SHOLAT QOSHOR DAN SHOLAT JAMA’


  1. Sholat Qoshor

    Sholat Qoshor adalah sholat yang diringkas diantara sholat fardhu yang lima, yang mestinya dilakukan empat roka’at menjadi dua roka’at saja. Dengan demikian yang bisa diqoshor dari kelima sholat fardhu adalah hanya dhuhur, ashar dan isya’ sedangkan maghrib dan shubuh tidka bisa diqoshor, tetap dilakukan sempurna roka’atnya.

    Hukum sholat qoshor adalah boleh, bahkan lebih baik dilakukan bagi orang yang dalam perjalanan dengan memenuhi syarat-syaratnya. Sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 101 :

    Apabila kamu berjalan di muka bumi, maka tidak ada halangan bagi kamu mengqoshor (meringkas) sholat jika kamu takut dibinasakan oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kamu yang nyata”

    Dalam Hadits juga disebutkan :

    Telah bercerita Ya’la bin Umaiyah : “ saya telah berkata kepada Umar, Alloh berfirman “jika kamu takut”, sedangkan sekarang telah aman (tidka takut lagi), Umar menjawab, saya heran juga sebagai engkau, maka saya tanyakan kepada Rosululloh, dan Beliau menjawab : Sholat Qoshor itu sedekah yang diberikan Alloh kepada kamu, maka terimalah olehmu sedeah-Nya (pemberian-Nya)” (HR. Muslim)

    Dalam Hadits lain juga disebutkan :

    Dari Ibnu Mas’ud Ra berkata : Saya sholat bersama Nabi dua roka’at dua roka’at, sholat bersama Abu Bakar dua roka’at dua roka’at”.

    Ibnu Umar Ra berkata : Saya bepergian bersama Nabi, Abu Bakar, Umar. Mereka melaksanakan sholat dhuhur dan ashar dengan dua roka’at dua roka’at”.

    Syarat Sah Sholat Qoshor :

    a. Perjalanan yang dilakukan itu bukan maksiat (terlarang), adakalanya perjalanan wajib seperti pergi untuk melaksanakan haji atau perjalanan sunnah seperti pergi untuk bersilaturrahim, ziarah, atau juga perjalanan mubah seperti pergi untuk berdagang.

    b. Perjalanan itu berjarak jauh, yaitu terhitung kurang lebih sekitar 80,640 km atau lebih (perjalanan sehari semalam). Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa tidak disyaratkan perjalanan jauh, yang penting dalam perjalanan jauh ataupun dekat. Sebagaimana dalam hadits disebutkan :

    Dari Syu’bah, katanya : saya telah bertanya kepada Anas tentang mengqoshor sholat. Jawabannya : “Rosululloh SAW, apabila beliau berjalan tiga mil (80,640 km) atau tiga farsakh (kira-kira 25,92 km), beliau sholat dua roka’at” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)”.

    c. Sholat yang diqoshor adalah sholat yang adaan (tunai), bukan sholat qodho’. Adapun sholat yang ketinggalan diwaktu perjalanan boleh diqhosor kalau memang diqodho dalam perjalanan, tetapi sholat yang ketinggalan sewaktu mukim tidak boleh diqodho dengan qoshor sewaktu dalam perjalanan.

    d. Berniat qoshor ketika takbirotul ihram.

    e. Berniat sholat qoshor ketika berada di luar dari desanya.

  2. Sholat Jama’

    Hukum sholat jama’ ini diperkenankan bagi orang yang dalam perjalanan dengan syarat-syarat yang tersebut pada sholat qoshor.

    Sholat yang boleh dijama’ hanya antara dhuhur dengan ashar dan antara maghrib dengan isya’, adapun sholat shubuh tetap wajib dikerjakan pada waktu dan tanpa dikumpulkan dengan sholat yang lain.

    Sholat jama’ artinya sholat yang dikumpulkan. Yang dimaksudkan adalah dua sholat fardhu yang lima itu dikerjakan dalam satu waktu, umpamanya sholat dhuhur dan ashar dikerjakan diwaktu dhuhur atau diwaktu ashar.

    Sholat Jama’ ini terbagi atas dua macam dilihat dari pelaksanaan pengumpulan sholat tersebut.

    a. Sholat Jama’ Taqdim

    Jama’ taqdim adalah mengumpulkan dalam satu antara sholat dhuhur dengan ashar dilakukan pada waktu dhuhur (waktu sholat yang pertama), dan mengumpulkan dalam satu waktu antara sholat maghrib dan isya’ dilakukan pada waktu maghrib (waktu sholat yang pertama). Sebagaimana hadits Nabi :

    Dari Mu’adz bin Jabal Ra berkata : kami keluar bersama Nabi SAW dalam perang Ghozwah (perang yang dihadiri oleh Nabi), maka ketika itu Nabi SAW mengumpulkan sholat dhuhur dengan sholat ashar serta sholat maghrib dengan sholat isya’…”

    Adapun syarat jama’ taqdim ada 3 macam, yaitu :

    1. Diharuskan untuk mengerjakan sholat yang pertama, yaitu seperti mengumpulkan sholat dhuhur dan ashar dilakukan pada diwaktu dhuhur dengan cara mendahulukan sholat dhuhur daripada sholat ashar. Karena waktu tersebut adalah milik sholat yang pertama.

    2. Berniat jama’ pada takbirotul ihram sholat yang pertama atau ditengah-tengah sholat pertama (menurut qoul Adzhar). Jadi tidak diperkenankan berniat jama’ setelah salam sholat yang pertama.

    3. Kedua sholat yang dikumpulkan tersebut harus terus menerus (tidak dipisah), seolah-olah satu rangkaian sholat. Jadi begitu selesai selesai melakukan sholat yang pertama segera melakukan sholat yang kedua. Kalau sampai terpisah yang dianggap lama maka bisa dianggap tidak sah sholat jama’nya.

    b. Sholat Jama’ Ta’khir

    Jama’ Ta’khir adalah mengumpulkan dalam satu antara sholat dhuhur dengan ashar dilakukan pada waktu ashar (waktu sholat yang kedua), dan mengumpulkan dalam satu waktu antara sholat maghrib dan isya’ dilakukan pada waktu isya’ (waktu sholat yang kedua). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

    Dari Anas, ia berkata : “Rosululloh SAW apabila berangkat dalam perjalanan sebelum tergelincir matahari, maka beliau ta’khirkan sholat dhuhur ke waktu ashar, kemudian beliau turun (berhenti) untuk menjama’ keduanya (dhuhur dan ashar). Jika telah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, maka beliau sholat dhuhur dahulu kemudian baru beliau naik kendaraan” (HR. Bukhori dan Muslim)

    Dari Mu’adz : “bahwasanya Nabi SAW dalam peperangan tabuk, apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau ta’khirkan dhuhur hingga beliau sholat untuk keduanya (dhuhur dan ashar diwaktu ashar) dan apabila beliau berangkat sesudah tergelincir matahari, beliau kerjakan sholat dhuhur dan ashar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Apabila beliau berjalan sebelum maghrib, beliau ta’khirkan maghrib hingga beliau lakukan sholat maghrib beserta isya’, dan apabila beliau berangkat sesudah waktu maghrib beliau segerakan isya’, dan beliau sholatnya isya’ beserta maghrib” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

    Adapun Syarat Jama’ Ta’khir :

    1. Berniat di waktu sholat yang pertama bahwa ia akan melaksanakan sholat yang pertama itu diwaktu sholat yang kedua, supaya ada maksud yang keras akan melaksanakan sholat yang pertama itu di waktu yang kedua dan tidak ditinggalkan begitu saja.

    2. Tidak disyaratkan dalam pelaksanaan harus berurutan, dalam artian misalkan yang dijama’ ta’khir itu adalah sholat dhuhur dan ashar, maka bebas melaksanakannya apakah yang didahulukan sholat ashar ataukah sholat dhuhur dulu (dalam waktu luang), kalau waktunya mendekati pergantian sholat maka yang didahulukan adalah sholat yang mempunyai waktu itu.

    3. Menurut qoul tidak usah niat jama’ ketika dalam melaksanakan sholat karena sudah diniati.

    4. Tidak wajib untuk berturut-turut atau menyambung, jadi setelah melaksanakan satu sholat tidak disyaratkan untuk melaksanakan sholat kedua.

    Boleh pula melaksanakan sholat jama’ bagi orang yang menetap (tidak dalam perjalanan) dikarenakan hujan yang amat deras dengan beberapa syarat yang berlaku sama dengan syarat jama’ dalam waktu perjalanan. Namun ada beberapa syarat tambahan yang harus dipenuhi, yaitu :

    1. Disyaratkan hujannya berada diwaktu sholat yang pertama dan diawal sholat yang kedua.

    2. Sholat yang kedua itu berjamaah ditempat yang jauh dari rumahnya, serta ia mendapatkan kesukaran untuk pergi ke tempet itu karena hujan. (Bagi orang yang terbiasa sholat berjama’ah).

    3. Kondisi hujan dianggap deras ketika melakukan salam sholat yang pertama menurut qoul shohih. (Sholat jama’ taqdim).

    4. Disyaratkan hujan tersebut dapat membuat pakaiannya basah kuyup begitu juga sandalnya.

    Dan perlu diketahui pula bahwa sholat dhuhur pada hari jum’at diganti dengan sholat jum’at, maka dari itu hukum yang berlaku bagi sholat dhuhur yaitu boleh dijama’ baik taqdim ataupun ta’khir, berlaku pula bagi sholat jum’at. Dengan demikian sholat jum’at boleh dijama’ beserta sholat ashar.

About these ads

8 Tanggapan to “SHOLAT QOSHOR DAN SHOLAT JAMA’”

  1. Salam kenal ya….
    terima kasih banyak dengan isi blognya. sangat membantu sekali memahami sholat secara lebih baik. terutama cara jama’ dan qoshor

  2. Alhamdulillah penjelasan nya cukup baik dan bisa dipahami

  3. Iman Atqiyya Berkata

    Sungguh saya merasa senang dengan adanya penjelasan tentang sholat, khususnya jama’ dan qoshor. Tapi ada hal yang bagi saya kurang sependapat teantang jarak bolehnya seseorang sholat diqoshor. yang saya pernah baca, ketika Rosululloh saw akan berangkat ke Mekah, pada saat baru berjarak sekitar 6 KM (di Dzulhulaifah/Bi’ru Ali), beliau sudah di qoshor solatnya. Apakah ini bukan sebagai batasan minimal?
    Menurut saya bolehnya seseorang sholat di qoshor adalah saat seseorang “musafir” bukan “mukimin”. sedangkan yg disebut musafir adalah saat seseorang keluar dari rumah sampai sebelum kembali lagi ke rumahnya itu disebut musafir.
    Mengingat tidak ada yg pasti tentang batas minimal jarak dan waktu tempuh, maka hal itu “yurja’u ilal ‘urfi”/dikembalikan kepada adat kebiasaan.
    Semoga dapat jadi sumbangsih pemikiran.
    Jazakumulloh

    Wassalam,

    Iman Atqiyya

  4. Noor Syamsul Berkata

    saya pernah dengar bahwa pada mahzab itu ada yang berbeda menghukumi untuk pelaksanaan Qoshor dan jamak, bisakah dibantu untuk tiap-tiap pendapat mahzab yang berkaitan dengan ibadah dimaksud
    tks, salam Noors Jkt 18/3/2011

  5. marhalim Berkata

    tolong dimuat juga bacaan lapaz/atau niatnya,tks

  6. niatnya mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: