Perbedaan Laki-laki dan Perempuan Dalam Sholat


Perbedaan laki-laki dan perempuan tidak hanya dalam tindakan sehari-hari saja, tapi dalam ibadah sholat pun tindakan kedua insan ini berbeda. Sehingga tindakan rukun sholat tidak seluruhnya sama antara laki-laki dan perempuan. Keadaan seperti ini tidak mengurangi pahala sholat antara keduanya.

Adapun ketentuan tindakan dalam sholat tersebut adalah :

  1. Ketentuan tindakan sholat bagi laki-laki

    Ketentuan tindakan sholat bagi laki-laki yang berbeda dengan tindakan sholat bagi perempuan terletak pada 4 hal, yaitu :

    - Bagi laki-laki dalam melaksanakan tindakan sholat yang berupa sujud itu memiliki ketentuan sehingga antara siku dan sisi tubuh itu tidak saling menempel.

    - Bagi laki-laki dalam melaksanakan sujud dan ruku’ diharapkan mengangkat perut di atas posisi pahanya. Dan didalam ruku’ juga laki-laki diharapkan untuk meratakan punggung dan lehernya dengan merenggangkan kedua tangannya dilutut seolah-olah jika ditaruh sebuah air dalam gelas, maka tidak akan tumpah. Dan betisnya pun diharapkan rata dan jangan sekali-kali mendongakkan kepala ketika melakukan sujud dan ruku’, karena hal itu sama halnya anjing.

    Sebagaimana dalam riwayat Siti ‘Aisyah :

    Bahwasanya Rasululloh SAW melakukan hal tersebut, adapun bagi perempuan hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Karena hal itu lebih dapat menutupi, sementara bagi laki-laki hendaknya menjauhkan (merenggangkan) kedua sikunya dari dua sisi tubuh ketika waktu sujud. Dalam Shohih Bukhori dan Muslim disebutkan bahwasanya Rasululloh ketika melakukan sujud merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih-putih kedua ketiaknya.”

    - Bagi laki-laki diharapkan untuk mengeraskan suaranya dalam setiap bacaan sholat yang memang dikeraskan (sholat maghrib, isya’, shubuh) baik ada dihadapan makmum perempuan maupun tidak.

    - Bagi laki-laki diharapkan untuk mengucapkan tasbih ketika imam melakukan kesalahan dalam sholat karena lupa sebagai bentuk peringatan, atau pemberitahuan kepada imam dengan niat berdzikir atau dengan niat berdzikir beserta memberitahu imam, tapi kalau hanya berniat memberitahu imam saja maka sholatnya bisa dianggap batal, karena mengucapkan lebih dari dua huruf. Sebagaimana dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim :

    Barang siapa yang melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca tasbih karena ketika seseorang itu bertasbih maka ia diingatkan, sementara bertepuk tangan adalah untuk perempuan. Dalam riwayat Bukhori disebutkan bahwa arang siapa melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca Subhanallah”

  2. Ketentuan tindakan sholat bagi perempuan

    Ketentuan tindakan sholat bagi perempuan yang berbeda dengan tindakan sholat laki-laki terletak pada 4 hal juga, yaitu :

    - Bagi perempuan dalam melaksanakan tindakan sholat yang berupa yang berupa sujud itu memiliki ketentuan bahwa siku kedua tangannya diharapkan dikumpulkan (nempel) dengan kedua sisi tubuh (lambung), sehingga antara siku dan sisi tubuh itu tidak saling merenggang dan menjauh.

    - Bagi perempuan dalam melaksanakan sujud dan ruku’ diharapkan tidak mengangkat perut di atas posisi pahanya. Dan didalam ruku’ juga perempuan diharapkan untuk meratakan punggung dan lehernya serta merapatkan kedua tangannya, kaki aak rapat. Dan betisnya pun diharapkan rata, dan jangan sekali-kali mendongakkan kepala ketika melakukan sujud dna ruku’ karena hal itu sama halnya anjing. Sebagaimana dalam riwayat Siti ‘Aisyah :

    Bahwasanya Rasululloh SAW melakukan hal tersebut, adapun bagi perempuan hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Karena hal itu lebih dapat menutupi, sementara bagi laki-laki hendaknya menjauhkan (merenggangkan) kedua sikunya dari dua sisi tubuh ketika waktu sujud. Dalam Shohih Bukhori dan Muslim disebutkan bahwasanya Rasululloh ketika melakukan sujud merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih-putih kedua ketiaknya.

    - Bagi perempuan diharapkan untuk tidak mengeraskan suaranya dalam setiap bacaan sholat yang memang dikeraskan (sholat maghrib, isya’, shubuh) dihadapan laki-laki lain, kalau misalkan sholat sendirian dan tidak ada laki-laki lain maka tidaklah mengapa untuk mengeraskan suaranya. Karena ada sebagian ulama’ yang mengatakan bahwa suara perempuan adlaah merupakan aurat.

    - Bagi perempuan diharapkan untuk bertepuk tangan dengan cara telapak tangan kanan memukul pada punggung tangan kiri (kalau tidak maka itu dianggap main-main dan dapat membatalkan sholat) ketika imam melakukan kesalahan dalam sholat karena lupa sebagai bentuk peringatan, atau pemberitahuan kepada imam. Sebagaimana dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim :

    Barang siapa yang melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca tasbih karena ketika seseorang itu bertasbih maka ia diingatkan, sementara bertepuk tangan adalah untuk perempuan. Dalam riwayat Bukhori disebutkan bahwa arang siapa melakukan suatu kesalahan dalam sholat maka hendaklah membaca Subhanallah

Catatan :

Apabila seorang laki-laki melakukan tepuk tangan sedangkan perempuan mengucapkan tasbih maka tidaklah mengapa, akan tetapi hal ini menyalahi sunnah. Begitu juga bagi perempuan yang melakukan tepuk tangan dengan berkali-kali maka dianggap tidak mengapa dalam artian tidak sampai membatalkan sholat (Kalau mau bertepuk tangan maka harus sudah melakukan rukun).

About these ads

6 Tanggapan to “Perbedaan Laki-laki dan Perempuan Dalam Sholat”

  1. TAMBAHAN TENTANG SUJUD WANITA

    Tulisan anda yaitu :
    “Bahwasanya Rasululloh SAW melakukan hal tersebut, adapun bagi perempuan hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Karena hal itu lebih dapat menutupi, sementara bagi laki-laki hendaknya menjauhkan (merenggangkan) kedua sikunya dari dua sisi tubuh ketika waktu sujud.”

    INI BUKANLAH HADITS. TIDAK ADA SATUPUN KITAB HADITS YANG MEMUAT MATAN SEPERTI INI.
    MAKA HENDAKNYA ANDA HAPUS INI DARI BLOG ANDA.
    JANGAN SAMPAI ANDA DIKATAKAN SEBAGAI SESEORANG YANG BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH DAN BERSIAP MENEMPATI TEMPAT DUDUK DARI API NERAKA!!!

    Bahkan di dalam Kitab Al-Umm sekalipun, Imam Asy-Syafii berijtihad di dalam masalah ini dengan tanpa memakai dalil atau hadits Nabi. Sekiranya hadits itu memang ada, pastilah Imam Syafii akan membawakannya.

    Bagaimanakah Cara Sujud Untuk Wanita?

    Cara sujud para wanita adalah sebagaimana cara sujud Rasulullah berdasarkan keumuman hadits : “Shalatlah sebagaimana aku shalat”.

    Ibrahim an Nakha’i mengatakan bahwa ”Sholat wanita itu adalah sama sebagaimana kaum laki-laki” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Shaibah (1/75/2) dengan sanad yang shahih)

    Imam Bukhari juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ummu Darda,” bahwa ia duduk didalam sholat sebagaimana duduknya kaum laki-laki dan ia adalah wanita yang paham masalah agama”

    Mengingat kebanyakan orang menyandarkan kepada Imam Syafi’i dan pengikutnya di dalam masalah sujud wanita yang merapatkan tubuhnya ke lengannya, maka saya ada tambahan dari Imam Asy-Syafi’i di kitab Al-Umm Bab باب التجافي في السجود

    Beliau- Imam Syafi’i – mengatakan bahwa:
    1. Cara bersujud yang benar adalah sebagaimana Rasulullah yaitu dengan merenggangkan lengannya dan mengangkat badannya dan perutnya, dll.
    2. Ttg wanita, beliau mengatakan bahwa Allah dan Rasulnya telah mengajarkan adab bagi wanita yaitu untuk menutupi dirinya. Maka dari itu adalah beliau sukai bilamana wanita merapatkan lengannya ke tubuhnya sehingga tertutup semaksimal mungkin bagian dan bentuk tubuhnya. Termasuk menempelkan dengan kedua pahanya. ( ini adalah ijithad beliau – tanpa dalil pasti).
    3. Ttg wanita, beliau juga mengatakan bahwa beliau lebih menyukai apabila di dalam sujud, seorang wanita itu memegang jilbabnya dan merentangkannya dengan tangannya dan mengangkat sikunya (sebagaimana Rasulullah) sehingga tertutuplah auratnya dan jilbabnya tidak membentuk tubuhnya.

    Kemudian Imam Asy-Syafi’i mengatakan bahwa kedua cara sujud tersebut bagi para wanita adalah merupakan pilihan (alternatif) yang bisa dipilih oleh para wanita. Yang terpenting adalah bagaimana agar wanita itu tertutup aurat dan badannya dan tidak tersingkap.

    Jadi lihatlah bahwa Imam Asy-Syafi’i tidak se – kaku – yang mereka kira, sehingga menyalahkan wanita yang bersujud seperti Rasulullah. Bahkan Imam Asy-Syafii justru menyukai bila para wanita meniru sujud Rasulullah dengan merentangkan lengannya asal tetap tertutup dengan jilbabnya. Dan tentu saja Jilbab di zaman beliau itu besar-besar. Dan ini bisa dipahami dari perkataan beliau tersebut dengan pernyataan: merentangkan jilbabnya agar tertutup tubuhnya. Jelas ini bukan jilbab pendek!!!

    Berikut saya bawakan kutipannya dari Kitab al-Umm pada Bab tersebut:

    ‏[‏قَالَ الشَّافِعِيُّ‏]‏ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى‏:‏ رَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلٍ عَنْ أَبِي حُمَيْدِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ ‏(‏أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ إذَا سَجَدَ جَافَى بَيْنَ يَدَيْهِ‏)‏ وَرَوَى صَالِحٌ مَوْلَى التَّوْأَمَةِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ‏(‏أَنْ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ إذَا سَجَدَ يُرَى بَيَاضُ إبْطَيْهِ مِمَّا يُجَافِي بَدَنَهُ‏)‏ أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ دَاوُد بْنِ قَيْسِ الْفَرَّاءِ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَقْرَمَ الْخُزَاعِيِّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ ‏(‏رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- بِالْقَاعِ مِنْ نَمِرَةَ، أَوْ النَّمِرَةِ شَكَّ الرَّبِيعُ سَاجِدًا فَرَأَيْت بَيَاضَ إبْطَيْهِ‏)‏‏.‏

    [‏قَالَ الشَّافِعِيُّ‏]‏‏:‏ وَهَكَذَا أُحِبُّ لِلسَّاجِدِ أَنْ يَكُونَ مُتَخَوِّيًا وَالتَّخْوِيَةُ أَنْ يَرْفَعَ صَدْرَهُ عَنْ فَخِذَيْهِ وَأَنْ يُجَافِي مِرْفَقَيْهِ وَذِرَاعَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ حَتَّى إذَا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ مَا يَسْتُرُ تَحْتَ مَنْكِبَيْهِ رَأَيْت عُفْرَةَ إبْطَيْهِ وَلاَ يُلْصِقُ إحْدَى رُكْبَتَيْهِ بِالْأُخْرَى وَيُجَافِي رِجْلَيْهِ وَيَرْفَعُ ظَهْرَهُ وَلاَ يَحْدَوْدِبُ وَلَكِنَّهُ يَرْفَعُهُ كَمَا وَصَفْت غَيْرَ أَنْ يَعْمِدَ رَفْعَ وَسَطِهِ عَنْ أَسْفَلِهِ وَأَعْلاَهُ‏.‏

    [‏قَالَ الشَّافِعِيُّ‏]‏‏:‏ وَقَدْ أَدَّبَ اللَّهُ تَعَالَى النِّسَاءَ بِالِاسْتِتَارِ وَأَدَّبَهُنَّ بِذَلِكَ رَسُولُهُ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَأُحِبُّ لِلْمَرْأَةِ فِي السُّجُودِ أَنْ تَضُمَّ بَعْضَهَا إلَى بَعْضٍ وَتُلْصِقَ بَطْنَهَا بِفَخِذَيْهَا وَتَسْجُدَ كَأَسْتَرِ مَا يَكُونُ لَهَا وَهَكَذَا أُحِبُّ لَهَا فِي الرُّكُوعِ وَالْجُلُوسِ وَجَمِيعِ الصَّلاَةِ أَنْ تَكُونَ فِيهَا كَأَسْتَرِ مَا يَكُونُ لَهَا وَأُحِبُّ أَنْ تَكْفِتَ جِلْبَابَهَا وَتُجَافِيَهُ رَاكِعَةً وَسَاجِدَةً عَلَيْهَا لِئَلَّا تَصِفَهَا ثِيَابُهَا‏.‏
    ‏[‏قَالَ الشَّافِعِيُّ‏]‏‏:‏ فَكُلُّ مَا وَصَفْت اخْتِيَارٌ لَهُمَا كَيْفَمَا جَاءَا مَعًا بِالسُّجُودِ وَالرُّكُوعِ أَجْزَأَهُمَا إذَا لَمْ يُكْشَفْ شَيْءٌ مِنْهُمَا‏.

  2. Sebelumnya terima kasih atas pendapat yang anda berikan atas tulisan ini.
    Menurut pendapat Q gini,
    Ada atsar dan hadits, dimana atsar adalah hadits yang diceritakan sahabat oleh kata-katanya sama halnya dengan hadits qudsi yaitu dari Alloh dengan kata-kata Nabi.
    Hadits itu kan diriwayatkan oleh Siti ‘Aisyah dimana Rosululloh melakukan hal tersebut, untuk yang perempuan itu hadits nabi yang qouly. Jadi atsar sahabat bisa meriwayatkan hadits fi’ly, qouly bahkan taqriri sekaligus. Sebagian Ulama’ tidak membedakan antara atsar dengan hadits karena itu bukan ijtihad sahabat.
    Keterangan tulisan di atas tersebut diambil dari kitab KIfayatul Akhyar, untuk lebih jelasnya bisa dibaca di kitab tersebut, yang tu kan tergantung mushonifnya, masa harus dicantumkan mungkin mandangnya ga perlu tercantum. Makanya kitab itu saling melengkapi.

  3. Tulisan Anda :
    “…adapun bagi perempuan hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Karena hal itu lebih dapat menutupi….”

    SEKALI LAGI saya katakan : Bahwa ini bukanlah hadits ataupun atsar shahabat atau perkataan ‘Aisyah.
    Ini adalah perkataan penulis Kifayatul Ahyar (كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار) ketika menukil penjelasan Imam Asy-Syafii di dalam kitab Al-Umm. Adalah lebih baik bagi anda membuka kitab Kifayatul Ahyar itu bersama syarah atau tahqiqnya maka akan anda dapati bahwa itu bukanlah hadits atau atsar shahabat.

    Perlu anda ketahui bahwa biasanya penulis Kifayatul Ahyar, jika membawakan sebuah hadits atau atsar dengan kutipan langsung maka ia akan meletakkan kurung buka di awal kutipan dan kurung tutup di akhir kutipan serta ditambahkan olehnya ulama hadits yang mengeluarkan hadits atau atsar tersebut seperti Abu Dawud, Bukhari, Baihaqi dst. Demikian pula pada syarh dan tahqiqnya pastilah disertakan dan dijelaskan derajad hadits dan siapa yang mengeluarkannya. Namun untuk kasus ini tidak demikian.

    Maka sebaiknya anda perhatikan lagi dengan cermat tulisan itu di Kitab Kifayatul Ahyar. Berikut kutipan tersebut :
    “. . . Berkata Imam Asy-Syafi’i . . . dan disukai (disunnahkan) untuk merenggangkan (mengangkat) kedua sikunya menjauhi sisi tubunya (lambungnya), karena Aisyah radhiayallauanha meriwayatkan: bahwasanya demikianlah Alaihi as-sholatu wa as-salamu (maksudnya Nabi s.a.w) melakukannya, adapun bagi wanita hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain karena hal itu lebih dapat menutupi, sementara bagi laki-laki hendaknya menjauhkan (merenggangkan) kedua sikunya dari dua sisi tubuh ketika waktu sujud. Dan di dalam Shohihain : {“bahwanya alaihi as-sholatu wa as-salamu ketika melakukan sujud merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih-putih kedua ketiaknya”} . Dan disukai pula. . .” Sekian kutipan Kifayatul Ahyar.

    Itulah isi tulisan yang kita bahas. Jadi tulisan itu adalah nukilan penulis Kifayatul Ahyar dan bukan hadits atau atsar shahabat di bawah nukilan pendapat Imam Asy-Syafii, maka dari itu Imam Asy-Syafii pun tidak membawakan hadits atau atsar shahabat karena memang tidak ada. Dan dia berijtihad dengan adab wanita sebagaimana tulisannya di Al-Umm yang kemudian dikutip pula oleh penulis Kifayatul Ahyar.

    Jika anda masih kurang yakin, bukalah Kitab-kitab Sunan / Kutubus Sittah, Musnad Imam Ahmad, Fathul Bari syarh Shahih Bukhari, Shahih Muslim atau Al-Umm, Al-Muwattha’, Al-Kahfi, maka niscaya tidak akan pernah anda dapati hadits atau atsar shahabat seperti yang anda maksud.

    Mengapa saya perlu sampaikan ini? Karena tulisan tersebut adalah suatu kekeliruan dan kesalahpahaman. Bagaimana mungkin sebuah ijtihad ulama besar Imam Asy-Syafii kemudian disalah artikan sebagai hadits atau atsar shahabat? Ini berbahaya.
    Terlebih lagi tulisan serupa sama persis seperti ini (copy-paste) tidak hanya di blog anda tetapi juga di blog-blog lain yang saya jadi susah membedakan mana yang tulisan aslinya.

    Untuk melengkapinya berikut saya bawakan naskah asli Kifayatul Ahyar terkait masalah ini :

    (فصل): والمرأة تخالف الرجل في أربعة أشياء، فالرجل يجافي مرفقيه عن جنبيه، ويقل بطنه عن فخذيه في السجود والركوع، ويجهر في موضع الجهر، وإذا نابه شيء في صلاته سبح). يستحب للراكع أولاً أن يمد ظهره وعنقة لأنه صلى الله عليه وسلم كان يمد ظهره وعنقه حتى لو صب على ظهره ماء لركد. قال الشافعي: ويجعل رأسه وعنقه حيال ظهره، ولا يعل ظهره محدودباً ويستحب نصب ساقيه، ويكره أن يطأطىء رأسه لأنه دلح الحمار، كما ورد في الخبر المنهي عنه، ويستحب أن يجافي مرفقيه عن جنبيه. لأن عائشة رضي الله عنها روت: أنه عليه الصلاة والسلام كان يفعله، والمرأة تضم بعضها إلى بعض لأنه أستر لها، والمستحب للرجل أن يباعد مرفقيه عن جنبيه في سجوده، ففي الصحيحين {أنه عليه الصلاة والسلام كان إذا سجد فرج بين يديه حتى يرى بياض إبطيه}، ويستحب أيضاً

    That’s all

  4. Adapun bagi saya, lebih memilih sebagaimana pernyataan Imam Asy-Syafi’i pada salah satu pendapatnya, yaitu pendapat yang kedua di mana beliau mengatakan:
    . . . aku lebih menyukai apabila di dalam sujud, seorang wanita itu memegang jilbabnya dan merentangkannya dengan tangannya dan mengangkat sikunya (sebagaimana Rasulullah) sehingga tertutuplah auratnya dan jilbabnya tidak membentuk tubuhnya.”

    Kenapa? Karena pendapat Imam Asy-Syafii yang kedua ini adalah lebih lebih selamat dan menenangkan dari tiga sisi :
    1. Meneladani cara sujud Rasulullah s.a.w
    2. Menjalankan perintah : “Shollu kama roaitumunii usholli”
    3. Dengan jilbab yang besar (atau seperti : mukena, rukuh dst) aurat akan tertutup rapat dan tidak membentuk tubuhnya.
    Lalu bagaimana bila ia mengenakan jilbab pendek dan tidak ada mukena atau rukuh? Jawabnya adalah kembali kepada illat/sebab. Imam Asy-Syafii memutuskan pendapat pertama (merapatkan siku dst utk sujud wanita) adalah karena pada dasarnya wanita itu tertutup dan kita tahu dalam sebagian besar pendapat madzhab Syafii, muka / wajah wanita adalah termasuk aurat yang wajib ditutup.
    Maka dari itu, jika tempat si wanita itu sholat adalah aman dari pandangan laki-laki maka hendaknya ia kembali kepada keumuman hadits Nabi yaitu sebagaimana Nabi sujud.
    Sebaliknya bila tidak aman, maka ia masuk kepada pendapat yang kedua, yaitu menutup auratnya serapat mungkin. Wallahu ‘alam.

    Ironisnya, saat ini justru di luar sholat, para wanita memamerkan auratnya, merentangkan dan mengangkat sikunya di hadapan laki-laki bahkan memperlihatkan ketiaknya, rambutnya, betismya bahkan berpakaian seperti pakaian laki-laki.
    Mereka juga mengangkat suaranya, mendayu-dayu padahal di dalam sholat mereka diperintahkan menepukkan telapak tangan kanan bagian dalam di atas punggung telapak tangan kiri dan tidak diperintahkan berucap subhanallah jika imam salah.
    Maka di manakah adab kalian, wahai para wanita?
    Kalian tidak bercermin kepada Ummahatul Mukminin, maka wanita manakah yang kalian teladani?
    (agar blog anda tidak penuh dan rapi, tanggapan bisa dikirim via email)

  5. Maaf ada kesalahan pada tanggapan terakhir. Di situ tertulis:
    “Sebaliknya bila tidak aman, maka ia masuk kepada pendapat yang kedua , yaitu menutup auratnya serapat mungkin. Wallahu ‘alam.”
    SEHARUSNYA:
    “Sebaliknya bila tidak aman, maka ia masuk kepada pendapat yang PERTAMA , yaitu menutup auratnya serapat mungkin. Wallahu ‘alam.”

    Demikian. Syukron.

  6. Eh, ada tambahan lagi nich…

    Anda meletakkan tulisan ini :

    “Bahwasanya Rasululloh SAW melakukan hal tersebut, adapun bagi perempuan hendaknya mengumpulkan (tidak merenggangkan) anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Karena hal itu lebih dapat menutupi, sementara bagi laki-laki hendaknya menjauhkan (merenggangkan) kedua sikunya dari dua sisi tubuh ketika waktu sujud. Dalam Shohih Bukhori dan Muslim disebutkan bahwasanya Rasululloh ketika melakukan sujud merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih-putih kedua ketiaknya.”

    Di bawah perkataan Aisyah r.a.:
    “Sebagaimana dalam riwayat Siti ‘Aisyah :

    dalam bentuk paragraf tersendiri dengan huruf italic dan tanda petik buka di awal kalimat dan tanda petik tutup di akhir kalimat.
    Pertanyaannya:
    Jadi semua paragraf itu dan huruf yang italic disertai tanda petik buka tutup adalah perkataan Siti Aisyah. 1. Maka bagaimana mungkin Siti Aisyah menyebut : “Dalam Shohih Bukhori dan Muslim disebutkan bahwasanya…” ? Khan kedua Imam itu belum lahir?!! Masak Siti Aisyah bisa menyebutkannya??!!
    2. Di kitab aslinya Kifayatul Akhyar tertulis : Di dalam Shahihain (ففي الصحيحين ) tapi anda tulis :”Dalam Shohih Bukhori dan Muslim” ??!!
    Walau maksudnya sama, tapi harusnya jika menterjemahkan janganlah merubah redaksi aslinya. Cukup beri tanda kurung buka tutup.

    OK!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: