Arsip untuk Maret, 2008

Waktu-waktu Sholat Wajib Lima Waktu

Posted in Fiqih on Maret 22, 2008 by riy4nti

Waktu-waktu Sholat Wajib Lima Waktu

Sholat lima waktu yang telah diwajibkan bagi setiap orang Islam yang sudah baligh dan berakal. Memiliki waktu-waktu tertentu untuk dilaksanakan, yaitu :

  1. Sholat Shubuh

    Sholat ini mulai dari terbitnya fajar shodiq (yaitu cahaya yang melintang antara barat dan timur) berakhir sampai dengan terbitnya matahari.

  2. Sholat Dhuhur

    Sholat ini mulai dari tergelincirnya matahari (bergeser dari waktu istiwa’) berakhir sampai dengan bayang-bayang suatu benda sama dengan benda tersebut.

  3. Sholat Ashar

    Sholat ini mulai berakhirnya waktu sholat dhuhur (saat bayang-bayang suatu benda melebihi benda tersebut) berakhir sampai dengan terbenamnya matahari.

  4. Sholat Maghrib

    Sholat ini mulai dari terbenamnya matahari berakhir sampai dengan hilangnya mega merah.

  5. Sholat Isya

    Sholat ini mulai dari hilangnya mega merah berakhir sampai dengan terbitnya fajar shodiq.

Waktu-waktu yang di Makruhkan Untuk Melaksanakan Sholat

Ada lima waktu yang tidak diperkenankan melakukan sholat bahkan sebagian Ulama diantaranya penulis kitab Al-Mabadi’ Al-Fiqhiyah (Bab II) mengatakan haram melakukan sholat kecuali sholat yang memiliki sebab. Kapan sajakah waktu itu? Yaitu :

  1. Setelah sholat shubuh dan berakhir sampai dengan terbitnya matahari.

  2. Ketika terbitnya matahari dan berakhir sampai dengan matahari naik dengan perkiraan seukuran satu tombak (masuk waktu sholat Dhuha).

  3. Ketika matahari berada di tengah-tengah langit (istiwa’) dengan sekiranya tidak ada bayang-bayang suatu benda dan berakhir sampai tergelincirnya matahari (bergesernya matahari ke barat dan munculnya bayangan ke arah timur).

  4. Setelah sholat ashar dan berakhir sampai terbenamnya matahari.

  5. Ketika terbenamnya matahari sampai dengan sempurna terbenamnya.

Catatan :

Waktu-waktu yang dimakruhkan dalam melakukan sholat yang tidak memiliki sebab ada lima, yang tiga berhubungan dengan waktunya, yaitu waktu terbitnya matahari sampai matahari mulai naik seukuran satu tombak, waktu istiwa’ sampai tergelincirnya matahari, dan waktu ketika matahari terbenam (tampak kuning) sampai sempurna terbenamnya. Adapun dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan Muslim dari Uqbah bin Amir RA, ia berkata :

Tiga waktu yang telah Rosulullah larang kepada kami untuk melakukan sholat dalam waktu tersebut atau mengubur orang-orang yang meninggal : ketika terbitnya matahari (tampak jelas) sampai matahari mulai naik, ketika orang berdiri (tidak nampak bayangan dirinya) dampai matahari tergelincir (mulai tampak bayangan sebelah timur), dan ketika matahari mulai condong untuk terbenam (merah kekuning-kuningan)”.

Adapun alasan dimakruhkannya tiga waktu itu untuk melakukan sholat, karena ada dalil Hadits Nabi yang diriwayatkan Asy-Syafi’i, yaitu :

Sesungguhnya bersamaan dengan terbitnya matahari terdapat tanduk setan, maka ketika matahari mulai naik maka hilang, ketika matahari istiwa’ terdapat setan yang bersamaan, ketika matahari mulai tergelincir maka menghilang, ketika matahari mulai mendekati terbenam maka terdapat setan, maka ketika matahari sudah sempurna tenggelam setan hilang”.

Yang dua yang terakhir berhubungan dengan perbuatan yaitu sholat shubuh atau sholat ashar, kalau kita melakukan sholat shubuh atau sholat ashar diawal waktu maka waktu makruh melalukan sholat setelah dua sholat tersebut menjadi panjang, tapi sebaliknya bila kita melakukan sholat shubuh atau sholat ashar diakhir waktu maka waktu makruhnya semakin pendek dan sempit. Dalil yang menerangkan hal tersebut adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Shohabat Abu Hurairah RA, yaitu :

Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang untuk melakukan sholat setelah sholat ashar sampai terbenamnya matahari dan melakukan sholat setelah sholat shubuh sampai terbitnya matahari”.

Adapun maksud ungkapan para Ulama tentang hal ini, apabila ada orang menjama’ taqdim (mengumpulkan dua sholat diwaktu sholat pertama) seperti mengumpulkan sholat dhuhur dna ashar dilakukan pada waktunya sholat dhuhur dengan alasan bepergian atau sakit atau hujan misalnya, maka waktu makruh untuk melakukan sholat setelah sholat ashar tetap berlaku seperti hukum semula.

Namun Imam Al-Bandayanji menjelaskan tentang hal ini yang dinukil dari sahabatnya yang ia ambil dari Imam Syafi’i, ya, menurut Imam Ammad bin Yunus bahwa melakukan sholat setelah sholat ashar ketika dijama’ taqdim itu tidak dimakruhkan. Ungkapan seperti ini pun diikuti oleh sebagian Ulama, namun menurut Imam Al-Asnai, hal ini tertolak dari Nash Imam Syafi’i.

Pelarangan sholat pada waktu-waktu tersebut itu mengecualikan waktu dan tempat, yaitu :

  • Waktu ketika Istiwa’ pada hari jum’at, diantara alasannya adalah bahwa pada waktu istiwa’ itu adalah waktu dimana rasa kantuk mulai menyerang hebat, maka untuk menolaknya adalah dianjurkan untuk sholat sunnahh agar wudhunya tidak menjadi batal.

  • Kalau tempat adalah Kota Makkah, jadi tidak ada kemakruhan sama sekali untuk melakukan sholat apapun atau kapan pun di Kota Makkah ini, alasannya adalah untuk mengagungkan dan menghormati kota ini. Tapi menurut qaul yang shahih bahwa kota Makkah itu maksudnya adalah tanah Haram (kota Makkah dan Madinah), ada qaul lain yang menyatakan hanya kota Makkah saja. Bahkan ada qaul lagi bahwa kota Makkahnya hanya di Masjidil Haramnya saja, jadi selainnya itu tidak meskipun termasuk kata Makkah.

Pelarangan sholat itu pun hanya berlaku bagi sholat-sholat yang tidak memiliki sebab, jadi kalau memang sholat tersebut memiliki sebab maka sama sekali tidak ada pelarangan (makruh) dan sebabnya terletak di awal atau bersamaan, seperti :

  • Mengqodhoi sholat wajib yang tertinggal

  • Melakukan sholat sunnah yang dijadikan kebiasaan (wirid)

  • Sholat Jenazah, Sujud Tilawah, Sujud Syukur

  • Sholat gerhana matahari atau rembulan

  • Sholat Istisqo’ (sholat minta hujan) manurut qaul Ashoh.

Namun ada beberapa sholat yang memiliki sebab tapi tetap dimakruhkan sholat, seperti :

  • Sholat Istikhoroh (minta kepada Alloh supaya dimantapkan memilih salah satu dari 2 hal yang sama-sama dianggap baik), dengan alasan bahwa sebabnya terletak di akhir.

  • Sholat dua rokaat Ihram (menurut qaul Ashoh), dengan alasan bahwa sebabnya terletak di akhir.

Adapun mengenai sholat tahiyatul masjid (penghormatan pada masjid), apabila masuk masjidnya karena ada tujuan seperti i’tikaf atau belajar atau juga menunggu sholat maka tidak dimakruhkan, dengan alasan sebabnya adalah bersamaan, tapi apabila masuk masjidnya bukan karena tujuan apapun, maka dalam kitab Raudhoh dan syarahnya tergolong makruh.

Iklan