Arsip untuk Mei, 2008

SUJUD SAHWI

Posted in Fiqih on Mei 21, 2008 by riy4nti

SUJUD SAHWI

Sujud sahwi merupakan ibadah yang disyari’atkan untuk menyempurnakan hasil ibadah sholat. Baik itu sholat fardhu maupun sholat sunnah, adapun faktor yang menyebabkan dilakukannya sujud sahwi adalah diantaranya melakukan hal yang memang dilarang dalam sholat, seperti : menambah berdiri ruku’, sujud, duduk atau lainnya atas dasar lupa. Atau meninggalkan hal yang seharusnya dilakukan dalam sholat, seperti : meninggalkan ruku’, sujud, berdiri, duduk atau meninggalkan bacaan yang seharusnya dibaca dalam sholat. Maka dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukan dalam sholat.

Apabila makmum lupa dalam melakukan yang seharusnya dilakukan atau meninggalkan yang seharusnya ditinggalkan (tidak dilakukan) maka ia tidak melakukan sujud sahwi. Jadi ketika imam melakukan salam, maka makmum pun mengikuti salamnya imam, karena lupanya makmum dalam kondisi mengikuti imam. Sedangkan apabila makmum dalam posisi tasyahud meyakinkan bahwa ia lupa melakukan ruku’ atau fatihah, maka ketika imam salam, si makmum wajib menambah roka’at dan tidak usah melakukan sujud sahwi.

Cara dalam Melakukan Sujud Sahwi

Perlu diketahui sujud sahwi dilakukan sebelum kita melakukan salam. Pelaksanaannya sama seperti kita melakukan sujud, cuman bedanya anjuran bacaan tasbihnya berbeda, yaitu dianjurkan membaca tasbih Subhana man laa yanaamu wa laa yashuu. Artinya : “Maha Suci Dzat yang tidak pernah tidur dan lupa”.

Dan perlu diingat pula bahwa sujud sahwi dilakukan setelah kita menyelesaikan bacaan tasyahud, baru setelah itu melakukan 2 kali sujudan, setelah melakukan sujud maka langsung kita salam. Duduk tasyahud akhirnya pun dengan cara yang sama dilakukan pada saat tasyahud awwal yaitu duduk iftirasy.

Hal-hal yang menjadi kesalahan dalam melakukan sholat, tidak terlepas dari 3 hal berikut :

  1. Fardhu

    Apabila fardhu sholat ditinggalkan maka tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi, tapi apabila ingat sementara waktu masih memungkinkan maka harus ditebus dengan melakukan fardhu yang ditinggalkan itu dengan menambahkan roka’at, kemudian sebelum salam maka ia melakukan sujud sahwi. Apabila ragu-ragu dalam bilangan roka’at maka teruskan dengan keyakinan yaitu diteruskan dengan bilangan roka’at yang paling sedikit, walaupun ia sudah melakukan roka’at yang diteruskan itu. Kemudian menjelang salam melakukan sujud sahwi.

  2. Sunnah (Ab’ad)

    Apabila sunnah ab’ad ditinggalkan, maka tidak diperkenankan untuk mengulanginya diroka’at yang lain, melainkan diganti dengan sujud sahwi. Bentuk sunnah ab’ad dalam sholat ada 6 macam yaitu :

    a. Tasyahud Awwal

    b. Duduk dalam Tasyahud Awwal

    c. Qunnut dalam sholat shubuh dan qunut dalam sholat witir separuh akhir bulan Romadhon

    d. Berdiri dalam qunut

    e. Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW pada Tasyahud Awwal.

    f. Membaca sholawat kepada keluarga Nabi Muhammad SAW pada Tasyahud Akhir.

    Sehingga apabila meninggalkan tasyahud awwal dan kemudian ia berdiri atau mirip dengan berdiri maka tidak diperkenankan kembali lagi duduk untuk melakukan tasyahud awwal, lanjutkan berdirinya dan diganti dengan sujud sahwi. Kalau sampai ia kembali duduk dan ia pun tahu tentang ketentuan hukumnya maka sholatnya batal. Karena ia menambah duduk. Tapi kalau kembalinya karena lupa maka sholatnya tidak batal dan ia pun wajib kembali berdiri setelah ia iangat, kemudian menjelang salam melakukan sujud sahwi, tetapi apabila kembali duduknya disengaja namun ia tidak mengerti akan ketentuan hukumnya, maka sama dengan orang kembali duduknya karena lupa, dalam artian bahwa nenti menjelang salam melakukan sujud sahwi. Dan perlu diketahui pula bahwa ketentuan ini berlaku hanya untuk sholat sendirian atau imam, sedangkan bagi makmum ketika melihat imam hampir dianggap berdiri, maka tidak diperkenankan ia condong untuk melakukan tasyahud awwal, apabila sampai dilakukan maka sholatnya langsung dianggap batal, apabila makmum sudah berdiri tegak bersama imam, lalu kemudian imam kembali duduk untuk melakukan tasyahud awwal, maka bagi makmum tidak diperkenankan untuk kembali bersama imam, kalau kembalinya imam secara disengaja maka sholatnya imam batal. Sekarang apabila makmum masih dalam keadaan duduk dan imam sudah berdiri tegak, kemudian imam kembali duduk, maka wajib bagi makmum untuk berdiri karena yang akan dihadapi makmum adalah berdiri. Tapi kalau imam duduk melakukan tasyahud awwal, tiba-tiba makmum berdiri dikarenakan lupa maka menurut qaul Shohih wajib kembali mengikuti imam dalam artian makmum duduk untuk melakukan tasyahud awwal bersama imam, sehingga kalau makmum tidak mau kembali maka sholatnya bisa dianggap batal. Ketentuan ini berlaku bagi yang sudah terlanjur berdiri tegak. Tapi kalau berdirinya belum tgeak maka ada 2 pendapat, ada yang mengatakan kembali dan ada yang mengatakan tidak usah kembali lagi tapi diganti dengan sujud sahwi.

  3. Sunnah (Hai’ad)

    Apabila sunnah hai’ad ditingalkan maka kita tidak diperkenankan untuk kembali melakukannya, jadi ketika ditinggalkan maka kita lanjutkan untuk melakukan rukun sholat yang lainnya. Entah ditinggalkan secara disengaja maupun tidak disengaja. Karena sunnah hai’ad adalah bukan asal maka kita tidak diperkenankan untuk menyamakannya dengan asal (rukun), berbeda dengan sunnah ab’ad, kalau ab’ad boleh kita samakan dengan asal (rukun), dalam artian bahwa ketika ditinggalkan maka harus membayarnya dengan cara menggantinya sama sujud sahwi.

    Adapun macam-macam sunnah hai’ad yaitu :

    a. Mengangkat kedua tangan ketika takbirotul ihram, ketika ruku’, bangun dari ruku’ dan bangun dari tasyahud awwal, baik itu sholatnya dalam keadaan berdiri, duduk ataupun posisi tidur. Aturan mengangkat tangan yaitu dengan mengangkat ujung jari tangan lurus dengan bagian atas telinga, kedua jempol tangan menempel pada bagian bawah telinga, tapi dianggap cukup bila ujung jari lurus dengan pundak.

    b. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, yaitu dengan cara meletakkan telapak tangan kanan di atas tangan kiri serta menggenggam pergelangan tangan kiri dengan telapak tangan kanan, hal ini dilakukan dibawah dada di atas pusar.

    c. Membaca do’a iftitah.

    d. Membaca ta’awudz.

    e. Membaca keras bacaan pada sholat yang bacaannya keras, yaitu shubuh, isya’ dan maghrib, dan membaca pelan bacaan pada sholat dhuhur dan ashar, begitupun sunnah membaca keras bacaan “amin” baik oleh imam maupun makmum.

    f. Membaca surat setelah membaca surat Al-Fatihah, baik oleh imam maupun oleh orang yang sholat sendirian. Dalam pembacaan surat setelah surat Al-Fatihah dianjurkan roka’at yang pertama berupa surat yang panjang dan lebih jauh posisinya daripada roka’at yang kedua, seperti membaca surat As-Syams pada roka’at pertama dan membaca surat Ad-Dhuha pada roka’at yang kedua. (Posisinya dilihat dari Al-Qur’an bukan Juz ‘Amma).

    g. Melakukan takbir ketika turun atau bangun serta mengucapkan sami’allohu liman hamidah serta membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud.

    h. Meletakkan kedua tangan di atas paha dalam duduk dengan merenggangkan jari-jari tangan kiri dan menggenggam jari tangan kanan kecuali jempol, baik itu duduk tasyahud awwal ataupun tasyahud akhir.

    i. Melakukan duduk iftirasy pada seluruh duduk dan melakukan duduk tawaruk pada setiap tasyahud akhir, serta melakukan salam yang kedua. Hal ini berlaku bagi makmum muwafiq, sedangkan bagi makmum masbuq seluruhnya melakukan duduk iftirasy, karena ia akan melakukan berdiri untuk menambah roka’at yang tertinggal.

    Kesemuanya itu kalau ditinggalkan baik sengaja maupun tidak sengaja maka tidak dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi, akan tetapi rugi kalau sampai tidak sampai dilakukan karena setiap amalan sunnah akan senantiasa menambah kesempurnaan amalan wajib.

Iklan

Syarat-syarat Dalam Melakukan Rukun Sholat

Posted in Fiqih on Mei 7, 2008 by riy4nti

Perbedaan antara Syarat dan Rukun

Syarat adalah ketentuan yang harus terpenuhi dalam melaksanakan ibadah yang letak atau posisi ketentuan tersebut berada sebelum melakukan ibadah itu sendiri. Misalkan kita hendak melaksanakan ibadah sholat, maka syaratnya adalah diantaranya harus suci dari hadast kecil atau besar.

Sedangkan rukun adalah ketentuan yang harus terpenuhi dalam melaksanakan ibadah yang letak atau posisi ketentuan itu berada di dalam ibadah itu sendiri. Misalkan kita melaksanakan sholat, maka rukunnya adalah diantaranya niat, baca fatihah dna lain-lain. Bisa dikatakan bahwa rukun adalah isi dari ibadah.

Sementara itu di dalam rukun itu sendiri ada syaratnya. Mungkin kita akan terfokus pada masalah sholat, jadi rukun-rukunnya sholat yang ada 13 (versi kitab Al-Mabadi Al-Fiqiyyah) atau yang ada 18 (versi kitab Kifayah Al-Akhyar), itu memiliki syarat-syarat tersendiri dalam artian kita harus mengetahui metode dalam melaksanakan rukun sholat tersebut.

  1. Syarat dalam Melakukan Niat

    Apabila sholatnya adalah fardhu maka wajib menyengaja yaitu untuk membedakan pelaksanaan sholat dengan yang lain, menentukan yaitu untuk membedakan sholat fardhu apa yang akan dikerjakan dan niat kefardhuan. Misalkan kita sholat dhuhur maka ketentuan yang harus terpenuhi dalma niatnya adalah usholli fardhu dhuhri. Dan yang lainnya tidak usah disebutkan lagi. Tapi kalau sholatnya adalah sunnah yang memiliki waktu atau memiliki sebab maka wajib menyengaja dan menentukan. Misalkan sholat yang memiliki waktu yaitu qobliyah dhuhur maka ketentuan yang harus terpenuhi dalam niatnya adalah usholli qobliyatadh dhuhri.

    Misalkan sholat yang memiliki sebab yaitu sholat gerhana maka ketentuan yang harus terpenuhi dalam niatnya adalah (sholat gerhana matahari) usholli kusuf. Sedangkan apabila sholatnya adalah sunah mutlak (tidak memiliki nama) maka ketentuannya hanya wajib menyengaja , yaitu hanya cukup niat usholli.

  2. Syarat dalam Berdiri (Bagi Sholat Fardhu)

    Berdiri atau yang menjadi ganti dari berdiri merupakan rukun sholat dalam sholat fardhu.

    Disyaratkan dalam berdiri adalah tegak, misalkan posisi berdiri diantara ruku’ dan tegak maka tidak sah. Tapi apabila dia mampu berdiri kecuali ada orang yang membantu dia berdiri dan ia tidka merasa sulit, maka wajib meminta tolong. Misalkan tidak ada orang yang membantu, maka ia wajib menyewa orang untuk membantu berdiri dengan upah yang standart, apabila ia mampu berdiri lalu bersandaran tapi bila ruku’ dia akan jatuh, maka sah sholatnya namun makruh. Kalau dia hanya bisa mampu berdiri tidak tegak, maka ia wajib berdiri dengan posisi tersebut. Dan ketika ruku’nya ia tambahkan kemiringannya.

  1. Syarat dalam Takbiratul Ihram

    Takbir adalah merupakan rukun sholat. Shighot takbir adalah khusus Allohu Akbar, apabila dia mengucapkan lafadz selain itu meskipun juga termasuk Asmaul Husna, maka takbirnya tidak dianggap. Kalau dia mengucapkan Allohu Akbar, maka dianggap cukup. Kalau bacaannya dibalik Akbar Alloh, maka tidak cukup. Apabila diselai lafadz lain, maka kalau pisah tidak terlalu panjang maka diperbolehkan, misal Allohul Jalilu Akbar. Tapi apabila pisahnya panjang maka tidak boleh, misal Allohul ladzi laaillaha illa huwal malikul qudus Akbar, dan tidak diperkenankan menambah huruf yang dapat mecela makna, seperti membaca panjang hamzahnya yang nanti berarti apakah Alloh Maha Besar, atau membaca isyba’ pa ba’, yang nanti berarti Alloh Haidh, atau membaca isyba’ ha yang nanti memunculkan wawu dan itu tidak berarti apa-apa.

  2. Syarat dalam Membaca Fatihah

    Fatihah adalah termasuk rukun sholat. Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa basmalah adalah termasuk ayat fatihah, maka tidaklah sah sholatnya kalau tidak membaca basmalah. Bacaan fatihahnya harus fasih, dengan memenuhi seluruh tasydid yang ada dalam fatihah. Harus tertib, terus menerus, tidak diselingi dzikir yang lain. Kalau tidak mampu membaca fatihah maka ia wajib belajar, tapi misalkan sama sekali tidak ada yang mengajarkannya, maka dia membaca 7 ayat lain, dan jangan diterjemahkan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “Kalau masih belum bisa membaca 7 ayat yang lain, maka bisa diganti dengan dzikir” Kalau masih belum bisa maka bisa diganti dengan dzikir yang lain.

  3. Syarat-syarat dalam Ruku’

    Ruku’ adalah merupakan rukun sholat bersama tuma’ninahnya. Standar ruku’ adalah membungkukkan punggung sampai rata dengan pantatnya (posisi 90 derajat siku-siku) dengan sekiranya kita meletakkan sesuatu tidak jatuh. Ketentuan ini bagi orang yang sholatnya berdiri tapi bagi orang yang sholatnya duduk maka standar ruku’nya adalah membungkukkan punggungnya rata dengan wajahnya sedangkan standar tuma’ninahnya adalah anggota yang digunakan untuk rukuk diam semua dengan sekiranya membaca subhanalloh.

  4. Syarat dalam I’tidal

    I’tidal adalah merupakan rukun sholat bersama tuma’ninahnya. Posisi standar i’tidal adalah kembali dalam posisi sebelum ruku’ dalam arti kalau sholatnya berdiri berarti berdiri kalau duduk berarti duduk. Apabila dalam ruku’nya ia melihat ulat tiba-tiba ia berdiri maka i’tidalnya itu tidak dianggap dan ia wajib memperpanjang i’tidalnya. Tapi perlu diingat bahwa memperpanjang i’tidal tanpa alasan apapun menurut sebagian ulama’ bisa dianggap batal sholatnya.

  5. Syarat dalam Sujud

    Sujud adalah merupakan rukun sholat bersama tuma’ninahnya. Posisi standar dalam sujud adalah dengan meletakkan tujuh anggotanya ke bumi yaitu dahi, dua telapak tangan, dua lutut dan dua kaki (jari-jarinya). Khusus bagi anggota sujud berupa dahi maka tidak diperkenankan tertutup dalam artian tidak nempel ke bumi walaupun itu satu helai rambut. Kalau misalkan sujudnya dengan mewakilkan hidungnya yang mancung atau dia sujud dengan menempelkan pelipisnya atau juga ia menempelkan penutup kepala maka sujudnya tidak cukup. Dan juga tidak cukup ia sujud pada sesuatu yang bergerak ketika ia bergerak. Apabila dalam dahinya ada luka dan kemudian diperban serta ia sujud dengan tertutup perban tersebut yang merupakan benda bergerak ketika bergerak, maka sujudnya dianggap cukup dan ia tidak perlu mengqodhoi sholatnya.

  6. Syarat dalam Duduk Diantara Dua Sujud

    Duduk diantara dua sujud adalah termasuk rukun sholat bersama tuma’ninahnya. Posisi standar duduknya adalah tegak dengan pantat yang disandarkan pada kaki yang nempel ke bumi. Kalau dalam istilahnya dinamakan duduk Iftirasy. Dan tidak dianggap duduk yang cuma posisi jari-jarinya nempel ke bumi.

  7. Syarat dalam Duduk Akhir, Tasyahud Akhir dan Membaca Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW di dalam Tasyahud Akhir

    Duduk yang mendampingi salam, tasyahud akhir dan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan rukun sholat. Pada saat tasyahud diwajibkan maka duduknya pun wajib, adapun wajibnya membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam tasyahud.

    Kewajiban membaca sholawat kepada Nabi Muhammad hanya ada dalam sholat, di luar sholat tidak wajib. Namun ada beberapa pendapat ulama’ dalam membaca sholawat di luar sholat, yaitu :

    – Membaca sholawat wajib cuma sekali dalam hidup

    – Membaca sholawat wajib dalam menghadiri setiap majlis

    – Membaca sholawat wajib setiap berdzikir

    – Membaca sholawat wajib pada awal do’a dan akhir do’a.

    Membaca sholawat kepada keluarga Nabi Muhammad tidaklah wajib tapi sunnah maka ketika meninggalkannya maka tidak membatalkan sholat.

  8. Syarat dalam Salam

    Salam yang pertama merupakan rukun dalam sholat. Adapun standarisasi dalam membaca salam adalah assalamu’alaikum maka tidak cukup membaca salam ‘alaikum atau salamulloh ‘alaikum atau assalamu’alaihim, jadi lafadz salam tidak boleh dirubah. Kalau Imam Roffi mengatakan boleh disamakan dengan yang ada dalam tasyahud.

    Apakah niat keluar dalam sholat itu wajib? Dalam hal ini ada 2 pendapat :

    1. Niat keluar dalam sholat bersamaan dengan salam itu wajib, dengan alasan bahwa salam adalah dzikir yang wajib dalam sholat, sebagaimana niat wajib bersamaan dengan takbirotul Ihrom sebagai tanda dimulainya sholat.

    2. Niat keluar dalan sholat tidak wajib, dengan alasan disamakan dengan ibadah yang lainnya. Salam tidak sama dengan takbirotul Ihrom karena takbirotul Ihrom merupakan perbuatan yang diharuskan bersamaan dengan niat.

    Dari kedua pendapat tersebut yang paling shohih adlaah pendapat kedua yang mengatakan bahwa niat keluar dalam sholat tidak wajib bahkan sampai ada yang mengatakan sholatnya batal, karena salam yang kedua belum dikatakan keluar dalam sholat.