Syarat-syarat Dalam Melakukan Rukun Sholat


Perbedaan antara Syarat dan Rukun

Syarat adalah ketentuan yang harus terpenuhi dalam melaksanakan ibadah yang letak atau posisi ketentuan tersebut berada sebelum melakukan ibadah itu sendiri. Misalkan kita hendak melaksanakan ibadah sholat, maka syaratnya adalah diantaranya harus suci dari hadast kecil atau besar.

Sedangkan rukun adalah ketentuan yang harus terpenuhi dalam melaksanakan ibadah yang letak atau posisi ketentuan itu berada di dalam ibadah itu sendiri. Misalkan kita melaksanakan sholat, maka rukunnya adalah diantaranya niat, baca fatihah dna lain-lain. Bisa dikatakan bahwa rukun adalah isi dari ibadah.

Sementara itu di dalam rukun itu sendiri ada syaratnya. Mungkin kita akan terfokus pada masalah sholat, jadi rukun-rukunnya sholat yang ada 13 (versi kitab Al-Mabadi Al-Fiqiyyah) atau yang ada 18 (versi kitab Kifayah Al-Akhyar), itu memiliki syarat-syarat tersendiri dalam artian kita harus mengetahui metode dalam melaksanakan rukun sholat tersebut.

  1. Syarat dalam Melakukan Niat

    Apabila sholatnya adalah fardhu maka wajib menyengaja yaitu untuk membedakan pelaksanaan sholat dengan yang lain, menentukan yaitu untuk membedakan sholat fardhu apa yang akan dikerjakan dan niat kefardhuan. Misalkan kita sholat dhuhur maka ketentuan yang harus terpenuhi dalma niatnya adalah usholli fardhu dhuhri. Dan yang lainnya tidak usah disebutkan lagi. Tapi kalau sholatnya adalah sunnah yang memiliki waktu atau memiliki sebab maka wajib menyengaja dan menentukan. Misalkan sholat yang memiliki waktu yaitu qobliyah dhuhur maka ketentuan yang harus terpenuhi dalam niatnya adalah usholli qobliyatadh dhuhri.

    Misalkan sholat yang memiliki sebab yaitu sholat gerhana maka ketentuan yang harus terpenuhi dalam niatnya adalah (sholat gerhana matahari) usholli kusuf. Sedangkan apabila sholatnya adalah sunah mutlak (tidak memiliki nama) maka ketentuannya hanya wajib menyengaja , yaitu hanya cukup niat usholli.

  2. Syarat dalam Berdiri (Bagi Sholat Fardhu)

    Berdiri atau yang menjadi ganti dari berdiri merupakan rukun sholat dalam sholat fardhu.

    Disyaratkan dalam berdiri adalah tegak, misalkan posisi berdiri diantara ruku’ dan tegak maka tidak sah. Tapi apabila dia mampu berdiri kecuali ada orang yang membantu dia berdiri dan ia tidka merasa sulit, maka wajib meminta tolong. Misalkan tidak ada orang yang membantu, maka ia wajib menyewa orang untuk membantu berdiri dengan upah yang standart, apabila ia mampu berdiri lalu bersandaran tapi bila ruku’ dia akan jatuh, maka sah sholatnya namun makruh. Kalau dia hanya bisa mampu berdiri tidak tegak, maka ia wajib berdiri dengan posisi tersebut. Dan ketika ruku’nya ia tambahkan kemiringannya.

  1. Syarat dalam Takbiratul Ihram

    Takbir adalah merupakan rukun sholat. Shighot takbir adalah khusus Allohu Akbar, apabila dia mengucapkan lafadz selain itu meskipun juga termasuk Asmaul Husna, maka takbirnya tidak dianggap. Kalau dia mengucapkan Allohu Akbar, maka dianggap cukup. Kalau bacaannya dibalik Akbar Alloh, maka tidak cukup. Apabila diselai lafadz lain, maka kalau pisah tidak terlalu panjang maka diperbolehkan, misal Allohul Jalilu Akbar. Tapi apabila pisahnya panjang maka tidak boleh, misal Allohul ladzi laaillaha illa huwal malikul qudus Akbar, dan tidak diperkenankan menambah huruf yang dapat mecela makna, seperti membaca panjang hamzahnya yang nanti berarti apakah Alloh Maha Besar, atau membaca isyba’ pa ba’, yang nanti berarti Alloh Haidh, atau membaca isyba’ ha yang nanti memunculkan wawu dan itu tidak berarti apa-apa.

  2. Syarat dalam Membaca Fatihah

    Fatihah adalah termasuk rukun sholat. Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa basmalah adalah termasuk ayat fatihah, maka tidaklah sah sholatnya kalau tidak membaca basmalah. Bacaan fatihahnya harus fasih, dengan memenuhi seluruh tasydid yang ada dalam fatihah. Harus tertib, terus menerus, tidak diselingi dzikir yang lain. Kalau tidak mampu membaca fatihah maka ia wajib belajar, tapi misalkan sama sekali tidak ada yang mengajarkannya, maka dia membaca 7 ayat lain, dan jangan diterjemahkan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “Kalau masih belum bisa membaca 7 ayat yang lain, maka bisa diganti dengan dzikir” Kalau masih belum bisa maka bisa diganti dengan dzikir yang lain.

  3. Syarat-syarat dalam Ruku’

    Ruku’ adalah merupakan rukun sholat bersama tuma’ninahnya. Standar ruku’ adalah membungkukkan punggung sampai rata dengan pantatnya (posisi 90 derajat siku-siku) dengan sekiranya kita meletakkan sesuatu tidak jatuh. Ketentuan ini bagi orang yang sholatnya berdiri tapi bagi orang yang sholatnya duduk maka standar ruku’nya adalah membungkukkan punggungnya rata dengan wajahnya sedangkan standar tuma’ninahnya adalah anggota yang digunakan untuk rukuk diam semua dengan sekiranya membaca subhanalloh.

  4. Syarat dalam I’tidal

    I’tidal adalah merupakan rukun sholat bersama tuma’ninahnya. Posisi standar i’tidal adalah kembali dalam posisi sebelum ruku’ dalam arti kalau sholatnya berdiri berarti berdiri kalau duduk berarti duduk. Apabila dalam ruku’nya ia melihat ulat tiba-tiba ia berdiri maka i’tidalnya itu tidak dianggap dan ia wajib memperpanjang i’tidalnya. Tapi perlu diingat bahwa memperpanjang i’tidal tanpa alasan apapun menurut sebagian ulama’ bisa dianggap batal sholatnya.

  5. Syarat dalam Sujud

    Sujud adalah merupakan rukun sholat bersama tuma’ninahnya. Posisi standar dalam sujud adalah dengan meletakkan tujuh anggotanya ke bumi yaitu dahi, dua telapak tangan, dua lutut dan dua kaki (jari-jarinya). Khusus bagi anggota sujud berupa dahi maka tidak diperkenankan tertutup dalam artian tidak nempel ke bumi walaupun itu satu helai rambut. Kalau misalkan sujudnya dengan mewakilkan hidungnya yang mancung atau dia sujud dengan menempelkan pelipisnya atau juga ia menempelkan penutup kepala maka sujudnya tidak cukup. Dan juga tidak cukup ia sujud pada sesuatu yang bergerak ketika ia bergerak. Apabila dalam dahinya ada luka dan kemudian diperban serta ia sujud dengan tertutup perban tersebut yang merupakan benda bergerak ketika bergerak, maka sujudnya dianggap cukup dan ia tidak perlu mengqodhoi sholatnya.

  6. Syarat dalam Duduk Diantara Dua Sujud

    Duduk diantara dua sujud adalah termasuk rukun sholat bersama tuma’ninahnya. Posisi standar duduknya adalah tegak dengan pantat yang disandarkan pada kaki yang nempel ke bumi. Kalau dalam istilahnya dinamakan duduk Iftirasy. Dan tidak dianggap duduk yang cuma posisi jari-jarinya nempel ke bumi.

  7. Syarat dalam Duduk Akhir, Tasyahud Akhir dan Membaca Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW di dalam Tasyahud Akhir

    Duduk yang mendampingi salam, tasyahud akhir dan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan rukun sholat. Pada saat tasyahud diwajibkan maka duduknya pun wajib, adapun wajibnya membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam tasyahud.

    Kewajiban membaca sholawat kepada Nabi Muhammad hanya ada dalam sholat, di luar sholat tidak wajib. Namun ada beberapa pendapat ulama’ dalam membaca sholawat di luar sholat, yaitu :

    – Membaca sholawat wajib cuma sekali dalam hidup

    – Membaca sholawat wajib dalam menghadiri setiap majlis

    – Membaca sholawat wajib setiap berdzikir

    – Membaca sholawat wajib pada awal do’a dan akhir do’a.

    Membaca sholawat kepada keluarga Nabi Muhammad tidaklah wajib tapi sunnah maka ketika meninggalkannya maka tidak membatalkan sholat.

  8. Syarat dalam Salam

    Salam yang pertama merupakan rukun dalam sholat. Adapun standarisasi dalam membaca salam adalah assalamu’alaikum maka tidak cukup membaca salam ‘alaikum atau salamulloh ‘alaikum atau assalamu’alaihim, jadi lafadz salam tidak boleh dirubah. Kalau Imam Roffi mengatakan boleh disamakan dengan yang ada dalam tasyahud.

    Apakah niat keluar dalam sholat itu wajib? Dalam hal ini ada 2 pendapat :

    1. Niat keluar dalam sholat bersamaan dengan salam itu wajib, dengan alasan bahwa salam adalah dzikir yang wajib dalam sholat, sebagaimana niat wajib bersamaan dengan takbirotul Ihrom sebagai tanda dimulainya sholat.

    2. Niat keluar dalan sholat tidak wajib, dengan alasan disamakan dengan ibadah yang lainnya. Salam tidak sama dengan takbirotul Ihrom karena takbirotul Ihrom merupakan perbuatan yang diharuskan bersamaan dengan niat.

    Dari kedua pendapat tersebut yang paling shohih adlaah pendapat kedua yang mengatakan bahwa niat keluar dalam sholat tidak wajib bahkan sampai ada yang mengatakan sholatnya batal, karena salam yang kedua belum dikatakan keluar dalam sholat.

4 Tanggapan to “Syarat-syarat Dalam Melakukan Rukun Sholat”

  1. TENTANG NIAT SHALAT

    Niat itu letaknya di hati. Rasulullah tidak pernah mengajarkan kita untuk melafadzkan “ushalli fardhol Maghribi …dst” .

    Maka akan lebih selamat bila anda tidak mengajarkan itu kepada kaum muslimin agar mereka tidak mengira bahwa perkataan “ushalli fardhol …” adalah dari hadits Nabi.

    Mengapa kita harus merasa lebih pandai dari Nabi dengan menambah ajaran dan tuntunannya di dalam beribadah?

    Untuk mereka yang meisbatkan kepada Imam Asy-Syafi’i di dalam masalah ini maka saya sarankan untuk membaca kitab al-Umm. Maka jelas bahwa beliau pun tidak mengajarkannya.

    Bahkan Imam Asy-Syafii mengatakan bahwa niat itu tidak bisa menggantikan takbir. NIAT ITU TIDAK SAH KECUALI DIHADIRKAN BERSAMAAN DENGAN TAKBIR. TIDAK MENDAHULUI TAKBIR DAN TIDAK SESUDAH TAKBIR.

    Berikut saya bawakan kutipannya dari Al-Umm Kitab Shalat Bab باب النية في الصلاة

    ]‏قَالَ الشَّافِعِيُّ‏]‏‏:‏ وَالنِّيَّةُ لاَ تَقُومُ مَقَامَ التَّكْبِيرِ وَلاَ تَجْزِيهِ النِّيَّةُ إلَّا أَنْ تَكُونَ مَعَ التَّكْبِيرِ لاَ تَتَقَدَّمُ التَّكْبِيرَ وَلاَ تَكُونُ بَعْدَهُ

    Jadi kalau kita terapkan kata Imam Syafii bahwa niat itu bersamaan dengan takbir (ucapan “Allahu Akbar”) maka dapat dipastikan bahwa beliau pun berpendapat niat itu di hati.

    Lihatlah beliau benar-benar mengikuti petunjuk Rasulullah di dalam beribadah. Dan tidak mengada-adakan tuntunan selainnya.

  2. Tentang niat sholat ini memang benar seperti pendapat anda. NIat letaknya di hati dan niat dalam sholat itu tidak sah kecuali dihadirkan bersamaan dengan takbir, tidak mendahului dan tidak sesudah takbir dan Rosululloh tidak pernah mengajarkan kita untuk melafadzkan “usholli fardhol maghribi..” di dalam sholat.

    Di dalam tulisan itu kan saya tidak mengatakan/menuliskan HARUS menggunakan lafadz “usholli fardhol maghribi..” bahkan di tulisan itu saya tidak mengatakan bahwa perkataan “usholli fardhol maghribi..” adalah hadits Nabi. Hanya saja menekankan apabila sholatnya adalah fardhu maka kita wajib berniat MENYENGAJA (QOSDU) yaitu untuk membedakan pelaksanaan sholat dengan yang lain, MENENTUKAN (TA’YIN) untuk membedakan sholat fardhu apa yang akan dikerjakan dan niat KEFARDHUAN (FARDHIYAH).

    Misal : kita sholat maghrib, maka ketentuan yang harus terpenuhi dalam niatnya adalah “usholli fardhol maghribi” dimana “usholli” adalah QOSDUnya, “fardhol” adalah FARDHIYAHnya, dan “maghribi” adalah TA’YINnya, tidak perlu panjang lebar seperti ini >> “usholli fardhol maghribi tsalaatsa roka’atin mustaqbilal qiblati adzaa’a lillahi ta’ala” karena “usholli fardhol maghribi” tersebut sudah memenuhi ketentuan niat dalam sholat. Misalnya kita mau berniat dalam bahasa indonesia pun seperti >> “saya sholat fardhu maghrib” ataupun memakai bahasa jawa ya monggo, namun kesemuanya itu wajib memenuhi ketentuan niat dalam sholat itu dan pelaksanaannya pun benar seperti pendapat anda itu yaitu bersamaan pada saat kita melakukan takbirotul ihram.

  3. NIAT

    Rasulullah b menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya.

    عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ a قَالَ قَالَ النَّبِيُّ b ‏”‏ الْعَمَلُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ b وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ‏‏. ”

    Dari Umar bin al-Khattab a,,,,,,,,, , ia berkata,” Rasulullah b bersabda,” Suatu perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan RasulNya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya kembali kepada apa yang dia niatkan.” (Shahih Bukhari dalam Kitab an-Nikah no. 5126, Kitab al-Iman no. 54, & Kitab al-Iman wa an-Nudzur no. 6771; Shahih Muslim dalam Kitab al-Imarah no.1907; Sunan at-Tirmidzi dalam Kitab Fadhail al-Jihad no.1748; Sunan Abu Dawud dalam Kitab ath-Thalaq no.2203).

    Niat itu di dalam hati dan tidak dilafazhkan karena memang tidak ada hadits yang menyebutkan shighat lafazh niat tersebut kecuali seperti hadits perintah Rasulullah b untuk melafazhkan basmalah ketika akan berwudhu. Berkata Imam Asy-Syafi’i v di dalam kitab Al-Umm :

    وَلاَ يُجْزِئُ الْوُضُوءُ إلاَّ بِنِيَّةٍ وَيَكْفِيهِ مِنْ النِّيَّةِ فِيهِ أَنْ يَتَوَضَّأَ يَنْوِي طَهَارَةً مِنْ حَدَثٍ أَوْ طَهَارَةً لِصَلاَةِ فَرِيضَةٍ أَوْ نَافِلَةٍ أَوْ لِقِرَاءَةِ مُصْحَفٍ أَوْ صَلاَةٍ عَلَى جِنَازَةٍ أَوْ مِمَّا أَشْبَهَ هَذَا مِمَّا لاَ يَفْعَلُهُ إلا طَاهِرٌ . – (كتاب الطهارة باب قدر الماء الذي يتوضأ به )
    “Tidak sah seseorang berwudhu tanpa niat dan seseorang cukup dikatakan berniat bila ia melakukan wudhu’. Ia berniat bersuci dari hadats atau bersuci untuk shalat fardhu,atau nafilah, atau membaca al-Qur’an, atau shalat jenazah atau semisalnya yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang bersih.” (Al-Umm : Kitab Thaharah : Bab Kadar Air untuk Berwudhu’)

    Maksud perkataan ini adalah ketika seseorang akan mengerjakan sesuatu, ia harus tanamkan niat di dalam dirinya dengan kesungguhan bersamaan dengan pelaksanaan pekerjaan itu. Hal serupa juga dikatakan Imam asy-Syafi’i v ketika membahas perkara niat shalat, juga di kitab Al-Umm :

    )قال الشافعي (وَالنِّيَّةُ لاَ تَقُومُ مَقَامَ التَّكْبِيرِ وَلاَ تَجْزِيهِ النِّيَّةُ إلاَّ أَنْ تَكُونَ مَعَ التَّكْبِيرِ لاَ تَتَقَدَّمُ التَّكْبِيرَ وَلاَ تَكُونُ بَعْدَهُ – ( باب النية في الصلاة الأم كتاب الصلاة)
    ”Dan niat itu tidak bisa menggantikan takbir dan tidak sah niat itu kecuali dilakukan bersamaan dengan takbir. Tidak mendahului takbir dan tidak pula setelah takbir.” (Al-Umm : Kitab Shalat : Bab Niat di dalam Shalat )

    Maka dari itu dapat dipahami dari ucapan Imam asy-Syafi’i v ini bahwa niat itu adanya di dalam hati dan tidak dilafazhkan. Karena tidaklah mungkin melafazhkan niat tersebut jika harus bersamaan dengan ucapan takbir. Apalagi menurut beliau v niat itu juga tidak boleh mendahului takbir dan tidak pula setelah takbir.

    Al-Imam Taqiyudin Abubakar bin Muhammad al-Husaini al-Hisni asy-Syafi’i v, seorang ulama besar madzhab Syafi’i, di dalam Kifayatul Akhyar berkata,”
    (وَفَرَائِضُ الصَّوْمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: النِّيَةُ وَالإِمْسَاكُ عَنِ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالجِْمَاعِ) لا يصح الصوم إلا بالنية للخبر، ومحلها القلب، ولا يشترط النطق بها بلا خلاف
    “Dan kewajiban-kewajiban orang yang akan berpuasa ada lima: niat, menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh. Dan tidak sah puasa kecuali dengan disertai niat, berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Niat letaknya di dalam hati dan tidak disyaratkan untuk dilafazhkan dengan lisan, tanpa ada khilaf di kalangan para ulama.” ( Kifayatul Akhyar : Kitab Shiyam)

    Al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafii v, penulis Fathul Qarib berkata,”

    (وَاَرْكَانُ الصَّلاَةِ ثَمَانِيَةَ عَشْرَ رَكْنًا) أَحَدُهَا (النِّيَةُ) وَ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ وَ مُحَلُّهَا اْلقَلْبُ
    “Rukun-rukun shalat itu ada 18 (delapan belas), yaitu : Niat, yaitu memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya. Sedangkan tempat niat itu berada di dalam hati.” (Fathul Qarib : Kitab Ahkamus Shalat)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata, “Menurut kesepakatan para imam kaum muslimin, tempat niat itu di hati bukan lisan di dalam semua masalah ibadah, baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, memerdekakan budak, berjihad dan lainnya. Karena niat adalah kesengajaan dan kesungguhan di dalam hati.” (Majmu’atu ar-Rasaaili al-Kubra, I/243)

    Demikianlah para ulama ahlussunnah yang masyhur tidak ada yang mengajarkan bentuk lafazh niat itu dan sekiranya lafazh niat itu ada dari Rasulullah b pastilah telah ada pada kitab-kitab mereka. Hal ini karena masalah niat adalah perkara yang penting dan menjadi syarat keabsahan suatu ibadah, jadi niscaya mereka tidak akan meluputkannya. Wallahu’alam.

    Sandhi Kusuma

  4. syukran,tp alangkah bagusnya di uraikan dg angka agar bisa di ketahui berapa syarat dlm tiap rukunnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: