab’ad boleh kita samakan dengan asal (rukun), dalam artian bahwa ketika ditinggalkan maka harus membayarnya dengan cara menggantinya sama sujud sahwi.

    Adapun macam-macam sunnah hai’ad yaitu :

    a. Mengangkat kedua tangan ketika takbirotul ihram, ketika ruku’, bangun dari ruku’ dan bangun dari tasyahud awwal, baik itu sholatnya dalam keadaan berdiri, duduk ataupun posisi tidur. Aturan mengangkat tangan yaitu dengan mengangkat ujung jari tangan lurus dengan bagian atas telinga, kedua jempol tangan menempel pada bagian bawah telinga, tapi dianggap cukup bila ujung jari lurus dengan pundak.

    b. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, yaitu dengan cara meletakkan telapak tangan kanan di atas tangan kiri serta menggenggam pergelangan tangan kiri dengan telapak tangan kanan, hal ini dilakukan dibawah dada di atas pusar.

    c. Membaca do’a iftitah.

    d. Membaca ta’awudz.

    e. Membaca keras bacaan pada sholat yang bacaannya keras, yaitu shubuh, isya’ dan maghrib, dan membaca pelan bacaan pada sholat dhuhur dan ashar, begitupun sunnah membaca keras bacaan “amin” baik oleh imam maupun makmum.

    f. Membaca surat setelah membaca surat Al-Fatihah, baik oleh imam maupun oleh orang yang sholat sendirian. Dalam pembacaan surat setelah surat Al-Fatihah dianjurkan roka’at yang pertama berupa surat yang panjang dan lebih jauh posisinya daripada roka’at yang kedua, seperti membaca surat As-Syams pada roka’at pertama dan membaca surat Ad-Dhuha pada roka’at yang kedua. (Posisinya dilihat dari Al-Qur’an bukan Juz ‘Amma).

    g. Melakukan takbir ketika turun atau bangun serta mengucapkan sami’allohu liman hamidah serta membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud.

    h. Meletakkan kedua tangan di atas paha dalam duduk dengan merenggangkan jari-jari tangan kiri dan menggenggam jari tangan kanan kecuali jempol, baik itu duduk tasyahud awwal ataupun tasyahud akhir.

    i. Melakukan duduk iftirasy pada seluruh duduk dan melakukan duduk tawaruk pada setiap tasyahud akhir, serta melakukan salam yang kedua. Hal ini berlaku bagi makmum muwafiq, sedangkan bagi makmum masbuq seluruhnya melakukan duduk iftirasy, karena ia akan melakukan berdiri untuk menambah roka’at yang tertinggal.

    Kesemuanya itu kalau ditinggalkan baik sengaja maupun tidak sengaja maka tidak dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi, akan tetapi rugi kalau sampai tidak sampai dilakukan karena setiap amalan sunnah akan senantiasa menambah kesempurnaan amalan wajib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: